Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Amalan Tradisional Masyarakat Trenggalek Menyambut Bulan Ramadan

Ingge Nayla Ayu Karina • Rabu, 1 Oktober 2025 | 01:34 WIB

Tradisi megengan di Trenggalek menjadi momen kebersamaan penuh doa dan syukur untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
Tradisi megengan di Trenggalek menjadi momen kebersamaan penuh doa dan syukur untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

TRENGGALEK - Bulan Ramadan selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam di seluruh penjuru Tanah Air.

Di Kabupaten Trenggalek, suasana menyambut Ramadan dipenuhi berbagai amalan tradisional yang telah berlangsung turun-temurun.

Tradisi tersebut tidak hanya memperkuat keimanan, tetapi juga mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Kegiatan yang dilakukan menjelang Ramadan menjadi bukti nyata bahwa nilai religi dapat menyatu dengan budaya lokal.

Tradisi Megengan sebagai Awal Penyambutan

Menjelang Ramadan, masyarakat Trenggalek mengenal tradisi megengan.

Acara ini biasanya dilakukan dengan mengadakan doa bersama dan kenduri.

Berbagai sajian khas seperti ketan, apem, dan jenang disiapkan sebagai simbol doa agar puasa berjalan lancar.

Megengan mengandung pesan kebersamaan, sebab setiap keluarga biasanya ikut serta dan membagikan hidangan kepada tetangga maupun kerabat.

Ziarah Kubur Menjelang Ramadan

Selain megengan, masyarakat juga melakukan ziarah ke makam leluhur.

Kegiatan ini bertujuan untuk mendoakan arwah keluarga yang telah meninggal.

Ziarah dilakukan dengan membersihkan makam, menabur bunga, dan membaca doa bersama.

Amalan ini mencerminkan rasa hormat kepada orang tua dan leluhur, sekaligus mengingatkan tentang pentingnya kehidupan setelah mati.

 

Tradisi bersih desa jelang Ramadan di Trenggalek menjadi wujud kebersamaan masyarakat dalam mempersiapkan lahir batin menyambut bulan suci.
Tradisi bersih desa jelang Ramadan di Trenggalek menjadi wujud kebersamaan masyarakat dalam mempersiapkan lahir batin menyambut bulan suci.

Tradisi Bersih Desa

Beberapa wilayah di Trenggalek memiliki tradisi bersih desa sebelum Ramadan tiba.

Ritual ini biasanya berupa kerja bakti membersihkan lingkungan, jalan desa, serta tempat ibadah.

Selain menjaga kebersihan, kegiatan ini menjadi simbol kesiapan lahir dan batin dalam menyambut bulan penuh berkah.

Rasa kebersamaan sangat terasa, karena seluruh warga bergotong royong tanpa memandang usia maupun status sosial.

 

Menyambut Ramadan, masjid di Trenggalek dipenuhi jamaah yang mengikuti pengajian sebagai wujud memperkuat iman dan mempererat kebersamaan.
Menyambut Ramadan, masjid di Trenggalek dipenuhi jamaah yang mengikuti pengajian sebagai wujud memperkuat iman dan mempererat kebersamaan.

Kegiatan Keagamaan di Masjid

Menyambut Ramadan, masjid-masjid di Trenggalek mulai ramai dengan kegiatan keagamaan.

Pengajian, tahlilan, dan doa bersama digelar untuk menyemarakkan suasana.

Anak-anak, remaja, hingga orang tua berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Kehadiran jamaah yang semakin meningkat menandakan semangat religius masyarakat dalam menyambut bulan suci.

Nilai Sosial dan Spiritual

Amalan tradisional yang dilakukan masyarakat Trenggalek sebelum Ramadan memiliki nilai sosial yang tinggi.

Tradisi berbagi makanan dalam megengan menumbuhkan rasa solidaritas antarwarga.

Ziarah kubur mengajarkan tentang pentingnya mendoakan leluhur, sementara bersih desa menguatkan nilai gotong royong.

Semua kegiatan tersebut sekaligus mempertebal keimanan, sebab tujuan utama adalah mempersiapkan diri menyambut ibadah puasa dengan hati yang bersih.

Pelestarian Tradisi

Meskipun zaman terus berkembang, amalan tradisional menjelang Ramadan tetap dipertahankan.

Generasi muda dilibatkan agar mereka memahami makna yang terkandung di dalamnya.

Pemerintah daerah maupun tokoh agama sering mendukung dengan menyelenggarakan acara bersama yang melibatkan masyarakat luas.

Upaya ini menjadi langkah penting agar tradisi tidak hilang tergerus modernisasi. (*)

 

 

 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#trenggalek #amalan