Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Detik-Detik Nabi Muhammad SAW Dituduh Berbohong Usai Isra Mikraj: Peran Abu Bakar Ash-Shiddiq Membalik Keraguan Satu Kota Makkah

Ichaa Melinda Putri • Kamis, 22 Januari 2026 | 18:45 WIB
Detik-Detik Nabi Muhammad SAW Dituduh Berbohong Usai Isra Mikraj: Peran Abu Bakar Ash-Shiddiq Membalik Keraguan Satu Kota Makkah
Detik-Detik Nabi Muhammad SAW Dituduh Berbohong Usai Isra Mikraj: Peran Abu Bakar Ash-Shiddiq Membalik Keraguan Satu Kota Makkah

TRENGGALEK NJENGGELEK-Peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW tidak hanya menjadi mukjizat besar dalam sejarah Islam, tetapi juga menjadi ujian iman yang berat bagi umat Muslim pada masa awal dakwah. Setelah kembali dari perjalanan malam yang luar biasa itu, Rasulullah SAW justru menghadapi gelombang tuduhan, ejekan, dan upaya sistematis untuk menjatuhkan kepercayaan masyarakat Makkah terhadap kenabiannya.

Pagi hari sepulang dari Isra dan Mikraj, Nabi Muhammad SAW duduk di depan Ka’bah, merenungi peristiwa agung yang baru saja dialaminya. Saat itulah Abu Jahal, tokoh Quraisy yang dikenal keras menentang Islam, melihat Rasulullah dan mulai memancing percakapan. Abu Jahal, yang oleh kaum Quraisy dijuluki Abu Hakam karena dianggap bijaksana, justru oleh Nabi diberi julukan Abu Jahal, simbol fanatisme dan kebodohan yang menutup kebenaran.

Pengakuan Tersembunyi Tokoh Quraisy

Dalam sejumlah riwayat, Abu Jahal, Abu Sufyan, dan beberapa tokoh Quraisy lainnya sebenarnya kerap diam-diam mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang dilantunkan Nabi Muhammad SAW pada malam hari. Mereka mengakui keindahan dan kebenaran maknanya, namun fanatisme kesukuan membuat mereka enggan beriman.

Ketika Abu Jahal bertanya, Rasulullah SAW dengan jujur menceritakan peristiwa Isra Mikraj: dijemput Malaikat Jibril, menaiki Buraq menuju Masjidil Aqsa, mengimami para nabi, lalu naik ke langit bertemu para nabi terdahulu hingga menerima perintah salat. Kisah ini justru dijadikan Abu Jahal sebagai senjata untuk mempermalukan Nabi di hadapan publik.

Upaya Menjatuhkan Nabi di Hadapan Publik

Abu Jahal membawa Nabi Muhammad SAW ke Bukit Abi Qubais, tempat strategis untuk menyampaikan pengumuman penting. Di sanalah ia mengumpulkan masyarakat Makkah dengan niat mempermalukan Rasulullah. Di hadapan kerumunan, Nabi Muhammad SAW kembali menyampaikan kisah Isra Mikraj secara jujur dan lugas.

Reaksi kaum Quraisy pun beragam. Sebagian besar menertawakan dan menganggap kisah itu mustahil. Bahkan sebagian sahabat sempat dilanda kebimbangan. Bagi mereka, perjalanan Makkah–Palestina yang biasanya ditempuh dua bulan, mustahil dilakukan hanya dalam satu malam, apalagi dilanjutkan naik ke langit.

Abu Bakar Ash-Shiddiq, Pilar Keimanan

Melihat situasi itu, Abu Jahal dan para pemuka Quraisy sepakat mencari satu sosok kunci: Abu Bakar. Mereka yakin, jika Abu Bakar goyah, maka keimanan umat Islam akan runtuh. Abu Bakar dikenal sebagai sahabat terdekat Nabi dengan iman yang sangat kuat.

Ketika Abu Jahal menyampaikan kisah Isra Mikraj dengan maksud mengejek, Abu Bakar justru menjawab tegas. Ia menyatakan bahwa jika Nabi Muhammad SAW benar-benar mengatakan hal tersebut, maka ia membenarkannya sepenuh hati. Baginya, turunnya wahyu dari langit saja telah ia yakini, maka naiknya Rasulullah ke langit bukanlah hal yang mustahil.

Sikap inilah yang kemudian membuat Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq, orang yang selalu membenarkan Rasulullah tanpa ragu.

Bukti Nyata di Hadapan Quraisy

Tidak berhenti di situ, Abu Bakar menantang kaum Quraisy untuk menguji kebenaran Nabi Muhammad SAW. Ia meminta Rasulullah menjelaskan secara detail kondisi Masjidil Aqsa dan kota Palestina, padahal Nabi belum pernah ke sana sebelumnya. Atas izin Allah SWT, Nabi Muhammad SAW menggambarkan pintu gerbang, jalan, pasar, hingga bangunan Masjidil Aqsa dengan sangat rinci.

Para tokoh Quraisy yang terbiasa bepergian ke Palestina terdiam. Mereka mengakui bahwa semua penjelasan Nabi Muhammad SAW benar dan sesuai dengan kenyataan.

Sebagai penutup, Nabi Muhammad SAW menyampaikan bukti lain. Dalam perjalanan pulang, beliau melihat kafilah Quraisy yang kehilangan unta di suatu lembah dan memberi petunjuk kepada mereka. Beberapa hari kemudian, kafilah itu tiba di Makkah persis seperti yang diceritakan Rasulullah, lengkap dengan ciri-ciri unta dan orang-orangnya.

Isra Mikraj, Ujian Iman dan Mukjizat Besar

Rangkaian peristiwa itu akhirnya membuat banyak orang Makkah meyakini kebenaran Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Kisah ini menegaskan bahwa Isra Mikraj bukan sekadar perjalanan luar biasa, tetapi juga ujian keimanan yang memisahkan antara iman sejati dan kesombongan akal.

Peristiwa ini kemudian diabadikan Allah SWT dalam Surat Al-Isra, sebagai bukti kebesaran dan mukjizat Rasulullah SAW.

Editor : Ichaa Melinda Putri
#sejarah islam #Mukjizat Nabi Muhammad #Abu Jahal #Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW #Abu Bakar Ash Shiddiq