Trenggaleknjenggelek - Bagi banyak orang, puasa identik dengan Ramadan. Padahal, tradisi berpuasa sudah ada jauh sebelum Islam datang, dan bahkan di luar Ramadan ada berbagai jenis puasa yang memiliki makna mendalam.
Nabi Muhammad SAW sendiri mencontohkan puasa sunnah seperti puasa Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, hingga puasa di bulan Syawal.
Menariknya, praktik berpuasa juga tercatat dalam agama dan budaya kuno. Dalam tradisi Yahudi ada Yom Kippur, sementara di Kristen Ortodoks ada Great Lent. Tujuannya serupa: menahan diri, mendekatkan diri pada Tuhan, dan membersihkan hati.
Menurut catatan sejarah Islam, puasa sunnah sudah dilakukan sejak awal kenabian, bahkan sebelum kewajiban puasa Ramadan turun di tahun kedua Hijriah.
Nabi kerap berpuasa di hari Senin dan Kamis sebagai bentuk rasa syukur, karena pada hari Senin beliau dilahirkan dan wahyu pertama turun.
Puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 setiap bulan Hijriah) juga punya makna khusus. Tradisi ini bahkan diyakini sudah dilakukan oleh para nabi terdahulu sebagai bentuk penyucian diri secara rutin.
Berpuasa di luar Ramadan mengajarkan konsistensi dalam mengendalikan nafsu. Tidak ada “ramai-ramai” seperti di Ramadan, sehingga keikhlasan lebih teruji. Selain itu, manfaat kesehatannya pun signifikan — dari detoksifikasi tubuh hingga peningkatan fungsi otak.
Bagi sebagian orang, puasa di luar Ramadan juga menjadi latihan mental untuk menghadapi godaan sehari-hari.
Dalam pepatah Arab disebutkan, “Siapa yang mampu berpuasa saat semua makan, ia telah mengalahkan dua musuh: dirinya sendiri dan lingkungannya.”
Sejarah puasa di luar Ramadan membuktikan bahwa ibadah ini bukan sekadar ritual musiman. Ia adalah latihan batin yang telah diwariskan lintas generasi dan agama.
Bagi yang ingin merasakan kedalaman spiritual dan manfaat fisik sekaligus, puasa sunnah bisa menjadi jalan yang jarang ditempuh tapi penuh hikmah. (sun)
Editor : Mahsun Nidhom