Trenggaleknjenggelek - Dzulhijjah, bulan ke-12 dalam kalender Hijriah, dikenal sebagai bulan besar dalam penanggalan Jawa. Sebutan ini bukan tanpa alasan, melainkan sarat makna historis, budaya, dan spiritual. Dalam tradisi Jawa-Islam, Dzulhijjah menjadi penanda penutup tahun sekaligus puncak dari rangkaian peristiwa penting keagamaan.
Bulan Terakhir dalam Kalender Jawa dan Hijriah
Secara penanggalan, Dzulhijjah menempati posisi terakhir baik dalam kalender Islam (Hijriah) maupun dalam kalender Jawa. Dalam sistem Jawa, bulan ini disebut “Besar” sebagai penanda akhir siklus tahun, menggantikan nama aslinya dari bahasa Arab namun tetap mengacu pada posisi dan maknanya dalam Islam.
Baca Juga: Sah Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1446 H Jatuh pada 6 Juni 2025
Identik dengan Idul Adha dan Ibadah Haji
Dzulhijjah menjadi bulan yang sangat istimewa dalam Islam karena dua momen penting terjadi di dalamnya: ibadah haji dan Idul Adha. Keduanya adalah rukun Islam kelima dan hari raya besar yang dirayakan umat Muslim di seluruh dunia. Masyarakat Jawa pun mengenal hari ini sebagai “Bada Besar”, dan menjadikannya sebagai momen sakral.
Pengaruh Islam dalam Penamaan
Penamaan bulan “Besar” menunjukkan bagaimana budaya Islam terintegrasi kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa. Sejak proses Islamisasi di Nusantara, kalender Jawa yang semula berbasis Hindu-Buddha mengalami akulturasi. Nama-nama bulan, termasuk Dzulhijjah, mengalami adaptasi yang memperlihatkan kedekatan masyarakat Jawa dengan nilai-nilai Islam.
Baca Juga: Idul Adha 2025: Makna, Tradisi, dan Perayaan Unik di Indonesia
Tradisi Grebeg dan Ritual Keraton
Dalam lingkup budaya keraton, bulan Besar biasanya dirayakan dengan Grebeg Besar, sebuah upacara tradisional yang dilaksanakan di Yogyakarta dan Surakarta. Dalam acara ini, masyarakat menyaksikan arak-arakan gunungan yang melambangkan syukur dan berbagi rezeki. Tradisi ini menyatukan aspek budaya, spiritualitas, dan sosial masyarakat Jawa-Islam.
Baca Juga: Prinsip Halal Haram Tanaman Menurut Madzahib: Panduan Lengkap Berdasarkan Perspektif Fikih
Keistimewaan Amalan Dzulhijjah
Bulan Dzulhijjah juga dikenal dengan berbagai amalan yang dianjurkan, terutama puasa sunnah sembilan hari pertama, khususnya puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Amalan ini menjadi ladang pahala yang sangat dianjurkan bagi umat Muslim yang tidak sedang berhaji.
Dengan segala keistimewaan dan simbolismenya, bulan Dzulhijjah atau bulan "Besar" menjadi refleksi perpaduan antara nilai-nilai Islam dan budaya Jawa yang terus hidup hingga hari ini.(jaz)
Editor : Zaki Jazai