Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Compulsive Self-Reliance Viral di Media Sosial, Ternyata Kebiasaan Mandiri Berlebihan Bisa Berasal dari Luka Masa Kecil

Adinda Putri Sefiana • Jumat, 8 Mei 2026 | 13:52 WIB
Mandiri itu baik, tapi kalau selalu memendam semuanya sendirian bisa jadi ada luka lama yang belum selesai. (YT. Psychology Simplified)
Mandiri itu baik, tapi kalau selalu memendam semuanya sendirian bisa jadi ada luka lama yang belum selesai. (YT. Psychology Simplified)

JAKARTA - Istilah compulsive self-reliance atau kebiasaan mandiri secara berlebihan tengah ramai dibahas di media sosial. Banyak orang merasa relate dengan kondisi ketika mereka lebih memilih menyelesaikan masalah sendirian daripada meminta bantuan orang lain. Fenomena ini bahkan dianggap sebagai “kekuatan tersembunyi” oleh sebagian orang.

Padahal menurut teori psikologi, compulsive self-reliance bukan sekadar sifat mandiri biasa. Pola tersebut bisa terbentuk sejak masa kecil akibat pengalaman emosional tertentu yang membentuk cara seseorang menghadapi masalah hingga dewasa.

Topik ini kembali viral setelah sebuah video psikologi membahas bagaimana seseorang yang terlalu mandiri sebenarnya sedang menjalankan mekanisme bertahan hidup yang terbentuk sejak kecil. Video tersebut menarik perhatian karena banyak orang merasa pengalaman mereka selama ini akhirnya “terjelaskan”.

Psikolog John Bowlby, tokoh yang dikenal lewat teori attachment theory atau teori keterikatan, menjelaskan bahwa seseorang bisa mengalami pola compulsive self-reliance ketika lingkungan masa kecilnya tidak memberikan rasa aman secara konsisten.

Kebiasaan Menyelesaikan Semua Sendiri

Dalam video tersebut dijelaskan bahwa orang dengan pola ini cenderung tidak langsung mencari bantuan ketika menghadapi masalah. Saat kebanyakan orang memilih menelepon teman atau keluarga, mereka justru membuka internet, mencari solusi sendiri, lalu mencoba menyelesaikannya tanpa bantuan siapa pun.

Contohnya terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang rela menghabiskan waktu berhari-hari mempelajari suatu keterampilan hanya karena merasa lebih sulit meminta bantuan profesional. Ada juga yang mengalami patah hati berat namun tetap terlihat “baik-baik saja” di depan orang lain.

Bahkan, banyak dari mereka terbiasa mengetik pesan seperti “boleh aku cerita sesuatu?” lalu menghapusnya sebelum dikirim. Kebiasaan ini terjadi berulang kali hingga akhirnya menjadi pola otomatis yang tidak lagi disadari.

Menurut penjelasan dalam video, kondisi tersebut bukan sekadar sifat introvert atau tertutup. Otak mereka sejak kecil sudah terbiasa memproses tekanan secara internal karena pengalaman sebelumnya mengajarkan bahwa mencari bantuan tidak selalu menghasilkan dukungan yang diharapkan.

Overthinking dan Dialog Internal yang Tidak Pernah Berhenti

Salah satu ciri lain dari orang dengan compulsive self-reliance adalah aktivitas metakognitif yang tinggi. Mereka cenderung terus memikirkan cara berpikirnya sendiri secara mendalam.

Akibatnya, mereka sering melakukan analisis berlebihan terhadap keputusan, percakapan, maupun emosi yang dirasakan. Di dalam kepala mereka terjadi dialog internal yang kompleks dan berlangsung terus-menerus.

Sekilas kemampuan ini terlihat bermanfaat karena membuat seseorang lebih reflektif dan mandiri. Namun di sisi lain, hal tersebut justru menciptakan jarak emosional dengan orang lain.

Ketika akhirnya ingin bercerita, mereka merasa apa yang disampaikan tidak akan pernah benar-benar menggambarkan isi pikirannya secara utuh. Karena itulah banyak orang di sekitar mereka menganggap mereka dingin, tertutup, atau terlalu pribadi.

Padahal sebenarnya mereka juga merasakan kesulitan untuk membuka diri. Mereka sadar ada jarak emosional dengan orang lain, tetapi tidak tahu bagaimana cara menjembataninya.

Mandiri Berlebihan Bisa Menjadi Identitas

Hal yang paling berbahaya dari pola ini adalah ketika kebiasaan menyelesaikan semuanya sendiri berubah menjadi identitas hidup.

Kalimat seperti “aku terbiasa mengurus semuanya sendiri” atau “aku tidak butuh bantuan siapa pun” lama-kelamaan menjadi keyakinan yang tertanam kuat. Pada titik tersebut, menerima bantuan justru terasa asing dan bertentangan dengan jati diri mereka.

Dalam hubungan sosial maupun percintaan, kondisi ini sering menimbulkan jarak yang sulit dijelaskan. Mereka sebenarnya peduli dan menyayangi orang lain, tetapi kesulitan untuk benar-benar membiarkan seseorang masuk ke dalam kehidupan emosionalnya.

Orang-orang terdekat biasanya merasakan kehangatan dari mereka, tetapi tetap merasa ada “tembok tak terlihat” yang membatasi kedekatan tersebut.

Bukan Kerusakan, Tetapi Mekanisme Bertahan Hidup

Meski demikian, video tersebut juga menegaskan bahwa sikap mandiri bukan sepenuhnya hal buruk. Orang-orang dengan pola compulsive self-reliance biasanya memiliki daya tahan mental tinggi karena terbiasa menghadapi kesulitan sendirian.

Mereka mampu bertahan dalam situasi sulit tanpa selalu bergantung pada orang lain. Kemampuan tersebut justru menjadi kekuatan penting dalam kehidupan.

Namun, yang perlu dipahami adalah apakah sikap mandiri itu benar-benar pilihan sadar saat ini atau hanya mekanisme lama yang terus berjalan otomatis sejak masa kecil.

Psikologi menyebut mekanisme bertahan hidup tidak memiliki “tanggal kedaluwarsa”. Otak akan terus menjalankan pola yang dulu dianggap aman sampai seseorang menyadari bahwa dirinya tidak lagi hidup di situasi yang sama.

Karena itu, kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain sebenarnya tidak pernah hilang. Keinginan untuk dipahami, didengarkan, dan tidak selalu memikul semuanya sendiri tetap ada di dalam diri seseorang.

Video tersebut menutup pembahasannya dengan pesan bahwa sejarah hidup seseorang tidak harus berakhir sama seperti awalnya. Pola lama bisa dipahami, disadari, lalu perlahan diubah menjadi hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri maupun orang lain. (*)

Editor : Adinda Putri Sefiana
#compulsive self-reliance #teori attachment #psikologi hubungan #trauma masa kecil #kesehatan mental