TRENGGALEK NJENGGELEK-Kisah Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam. Perjalanan luar biasa ini tidak hanya menjadi mukjizat Rasulullah, tetapi juga menjadi titik balik spiritual bagi umat Islam, terutama dengan ditetapkannya kewajiban salat lima waktu yang langsung diperintahkan oleh Allah SWT.
Sebelum peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW terjadi, Rasulullah menghadapi masa dakwah yang sangat berat. Pada awal periode penyebaran Islam di Makkah, para pemimpin Quraisy menentang ajaran tauhid yang dibawa Rasulullah. Penolakan itu tidak hanya berupa hinaan, tetapi juga kekerasan terhadap para pengikut Islam, khususnya kaum miskin dan budak.
Tekanan Dakwah dan Perintah Hijrah
Kaum Quraisy kerap menyiksa para sahabat dengan cara yang kejam. Sementara itu, keluarga besar Rasulullah sendiri sebagian besar belum menerima Islam. Namun, Rasulullah masih mendapat perlindungan dari pamannya, Abu Thalib. Meski tidak memeluk Islam, Abu Thalib selalu menjaga dan membela keponakannya dari ancaman kaum Quraisy.
Seiring bertambahnya tekanan, Rasulullah memohon petunjuk kepada Allah SWT. Dalam situasi itulah Allah menurunkan perintah hijrah, menegaskan bahwa bumi ini luas dan selalu ada tempat aman bagi kaum muslimin. Rasulullah kemudian menganjurkan sebagian sahabat untuk hijrah ke Habasyah, negeri yang dipimpin Raja Najasyi yang dikenal adil dan bijaksana.
Tahun Kesedihan Rasulullah
Ujian semakin berat ketika Abu Thalib dan Siti Khadijah wafat pada tahun ke-10 kenabian. Tahun ini dikenal sebagai Amul Huzni atau Tahun Kesedihan. Rasulullah kehilangan pelindung sekaligus pendamping setia yang selalu menguatkannya dalam dakwah.
Setelah itu, Rasulullah pergi ke Thaif bersama Zaid bin Haritsah dengan harapan mendapat perlindungan. Namun, penduduk Thaif justru menolak dan melempari Rasulullah dengan batu hingga terluka. Peristiwa ini menjadi salah satu momen paling menyedihkan dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Terjadinya Peristiwa Isra Mikraj
Di tengah duka dan tekanan tersebut, Allah SWT menunjukkan kebesaran-Nya melalui peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Pada suatu malam di dekat Ka’bah, Malaikat Jibril datang membersihkan hati Rasulullah dengan air zamzam dan mengisinya dengan iman serta hikmah.
Kemudian datang Buraq, hewan tunggangan putih bersayap yang melaju sangat cepat. Rasulullah melakukan perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, yang disebut sebagai peristiwa Isra. Setibanya di Masjidil Aqsa, Rasulullah melaksanakan salat dua rakaat.
Dari sana, Malaikat Jibril mendampingi Rasulullah naik ke langit hingga Sidratul Muntaha dalam peristiwa Mikraj. Perjalanan yang secara logika mustahil ini terjadi hanya dalam satu malam, tepatnya pada 27 Rajab 621 Masehi.
Bertemu Para Nabi dan Menerima Perintah Salat
Dalam perjalanan Mikraj, Rasulullah bertemu para nabi di setiap lapisan langit. Di langit pertama bertemu Nabi Adam, langit kedua Nabi Yahya dan Nabi Isa, hingga bertemu Nabi Ibrahim di langit ketujuh.
Pada puncak perjalanan, Rasulullah bertemu Allah SWT dan menerima berbagai karunia, termasuk ditetapkannya kewajiban salat sebanyak 50 kali dalam sehari semalam. Atas saran Nabi Musa, Rasulullah beberapa kali memohon keringanan hingga akhirnya Allah menetapkan salat lima waktu dengan pahala setara 50 kali salat.
Hikmah Besar Isra Mikraj
Selain melihat surga dan neraka, peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW mengajarkan pentingnya kesabaran, keimanan, dan ketaatan. Meski sempat diragukan oleh kaum Quraisy, Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan tegas membenarkan peristiwa tersebut, sehingga mendapat gelar As-Siddiq.
Hingga kini, Isra Mikraj menjadi pengingat bagi umat Islam untuk menjaga salat lima waktu sebagai ibadah utama dan bukti ketaatan kepada Allah SWT.
Editor : Ichaa Melinda Putri