Trenggaleknjenggelek - Setiap musim haji, jutaan jamaah dari seluruh dunia melakukan prosesi penting bernama lempar jumroh di Mina, Arab Saudi.
Prosesi ini melibatkan pelemparan batu-batu kerikil ke tiga pilar (Jamarat), sebagai simbol penolakan terhadap setan.
Tapi pernahkah kamu bertanya, kemana perginya batu lempar jumroh setelah dilempar oleh para jamaah?
Ternyata, batu-batu tersebut tidak hilang begitu saja. Ada sistem khusus yang mengatur pengelolaan batu jumroh ini, dan jawabannya sangat menarik.
Baca Juga: Kisah Amer al-Qaddafi dan Kekuatan Takdir Haji: Pesawat Enggan Terbang Karena Seorang Jamaah Haji
Proses Lempar Jumroh: Dari Pilar ke Sistem Penampungan
Pada saat jamaah haji melontar jumroh yang dilakukan dari tanggal 10 hingga 13 Zulhijjah, batu kerikil yang dilempar akan jatuh sekitar 15 meter ke bawah dari lokasi pelemparan.
Di bawah area Jamarat yakni di tiga titik Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah, telah disiapkan tempat penampungan khusus untuk menampung semua batu kerikil yang terkumpul.
Diangkut Mesin, Dicuci, dan Disimpan
Batu-batu yang terkumpul tidak langsung dibuang. Setelah proses pelemparan selesai, batu-batu lempar jumroh tersebut akan ditarik menggunakan mesin ke sebuah gudang penyimpanan.
Namun sebelum disimpan, batu-batu ini akan disiram air bersih terlebih dahulu untuk menghilangkan debu, kotoran, dan kemungkinan kontaminasi.
Setelah bersih, batu-batu ini dimasukkan ke dalam kendaraan dan dibawa ke tempat penyimpanan khusus.
Baca Juga: Prinsip Halal Haram Tanaman Menurut Madzahib: Panduan Lengkap Berdasarkan Perspektif Fikih
Digunakan Kembali di Musim Haji Selanjutnya
Salah satu fakta menarik yang belum banyak diketahui adalah bahwa batu lempar jumroh tidak pernah habis.
Menjelang musim haji berikutnya, batu-batu ini akan dihamparkan kembali di area Muzdalifah, tempat jamaah mengambil batu untuk keperluan melontar jumrah.
Dengan sistem ini, Arab Saudi dapat memastikan bahwa persediaan batu jumroh selalu tersedia, tanpa perlu mengambil dari alam secara terus-menerus.
Ramah Lingkungan dan Efisien
Sistem pengumpulan dan penggunaan ulang batu jumroh ini tidak hanya efisien, tapi juga mendukung prinsip keberlanjutan dan ramah lingkungan.
Mengingat jumlah jamaah haji yang bisa mencapai jutaan orang, pengelolaan batu secara sembarangan tentu akan menimbulkan limbah besar.
Maka dari itu, sistem sirkulasi ini adalah solusi logistik yang cerdas dan efektif.
Jadi, kemana perginya batu lempar jumroh? Jawabannya adalah: batu-batu tersebut dikumpulkan, dibersihkan, disimpan, lalu digunakan kembali di musim haji berikutnya.
Proses ini menunjukkan betapa matang dan detailnya sistem manajemen haji yang diterapkan oleh pemerintah Arab Saudi.
Bagi jamaah, prosesi ini tetap penuh makna spiritual. Tapi di balik itu semua, ada sistem modern yang bekerja untuk menjaga kelancaran ibadah.
Jadi tak perlu heran kalau batu lempar jumroh tidak pernah habis, karena memang dikelola secara efisien dan berkelanjutan. (sun)