Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Waspada Narsistik di Tempat Kerja! Ciri Atasan Toxic yang Suka Mengontrol, Mempermalukan, dan Mengeksploitasi Staff

Adinda Putri Sefiana • Kamis, 19 Februari 2026 | 14:14 WIB
WASPADA! Apakah Atasan Anda Seorang Narsistik.
WASPADA! Apakah Atasan Anda Seorang Narsistik.

JAKARTA - Fenomena narsistik di tempat kerja kini makin sering dibicarakan, terutama di kalangan usia produktif. Bukan tanpa alasan, konflik di kantor kerap muncul bukan semata karena beban kerja, melainkan pola kepemimpinan dan interaksi yang tidak sehat.

Dalam podcast Healing Room by Mental Hub, dibahas secara mendalam bagaimana mengenali ciri-ciri perilaku narsistik yang kerap tersembunyi di balik jabatan dan kewenangan.

Masalah narsistik di tempat kerja sering kali tidak langsung terlihat. Pada level staf biasa, seseorang dengan kecenderungan narsistik bisa tampak patuh, oportunis, bahkan suportif.

Namun ketika ia mulai memegang kuasa, anggaran, atau jabatan strategis, pola aslinya mulai muncul. Di titik inilah banyak bawahan merasa tertekan tanpa benar-benar memahami akar persoalannya.

Perilaku narsistik di tempat kerja tidak selalu tentang percaya diri berlebihan. Lebih dari itu, terdapat pola kontrol, manipulasi, hingga eksploitasi yang berdampak luas terhadap dinamika tim dan produktivitas.

Pola Kontrol dan Manipulasi yang Halus

Salah satu ciri utama atasan narsistik adalah kebutuhan untuk mengontrol. Ia cenderung menjadikan staf berprestasi sebagai “anak emas”.

Namun ironisnya, karier staf tersebut kerap mentok karena harus terus berada di bawah bayang-bayang sang atasan.

Manipulasi menjadi senjata utama. Atasan bisa terlihat sangat kebapakan atau keibuan, penuh apresiasi, dan menunjukkan perhatian berlebihan.

Namun di balik itu, ada agenda terselubung: menjadikan staf sebagai sumber “suplai narsistik” demi pengakuan dan pujian.

Biasanya, target empuknya adalah staf yang sulit berkata “tidak”, bekerja rapi tanpa banyak protes, serta tidak suka tampil di depan umum. Hasil kerja mereka bisa saja “diakuisisi” dan diklaim sebagai pencapaian pimpinan.

 

Tidak Punya Empati dan Suka Mempermalukan

Ciri berikutnya adalah minim empati. Bagi atasan narsistik, yang paling penting adalah kepentingannya sendiri.

Ia bisa menelepon di luar jam kerja, marah jika telepon tidak diangkat, bahkan memberi tugas di luar tupoksi tanpa mempertimbangkan beban staf.

Dalam rapat, ia bisa mengumpulkan seluruh tim karena sadar tidak mampu menjawab pertanyaan sendiri. Namun saat staf gagal menjawab, ia justru mencaci maki di depan umum.

Pola “shaming” atau mempermalukan menjadi ciri khas, disertai kebiasaan menyalahkan orang lain demi menutupi ketidakmampuan diri.

Tak jarang, bawahan akhirnya merasa bersalah terus-menerus. Mereka berpikir, “Mungkin saya kurang baik,” atau “Seandainya saya lebih siap, atasan tidak akan marah.” Padahal, akar masalahnya ada pada pola toxic tersebut.

Haus Pujian dan Anti Kritik

Atasan narsistik sangat membutuhkan pengakuan. Ia selalu ingin menjadi nomor satu dan tidak suka dibandingkan. Bahkan kabar bahagia tentang keberhasilan orang lain bisa dianggap sebagai ancaman.

Dalam relasi profesional, batasan sering dilanggar. Telepon di luar jam kerja, curhat hal pribadi, hingga intervensi berlebihan menjadi hal lumrah. Ketika diberi masukan, responsnya bisa berupa kemarahan hebat yang intimidatif.

Lebih jauh, pola eksploitatif juga muncul. Ia dapat bersikap manis pada atasan, namun menghina bawahan. Anti kritik, tidak mau meminta maaf, dan selalu menyalahkan tim jika terjadi kegagalan.

 

Dampaknya pada Produktivitas dan Kesehatan Mental

Lingkungan kerja dengan figur narsistik berisiko menurunkan produktivitas tim. Rasa percaya memudar, komunikasi tidak sehat, dan kolaborasi terganggu. Tim menjadi takut berbuat salah, bukan termotivasi untuk berkembang.

Relasi yang terbentuk pun bukan berdasarkan kepercayaan, melainkan rasa takut dan bersalah. Jika dalam proses kerja seseorang merasa cemas berlebihan, takut berinteraksi, dan selalu waspada agar tidak disalahkan, bisa jadi ia berada dalam pola relasi toxic.

Namun solusi bukan selalu resign. Dalam podcast tersebut ditekankan pentingnya membangun ketangguhan dan kemampuan adaptif.

Mengenali medan “pertarungan” di tempat kerja membantu individu mengontrol respons, bukan larut dalam konflik.

Di mana pun bekerja, kemungkinan bertemu karakter seperti ini tetap ada. Karena itu, memperkuat batasan pribadi, meningkatkan kompetensi, serta mencari dukungan profesional bila perlu menjadi langkah penting agar tetap sehat secara mental.

Fenomena narsistik di tempat kerja bukan untuk menghakimi, melainkan untuk dipahami. Dengan pemahaman yang tepat, setiap individu dapat lebih bijak bersikap dan tidak terjebak dalam pola manipulatif yang merugikan. (*)

Editor : Adinda Putri Sefiana
#narsistik di tempat kerja #perilaku manipulatif #bullying kantor #atasan toxic #kesehatan mental kerja