TRENGGALEK – Di tengah derasnya arus media sosial, banyak anak muda mulai menunjukkan perilaku seolah-olah mereka adalah tokoh utama dalam film kehidupan sendiri.
Fenomena ini dikenal dengan istilah main character syndrome.
Kebiasaan tersebut bukan sekadar tren viral semata. Jika dibiarkan tanpa pemahaman, perilaku ini dapat memengaruhi hubungan sosial, empati, bahkan kesehatan mental.
Apa Itu Main Character Syndrome?
Main character syndrome adalah istilah populer yang menggambarkan kecenderungan seseorang melihat dirinya sebagai tokoh utama dalam kehidupan pribadi.
Individu dengan kecenderungan ini sering merasa memiliki peran sentral dan memperlakukan orang lain sebagai pemeran pendukung.
Media sosial dianggap memperkuat perilaku ini karena setiap orang kini memiliki panggungnya sendiri untuk tampil dan dilihat banyak orang.
Mengapa Media Sosial Memicu Perilaku Ini?
Media sosial menyediakan ruang instan bagi seseorang untuk menunjukkan dirinya.
Foto, cerita, dan video kerap diatur sedemikian rupa demi mendapatkan perhatian atau pengakuan dari orang lain.
Selain itu, algoritma platform biasanya lebih menonjolkan konten yang menampilkan seseorang sebagai pusat perhatian.
Kondisi ini membuat pengguna terdorong untuk membingkai hidupnya secara dramatis agar menarik dilihat publik.
Di sisi lain, rasa tidak aman dan kebutuhan akan validasi juga bisa mendorong seseorang ke pola pikir main character sebagai bentuk kompensasi dari ketidakpercayaan diri.
Tanda-Tanda yang Sering Muncul
Beberapa ciri yang menunjukkan seseorang mengalami main character syndrome antara lain:
• Terlalu sering mencari perhatian atau validasi melalui media sosial maupun interaksi langsung
• Menganggap setiap peristiwa harus berkaitan dengan dirinya
• Kurang memiliki empati terhadap orang lain karena terlalu fokus pada diri sendiri
• Membesar-besarkan pengalaman agar terlihat dramatis atau layak disorot
Dampak Positif dan Negatif
Dampak positif:
• Membantu seseorang memiliki kepercayaan diri dan keberanian untuk menjadi versi terbaik dari dirinya
• Dapat memotivasi untuk berani mengambil langkah besar dalam hidup
Dampak negatif:
• Menyulitkan seseorang membangun hubungan sehat karena terlalu fokus pada diri sendiri
• Menimbulkan stres atau rasa tidak puas akibat ekspektasi berlebihan untuk selalu tampil sempurna
Cara Menata Ulang Pola Pikir
• Lakukan refleksi diri dengan jujur terhadap alasan di balik setiap tindakan
• Kembangkan empati dengan mendengarkan cerita orang lain tanpa membandingkannya dengan diri sendiri
• Kurangi ketergantungan pada media sosial dengan memberi waktu untuk hidup tanpa sorotan
• Gunakan semangat “tokoh utama” untuk mencapai hal nyata, bukan sekadar citra di dunia maya
Langkah Praktis Gen Z Melepas Sorotan
• Batasi waktu menggunakan media sosial, misalnya hanya dua jam per hari
• Fokus pada kegiatan nyata seperti membaca, menulis, atau olahraga
• Hargai proses orang lain, bukan hanya pencapaian diri sendiri
• Latih kebiasaan bersyukur tanpa perlu selalu membagikan semuanya ke publik
Main Character Syndrome bukan sekadar istilah lucu di media sosial, tetapi cerminan bagaimana dunia digital memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri.
Menjadi tokoh utama dalam hidup adalah hal yang wajar, namun penting untuk diingat bahwa setiap kisah juga butuh peran lain.
Menjadi utama bukan berarti menutup ruang bagi cerita orang lain.
Editor : Didin Cahya Firmansyah