Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Kisah di Balik Kurban: Mengapa Kambing Jadi Simbol Pengorbanan di Idul Adha?

Akhmad Nur Khoiri • Kamis, 5 Juni 2025 | 01:00 WIB
Alasan kambing menggantikan kurban Nabi Ismail saat Idul Adha
Alasan kambing menggantikan kurban Nabi Ismail saat Idul Adha

Trenggaleknjenggelek – Pada suatu pagi, Nabi Ibrahim terbangun dengan dada yang berdebar.

Malam sebelumnya, ia bermimpi melihat dirinya menyembelih putranya, Ismail—mimpi yang tidak biasa.

Namun bagi seorang nabi, mimpi bukan sekadar bunga tidur. Ia tahu, itu adalah wahyu dari Allah.

Dengan hati yang gundah, Ibrahim mendatangi Ismail dan menyampaikan isi mimpinya.

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu?” (QS. As-Saffat: 102).

Ismail bukan anak biasa. Ia adalah buah hati yang lama dinanti Ibrahim dari pernikahannya dengan Siti Hajar.

Namun mendengar itu, Ismail tidak menunjukkan rasa takut ataupun ragu.

Ia menjawab dengan keyakinan yang bulat, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As-Saffat: 102).

Keduanya pun berjalan menuju tempat penyembelihan. Ketika Ibrahim membaringkan Ismail dan bersiap mengangkat pisau, datanglah seruan dari Allah, “Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” (QS. As-Saffat: 105).

Allah kemudian mengganti Ismail dengan seekor hewan sembelihan besar.

Beberapa riwayat menyebut hewan tersebut adalah kambing, sementara yang lain menyebutkan domba.

Inilah momen yang kemudian menjadi asal-usul ibadah kurban yang dijalankan umat Islam setiap Iduladha.

Seperti yang ditegaskan dalam QS. Al-Hajj ayat 34, penyembelihan hewan kurban menjadi bagian dari syariat yang Allah tetapkan bagi setiap umat.

Namun satu pertanyaan menarik muncul: mengapa kambing atau domba yang dijadikan hewan pengganti dalam peristiwa ini?

Ternyata, pemilihan kambing bukan tanpa alasan. Ia sangat sesuai dengan realitas sosial dan geografis tempat Nabi Ibrahim hidup.

Di wilayah Timur Tengah, kambing dan domba adalah hewan yang paling mudah ditemui dan dikembangkan.

Penjinakan kambing sebagai hewan ternak diperkirakan sudah dimulai sejak 8000 SM di wilayah Mesopotamia—yang kini mencakup Irak dan Iran.

Dalam riset berjudul The Goat in Ancient Civilisations: from the Fertile Crescent to the Aegean Sea (2004), disebutkan bahwa kambing adalah hewan ternak pertama yang dijinakkan manusia di wilayah Bulan Sabit Subur.

Keunggulan biologisnya, seperti sistem pencernaan khusus yang dapat mengolah dedaunan dan rumput kering, membuatnya cocok hidup di daerah kering dan berbukit seperti Timur Tengah.

Antropolog Marvin Harris dalam bukunya Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir (2019) menjelaskan bahwa kondisi geografis Timur Tengah—yang cenderung kering dan bergunung—lebih cocok untuk peternakan kambing daripada pertanian basah.

Tak hanya itu, kambing juga dikenal sebagai hewan serbaguna: dari susu hingga kulitnya bisa dimanfaatkan manusia.

Tak heran, kambing dan domba menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Timur Tengah, termasuk dalam praktik spiritual.

Bahkan Nabi Muhammad SAW, sebelum menerima wahyu, dikenal sebagai penggembala kambing di usia mudanya.

Dalam Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis (2011), dijelaskan bahwa profesi ini banyak digeluti anak muda Quraisy karena dibutuhkan untuk mengelola ternak para pemilik kambing di sekitar Makkah.

Dari sini, menjadi masuk akal bahwa ketika Allah mengganti Ismail dengan seekor hewan, pilihan itu jatuh pada kambing—hewan yang akrab, mudah dijangkau, dan sarat nilai simbolik dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kala itu.

Kini, setiap Idul Adha, umat Islam di seluruh dunia menapaktilasi peristiwa tersebut dengan menyembelih kambing, domba, atau sapi sebagai bentuk ketaatan dan pengorbanan.

Sebuah kisah lama yang terus hidup dan menjadi jembatan spiritual antara masa lalu dan hari ini. (kho)

Editor : Akhmad Nur Khoiri
#ismail #kurban #idul adha #kambing