Radar Trenggalek - Kasus trauma dan gangguan kesehatan mental di Indonesia disebut mengalami peningkatan signifikan sejak pandemi Covid-19. Fenomena ini tidak hanya terlihat dari meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental, tetapi juga dari bertambahnya jumlah kasus dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi.
Psikiater Dr. Jimmy Ardian mengungkapkan, lonjakan kasus trauma, kecemasan, hingga depresi mulai terasa sejak masa pandemi. Bahkan, peningkatan tersebut masih terjadi hingga saat ini meski pandemi telah berakhir.
Menurutnya, banyak orang awalnya mengira kenaikan jumlah pasien terjadi karena masyarakat semakin sadar pentingnya kesehatan mental. Namun hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keparahan kasus juga meningkat.
“Kalau hanya kesadaran yang meningkat, seharusnya kasus berat tetap sama. Tapi ternyata kasus berat juga bertambah,” jelas Jimmy dalam perbincangan bersama komika dan kreator konten Raditya Dika.
Jimmy menjelaskan bahwa trauma tidak selalu berasal dari peristiwa besar yang mengancam nyawa. Dalam dunia psikologi dikenal istilah trauma besar (big T) dan trauma kecil (small T).
Trauma besar biasanya muncul akibat kecelakaan serius, bencana, atau peristiwa yang mengancam keselamatan. Sementara trauma kecil dapat berasal dari pengalaman emosional yang menyakitkan, seperti pengabaian, penolakan, atau pengalaman buruk di masa lalu.
Menurutnya, tanda paling mudah mengenali trauma adalah munculnya reaksi berlebihan saat seseorang diingatkan pada peristiwa tertentu yang sebenarnya sudah berlalu.
“Kalau suatu kejadian sudah lewat, tetapi ketika diingat atau dipicu oleh sesuatu lalu tubuh bereaksi seperti marah, takut, ingin kabur, atau membeku, itu bisa menjadi tanda trauma,” ujarnya.
Salah satu fakta menarik yang diungkap Jimmy adalah tidak semua orang yang mengalami trauma harus menjalani terapi atau berobat ke psikiater.
Berdasarkan pengalamannya, sekitar 80 persen orang dapat pulih secara alami tanpa intervensi profesional. Sementara sekitar 20 persen lainnya membutuhkan bantuan karena traumanya menetap dan mengganggu kehidupan sehari-hari.
Ia menegaskan bahwa ukuran trauma ringan atau berat bukan ditentukan oleh besar kecilnya peristiwa yang dialami, melainkan seberapa besar dampaknya terhadap kehidupan seseorang.
“Kadang kejadiannya besar tapi reaksinya kecil. Sebaliknya, ada kejadian yang dianggap sepele tetapi dampaknya sangat besar terhadap seseorang,” katanya.
Jimmy menjelaskan bahwa trauma pada dasarnya adalah memori yang menyimpan muatan emosi tidak nyaman. Saat memori itu muncul kembali, seseorang akan merasakan ketakutan, kecemasan, atau kemarahan yang sama seperti ketika kejadian tersebut terjadi.
Kabar baiknya, otak manusia memiliki kemampuan alami untuk memperbarui dan mengubah memori.
Menurutnya, proses penyembuhan terjadi ketika seseorang mendapatkan pengalaman baru yang berbeda dari pengalaman traumatis sebelumnya. Pengalaman baru tersebut perlahan akan mengurangi muatan emosional negatif yang tersimpan dalam memori lama.
Sebagai contoh, seseorang yang pernah digigit anjing dan menjadi takut terhadap semua anjing dapat dibantu dengan berinteraksi secara bertahap dengan anjing yang ramah dan aman.
“Ketika data lama ditabrakkan dengan pengalaman baru yang berbeda, memori traumanya perlahan akan melemah,” terang Jimmy.
Dalam sesi diskusi tersebut, Jimmy juga menyoroti banyaknya kasus trauma yang berakar dari pengalaman masa kecil dan hubungan dengan orang tua.
Ia mengakui bahwa sebagian besar klien yang datang kepadanya memiliki keterkaitan dengan pola asuh keluarga.
Namun Jimmy menegaskan bahwa banyak orang tua sebenarnya memiliki niat baik. Masalahnya, mereka sering kali tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai pola pengasuhan yang sehat.
“Orang tua melakukan yang mereka tahu saat itu. Banyak yang tumbuh dengan pola asuh keras karena memang itulah yang mereka pelajari dari generasi sebelumnya,” ujarnya.
Ia juga menilai perbedaan cara komunikasi antar generasi sering menjadi sumber konflik. Misalnya, orang tua merasa sudah meminta maaf melalui tindakan, sementara anak mengharapkan permintaan maaf secara verbal.
Sebagai psikiater, Jimmy menegaskan bahwa obat bukanlah solusi utama untuk menyembuhkan trauma.
Menurutnya, obat hanya berfungsi membantu menstabilkan kondisi pasien agar lebih siap menjalani psikoterapi. Sementara proses penyembuhan utama tetap dilakukan melalui terapi yang membantu seseorang mengolah dan menetralkan memori traumatisnya.
“Obat membantu mengurangi gejala. Yang menyembuhkan trauma tetap psikoterapi,” tegasnya.
Jimmy berharap masyarakat semakin memahami bahwa trauma bukan kelemahan pribadi. Dengan lingkungan yang aman, dukungan sosial yang baik, serta bantuan profesional jika diperlukan, seseorang memiliki peluang besar untuk pulih dan menjalani hidup yang lebih sehat. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana