Trenggaleknjenggelek - Di tengah gaya hidup yang serba cepat, banyak orang merasa kehilangan arah, terjebak dalam rutinitas, dan jauh dari kedamaian batin.
Dunia modern menuntut efisiensi, kecepatan, dan produktivitas, namun seringkali mengorbankan dimensi spiritual manusia.
Di sinilah ajaran sufisme hadir sebagai jalan tengah antara kebutuhan duniawi dan ukhrawi, memberi makna di balik aktivitas sehari-hari yang kian mekanis.
Sufisme bukan sekadar praktik tasawuf, tetapi merupakan laku hidup yang berakar kuat pada keikhlasan, kesederhanaan, dan cinta ilahi.
Dalam madzhab Syafi’i, tasawuf diakui sebagai bagian penting dari perjalanan iman seseorang.
Al-Imam al-Ghazali, salah satu ulama besar madzhab Syafi’i, dalam karya monumentalnya Ihya’ Ulumuddin, menegaskan bahwa tasawuf adalah ilmu yang mengajarkan manusia untuk menyucikan hati dari penyakit-penyakit batin.
Sekaligus menumbuhkan sikap zuhud, sabar, dan syukur di tengah hiruk-pikuk dunia.
Menyucikan Hati di Tengah Keramaian Dunia
Salah satu prinsip utama sufisme adalah tazkiyatun nafs, yakni penyucian jiwa. Dalam dunia modern yang sarat distraksi, manusia lebih mudah terjangkiti penyakit hati seperti hasad, ujub, dan riya'.
Ajaran sufisme mengajak manusia untuk tidak hanya fokus pada pencapaian materi, tetapi juga menata batin agar tetap jernih dan tenang.
Dalam konteks ini, kesibukan bukanlah halangan untuk mendekat kepada Allah. Justru dengan niat yang benar dan keikhlasan, pekerjaan duniawi bisa menjadi ladang pahala.
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa amal duniawi yang dikerjakan dengan niat mencari ridha Allah tidak lebih rendah dari ibadah ritual.
Menulis, bekerja, atau bahkan memimpin perusahaan bisa menjadi bentuk ibadah jika dilandasi cinta kepada kebaikan dan keadilan.
Sufisme mengajarkan bahwa dunia bukan musuh, melainkan ladang ujian untuk mengolah hati.
Sufisme sebagai Pelindung Jiwa Digital
Era digital menuntut respons cepat, pikiran multitasking, dan perhatian yang terpecah. Akibatnya, banyak yang merasa lelah secara mental, bahkan spiritual.
Dalam situasi ini, praktik sufistik seperti dzikir, tafakur, dan muraqabah menjadi oase yang menenangkan.
Bukan hanya sebagai ritual, tetapi sebagai bentuk self-care spiritual yang memperkuat koneksi dengan Yang Maha Hidup.
Dalam kitab Bidayatul Hidayah, Imam al-Ghazali menasihati agar seorang muslim selalu menjaga adab lahir dan batin, serta memperbanyak dzikir dalam kesendirian.
Praktik ini sangat relevan untuk kehidupan modern yang penuh tekanan, karena ia memperkuat kesadaran akan kehadiran Allah di setiap momen.
Dunia dan Akhirat Tidak Bertentangan
Sufisme tidak mengajak manusia meninggalkan dunia, tetapi mengendalikannya. Dalam pandangan ulama Syafi’iyah, keseimbangan antara dunia dan akhirat adalah kunci keselamatan.
Seorang sufi modern bukan berarti harus tinggal di gunung atau melepaskan teknologi, tetapi hadir sebagai pribadi yang terlibat aktif dalam masyarakat, tanpa kehilangan arah ruhani.
Dengan menjadikan hati sebagai pusat pengendali, sufisme membentuk manusia modern yang tidak hanya cerdas secara intelektual.
Tapi juga matang secara spiritual. Ia menyadari bahwa dunia adalah titipan dan akhirat adalah tujuan.
Sufisme Adalah Relevansi, Bukan Romantisme
Di tengah era modern yang kian kompleks, ajaran sufisme dari madzhab Syafi’i hadir sebagai jalan keseimbangan.
Ia menawarkan ketenangan tanpa harus meninggalkan dinamika dunia. Sufisme adalah ajaran hidup yang tetap relevan untuk siapa pun yang ingin mengolah hati di tengah derasnya arus zaman. (sun)