Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Apa Benar Puasa Intermiten Meningkatkan Fungsi Otak? Temuan Menarik dari Penelitian

Mahsun Nidhom • Selasa, 15 Juli 2025 | 05:45 WIB
Puasa Tak hanya turunkan berat badan.
Puasa Tak hanya turunkan berat badan.

Trenggaleknjenggelek - Puasa intermiten bukan sekadar gaya hidup diet kekinian. Belakangan, riset-riset ilmiah mulai mengaitkan pola makan ini dengan peningkatan fungsi otak.

Dari kemampuan fokus yang meningkat hingga perlindungan terhadap penyakit neurodegeneratif, puasa intermiten ternyata punya dampak kognitif yang tidak bisa diremehkan.

Apa Itu Puasa Intermiten?

Puasa intermiten (intermittent fasting) adalah pola makan dengan mengatur waktu makan dan puasa secara bergantian, bukan mengatur jenis makanannya. Pola umum yang banyak dipakai adalah 16:8 (puasa 16 jam, makan 8 jam).

Menurut jurnal Frontiers in Aging Neuroscience (2021), puasa intermiten dapat meningkatkan neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk beradaptasi dan membentuk koneksi baru.

Studi lain dari National Institute on Aging (NIA) menyatakan bahwa puasa bisa meningkatkan produksi BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor), sebuah protein yang penting untuk daya ingat dan pembelajaran.

BDNF bukan hanya membantu sel otak tumbuh dan bertahan hidup, tapi juga memainkan peran penting dalam mencegah stres oksidatif dan peradangan, dua faktor yang merusak otak dalam jangka panjang.

Energi Mental Lebih Stabil

Saat tubuh berpuasa, kadar insulin turun dan tubuh mulai menggunakan cadangan energi berupa keton.

Nah, keton ini tidak hanya berguna untuk tubuh, tetapi juga menjadi bahan bakar alternatif yang lebih efisien bagi otak.

Hasilnya? Banyak orang yang berpuasa melaporkan pikiran lebih jernih dan tidak mudah ngantuk di siang hari.

Tapi Tidak Semua Orang Cocok

Meski terdengar menjanjikan, tidak semua orang langsung mendapat manfaat kognitif dari puasa intermiten.

Efeknya bisa berbeda tergantung kondisi kesehatan, kualitas tidur, dan aktivitas fisik. Selain itu, puasa terlalu ekstrem juga bisa berdampak negatif, seperti mudah marah atau sulit berkonsentrasi di awal fase adaptasi.

Bisa Tajamkan Otak, Asal Tahu Batasnya

Penelitian memang menunjukkan bahwa puasa intermiten berpotensi meningkatkan fungsi otak, terutama lewat peningkatan BDNF dan metabolisme energi yang efisien.

Tapi tetap penting untuk mendengarkan tubuh sendiri, karena efeknya bisa sangat individual.

Jika dilakukan dengan bijak, puasa intermiten bisa jadi bukan cuma jalan ke berat badan ideal, tapi juga ke otak yang lebih tajam dan fokus. (sun)

Editor : Mahsun Nidhom
#nutrisi #puasa #fungsi otak