JAKARTA - Fenomena kesehatan mental kini semakin ramai diperbincangkan di masyarakat. Istilah seperti depresi, cemas, hingga panic attack semakin sering terdengar, terutama di kalangan generasi muda. Psikiater Dr Elvin Gunawan mengungkapkan, meningkatnya kesadaran ini menjadi hal positif, namun juga memunculkan tantangan baru seperti self diagnosis yang berlebihan.
Dalam sebuah perbincangan santai, Dr Elvin menjelaskan bahwa kesehatan mental bukan sekadar kondisi “orang gila” seperti stigma lama yang berkembang di masyarakat. Ia menegaskan bahwa gangguan mental memiliki spektrum luas, mulai dari ringan hingga berat.
“Kesehatan mental itu kondisi jiwa secara holistik. Tidak terlihat seperti penyakit fisik, jadi sering disalahpahami,” ujarnya.
Kesehatan Mental Tak Selalu Terlihat
Menurut Dr Elvin, gangguan mental berat seperti skizofrenia memang lebih mudah dikenali karena gejalanya tampak jelas, seperti halusinasi, waham, atau berbicara sendiri. Namun, saat ini justru kasus yang lebih banyak adalah gangguan ringan hingga sedang.
“Sekarang lebih banyak yang depresi, cemas, panik, dan psikosomatik. Mereka terlihat normal, tapi sebenarnya sedang berjuang,” jelasnya.
Ia menambahkan, banyak orang yang mengalami gejala fisik seperti jantung berdebar atau sesak napas, namun hasil pemeriksaan medis menunjukkan kondisi normal. Hal ini sering disebut psikosomatik, yaitu kondisi di mana pikiran memengaruhi tubuh.
Baca Juga: Overthinking Bikin Lelah? Berikut 5 Cara Ampuh untuk Mengendalikannya
Self Diagnosis Jadi Tren Berbahaya
Di era media sosial, istilah kesehatan mental semakin mudah diakses. Namun, hal ini juga memicu fenomena self diagnosis. “Sedih dua minggu karena putus cinta langsung bilang depresi. Padahal itu bisa jadi hanya reaksi stres akut,” kata Dr Elvin.
Ia menjelaskan, depresi memiliki kriteria yang lebih kompleks. Seseorang dikatakan mengalami depresi jika mengalami kesedihan berkepanjangan minimal dua minggu, kehilangan minat terhadap hal yang disukai, serta mengalami penurunan energi.
Selain itu, gejala lain seperti gangguan tidur, nafsu makan, hingga rasa putus asa juga menjadi indikator penting.
Faktor Penyebab Depresi Sangat Kompleks
Dr Elvin menekankan bahwa gangguan mental tidak hanya dipengaruhi oleh faktor psikologis, tetapi juga biologis dan sosial. “Konsepnya itu bio-psiko-sosial. Ada faktor otak, pengalaman hidup, lingkungan sosial, budaya, hingga spiritual,” paparnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran masa kecil, terutama pola asuh orang tua. Dua faktor utama yang sering menjadi pemicu adalah rasa malu (shame) dan rasa bersalah (guilt) yang ditanamkan sejak kecil.
Selain itu, faktor biologis seperti genetik, hormon, hingga kondisi fisik seperti obesitas juga berpengaruh terhadap risiko depresi. “Obesitas bisa memicu inflamasi yang berdampak ke otak dan meningkatkan risiko depresi,” tambahnya.
Gaya Hidup Modern Perparah Kondisi
Pola hidup modern juga menjadi penyumbang meningkatnya gangguan kesehatan mental. Kurang tidur, jarang olahraga, hingga konsumsi gula berlebih dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang.
“Olahraga itu penting. Dalam tiga bulan, otak bisa menghasilkan hormon yang membantu memperbaiki suasana hati,” jelasnya.
Tak hanya itu, tekanan ekonomi juga menjadi salah satu masalah utama yang sering ditemui dalam praktiknya. “Sekarang banyak pasien datang karena masalah finansial, bahkan terjerat pinjaman online. Ini jadi beban mental yang besar,” ungkapnya.
Pentingnya Mencari Bantuan Profesional
Dr Elvin mengimbau masyarakat untuk tidak ragu mencari bantuan profesional jika merasa mengalami gangguan mental. “Kalau ragu, datang saja untuk klarifikasi. Jangan menunggu sampai kondisi parah,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak memaksakan diri menjadi “tempat curhat” jika kondisi mental sendiri tidak stabil. Memberikan dukungan memang penting, tetapi harus tetap memperhatikan kesehatan diri sendiri.
Selain itu, ia menyoroti stigma yang masih kuat di masyarakat terhadap orang yang berobat ke psikiater.“Banyak yang takut dianggap lemah. Padahal, mencari bantuan itu justru tanda keberanian,” katanya.
Edukasi Sejak Dini Jadi Kunci
Terakhir, Dr Elvin menekankan pentingnya edukasi kesehatan mental sejak dini, terutama dalam keluarga. Anak perlu diajarkan mengenali emosi, mengelola konflik, serta memahami bahwa hidup tidak selalu mudah.
“Anak harus belajar bahwa hidup itu penuh tantangan. Bukan hanya difasilitasi supaya nyaman,” ujarnya.
Dengan pemahaman yang tepat, diharapkan masyarakat bisa lebih bijak dalam menyikapi kesehatan mental, mengurangi stigma, serta mendorong lebih banyak orang untuk berani mencari bantuan. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana