Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Kenapa Waktu Terasa Semakin Cepat Saat Dewasa

Auliya Nur'Aini Khafadzoh • Selasa, 7 Oktober 2025 | 03:19 WIB

 

Waktu tidak berlari. Kitalah yang sering terburu-buru.
Waktu tidak berlari. Kitalah yang sering terburu-buru.

 

TRENGGALEK - Ketika masih anak-anak, satu hari terasa begitu panjang. Liburan seminggu terasa seperti sebulan penuh.

Namun seiring bertambahnya usia, waktu seakan melaju lebih cepat. Rasanya baru kemarin awal tahun, tiba-tiba sudah berganti bulan, bahkan tahun.

Pertanyaannya, mengapa waktu terasa semakin singkat saat kita dewasa?

Fenomena ini bukan sekadar perasaan, melainkan sesuatu yang dapat dijelaskan secara psikologis dan emosional.

Ada alasan mengapa waktu seolah berlari ketika kita tumbuh dewasa dan memahami hal ini membantu kita lebih bijak dalam menikmati hidup.

1. Proporsi Waktu terhadap Usia

Ketika kita berusia lima tahun, satu tahun adalah seperlima dari seluruh hidup kita. Namun saat berusia tiga puluh tahun, satu tahun hanyalah sepertiga puluh.

Karena itu, secara proporsional, waktu terasa jauh lebih singkat.

Bagi anak-anak, setiap pengalaman terasa baru bermain, belajar, mengenal hal-hal pertama.

Namun bagi orang dewasa, banyak hal terasa berulang, sehingga waktu berlalu tanpa disadari.

Inilah sebabnya masa kecil terasa panjang dan penuh warna, sedangkan masa dewasa terasa cepat dan monoton.

2. Rutinitas Membuat Waktu Terasa Menyusut

Semakin dewasa, hidup kita semakin diatur oleh rutinitas: bekerja, mengurus rumah, menghadiri pertemuan, dan memenuhi tanggung jawab sehari-hari.

Rutinitas membuat otak bekerja secara otomatis, tanpa banyak memproses pengalaman baru.

Padahal, otak manusia merasakan waktu berdasarkan jumlah kenangan dan hal baru yang dialami.

Semakin sedikit hal baru yang terjadi, semakin sedikit pula memori yang terbentuk akibatnya, waktu terasa berlalu lebih cepat.

3. Fokus pada Masa Depan, Lupa Menikmati Saat Ini

Banyak orang dewasa hidup dengan pikiran yang sibuk: memikirkan target, rencana, dan tanggung jawab.

Kita terbiasa berlari menuju “tujuan berikutnya” tanpa benar-benar menikmati langkah yang sedang dijalani.

Anak-anak, sebaliknya, hidup sepenuhnya di masa kini. Mereka menikmati detik demi detik tanpa memikirkan esok.

Itulah sebabnya waktu terasa lambat dan penuh makna bagi mereka. Saat kita dewasa dan terlalu fokus pada masa depan, kita kehilangan sensasi menikmati “sekarang”.

4. Kurangnya Momen Baru dan Pengalaman Bermakna

Waktu terasa panjang ketika kita mengalami sesuatu yang berbeda. Saat bepergian ke tempat baru, memulai hubungan, atau mencoba hal yang belum pernah dilakukan, otak kita mencatat banyak detail.

Namun jika setiap hari dijalani dengan cara yang sama, tanpa kejutan atau perubahan, waktu terasa berlalu begitu saja.

Karena itu, penting untuk terus menciptakan momen baru agar hidup tidak terasa seperti putaran yang cepat dan kosong.

5. Cara Melambatkan Waktu

Kabar baiknya, meski waktu secara objektif tetap sama, kita bisa merasa waktu berjalan lebih lambat dengan beberapa cara:

Menemukan Ketenangan dalam Arus Waktu

Waktu tidak pernah benar-benar berlari yang berubah adalah cara kita menjalaninya. Dewasa bukan berarti kehilangan waktu, tetapi tentang bagaimana kita belajar menghargai setiap detiknya.

Ketika kita mulai memperlambat langkah, berhenti sejenak untuk menikmati momen, dan mengisi hari-hari dengan hal yang bermakna, waktu tidak lagi terasa menekan.

Ia justru menjadi sahabat yang lembut, yang mengingatkan kita untuk hidup dengan sadar, bukan sekadar berjalan mengikuti rutinitas.

Karena sejatinya, waktu bukanlah musuh yang mencuri usia. Ia adalah pengingat bahwa setiap detik adalah kesempatan untuk benar-benar hidup. 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#Waktu dan Hidup #ketenangan batin #Makna Kehidupan