TRENGGALEK NJENGGELEK-Kisah Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu peristiwa paling agung dan menakjubkan dalam sejarah Islam. Perjalanan luar biasa ini tidak hanya menguji keimanan umat Muslim, tetapi juga menjadi tonggak penting ditetapkannya kewajiban salat lima waktu. Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW secara tegas disebutkan dalam Al-Qur’an, di antaranya Surat Al-Isra ayat 1 dan Surat An-Najm ayat 13–18, serta diriwayatkan dalam berbagai hadis sahih.
Secara makna, Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina dalam satu malam. Sementara Mi’raj adalah kelanjutan perjalanan Rasulullah SAW naik menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha, tempat tertinggi yang menjadi batas makhluk ciptaan Allah SWT.
Awal Perjalanan Isra Mi’raj
Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW bermula ketika Rasulullah berada di kawasan Al-Hijr, dekat Ka’bah. Malaikat Jibril datang menjemput dan membawa Nabi ke sumur Zamzam. Di tempat itu, Jibril membelah dada Rasulullah untuk mensucikan hati dan jiwanya, sebagai persiapan bertemu langsung dengan Allah SWT. Proses ini bukan pertama kalinya terjadi, melainkan pernah dialami Nabi saat masih kecil.
Setelah penyucian tersebut, Nabi Muhammad SAW diperlihatkan seekor hewan tunggangan bernama Buraq, makhluk yang digambarkan menyerupai kuda bersayap dengan kecepatan sejauh mata memandang. Dengan menaiki Buraq, Rasulullah SAW memulai perjalanan Isra dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa.
Shalat di Masjidil Aqsa dan Pilihan Fitrah
Sesampainya di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW menambatkan Buraq dan melaksanakan salat dua rakaat. Di tempat suci itu, Malaikat Jibril menyuguhkan dua minuman, khamar dan susu. Rasulullah memilih susu, dan Jibril pun menegaskan bahwa pilihan tersebut sesuai dengan fitrah manusia.
Setelah itu, dimulailah peristiwa Mi’raj, perjalanan Nabi Muhammad SAW menembus langit demi langit.
Perjalanan Mi’raj Bertemu Para Nabi
Di langit pertama, Nabi Muhammad SAW bertemu Nabi Adam AS. Di langit kedua, Rasulullah bertemu Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS. Perjalanan berlanjut ke langit ketiga dengan perjumpaan Nabi Yusuf AS yang dikenal dengan ketampanan parasnya.
Di langit keempat, Nabi Muhammad SAW bertemu Nabi Idris AS, kemudian di langit kelima bertemu Nabi Harun AS. Di langit keenam, Rasulullah berjumpa Nabi Musa AS, yang kelak memainkan peran penting dalam proses keringanan perintah salat. Di langit ketujuh, Nabi Muhammad SAW disambut Nabi Ibrahim AS, bapak para nabi, yang menyampaikan salam dan pesan tentang keindahan surga kepada umat Nabi Muhammad.
Sidratul Muntaha dan Perintah Salat
Puncak peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW terjadi saat Rasulullah mencapai Sidratul Muntaha. Di titik ini, Malaikat Jibril menampakkan wujud aslinya dan tidak dapat melanjutkan perjalanan. Nabi Muhammad SAW kemudian menghadap Allah SWT dan menerima perintah salat sebanyak 50 kali dalam sehari semalam.
Atas saran Nabi Musa AS, Rasulullah beberapa kali kembali memohon keringanan hingga akhirnya Allah SWT menetapkan salat lima waktu, namun dengan pahala setara 50 kali salat.
Hikmah Besar Isra Mi’raj
Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW menjadi penghibur bagi Rasulullah setelah menghadapi masa-masa berat, seperti wafatnya Khadijah dan Abu Thalib, serta penolakan penduduk Thaif. Selain itu, peristiwa ini menegaskan pentingnya salat sebagai ibadah utama yang menjaga hubungan manusia dengan Allah SWT.
Isra Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan, melainkan pesan spiritual tentang keimanan, kesabaran, dan kedisiplinan dalam menjalankan perintah salat lima waktu.
Editor : Ichaa Melinda Putri