Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Kronologi Lengkap Isra Mikraj Nabi Muhammad: Dari Masjidil Haram hingga Sidratul Muntaha

Ichaa Melinda Putri • Kamis, 22 Januari 2026 | 19:15 WIB
Kronologi Lengkap Isra Mikraj Nabi Muhammad: Dari Masjidil Haram hingga Sidratul Muntaha
Kronologi Lengkap Isra Mikraj Nabi Muhammad: Dari Masjidil Haram hingga Sidratul Muntaha

TRENGGALEK NJENGGELEK-Peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu kejadian paling agung dalam sejarah Islam. Perjalanan luar biasa ini menjadi bukti kebesaran Allah SWT sekaligus tonggak penting lahirnya kewajiban salat lima waktu bagi umat Islam. Isra Mikraj terjadi pada 27 Rajab tahun 621 Masehi, dalam satu malam yang penuh mukjizat.

Menurut riwayat, pada malam itu Nabi Muhammad SAW berada di Al-Hatim, dekat Ka’bah. Malaikat Jibril datang menghampiri Rasulullah dan membelah dada beliau, bukan untuk menyakiti, melainkan untuk menyucikan. Dada Rasulullah dibersihkan dengan air zamzam, lalu diisi dengan iman dan hikmah yang telah disiapkan dalam bejana emas.

Setelah proses penyucian hati, Malaikat Jibril mendatangkan Buraq, tunggangan putih yang melaju sangat cepat. Nabi Muhammad SAW kemudian menaiki Buraq, didampingi Malaikat Jibril, memulai perjalanan Isra, yakni perjalanan malam dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina.

Perjalanan Isra Menuju Masjidil Aqsa

Dalam perjalanan menuju Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW melewati beberapa tempat penting, di antaranya Madinah, Madyan, Bukit Tursina, dan Betlehem. Setelah tiba di Masjidil Aqsa, Rasulullah melaksanakan salat dua rakaat sebagai bentuk penghormatan terhadap tempat suci tersebut.

Usai salat, Malaikat Jibril kembali menemui Nabi Muhammad dengan membawa dua bejana, satu berisi khamar dan satu lagi berisi air susu. Rasulullah memilih air susu. Pilihan ini kemudian dipuji Malaikat Jibril sebagai keputusan yang sesuai dengan fitrah manusia, yaitu kesucian dan kebenaran.

Mi’raj Menembus Langit hingga Sidratul Muntaha

Setelah Isra, perjalanan dilanjutkan dengan Mi’raj, yaitu naiknya Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsa menuju langit ketujuh hingga Sidratul Muntaha. Di langit pertama, Rasulullah bertemu dengan Nabi Adam AS yang menyambut dan mendoakan kebaikan untuknya.

Perjalanan berlanjut ke langit kedua, di mana Nabi Muhammad bertemu Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS. Di langit ketiga bertemu Nabi Yusuf AS, di langit keempat bertemu Nabi Idris AS, di langit kelima bertemu Nabi Harun AS, di langit keenam bertemu Nabi Musa AS, dan di langit ketujuh bertemu Nabi Ibrahim AS.

Dari langit ketujuh, Nabi Muhammad SAW bersama Malaikat Jibril naik ke Sidratul Muntaha, tempat yang memiliki keindahan luar biasa dan di dalamnya terdapat empat sungai. Rasulullah kemudian melanjutkan perjalanan ke Mustawa untuk bertemu langsung dengan Allah SWT.

Perintah Salat dan Keringanan bagi Umat

Dalam pertemuan agung tersebut, Allah SWT memerintahkan umat Nabi Muhammad SAW untuk melaksanakan salat sebanyak 50 kali sehari semalam. Rasulullah kemudian turun hingga langit keenam dan bertemu kembali dengan Nabi Musa AS.

Nabi Musa menyarankan agar Rasulullah memohon keringanan, karena umat Islam dinilai tidak akan sanggup melaksanakan 50 kali salat. Atas saran tersebut, Nabi Muhammad SAW kembali menghadap Allah SWT beberapa kali. Setiap kali memohon keringanan, jumlah salat dikurangi, hingga akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu salat fardhu sehari semalam.

Meski jumlahnya lima, Allah SWT menjanjikan pahala setara dengan 50 kali salat. Inilah bukti kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW.

Hikmah Besar Peristiwa Isra Mikraj

Peristiwa Isra Mikraj mengandung banyak hikmah. Pertama, memperkuat keimanan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT. Perjalanan dari Makkah ke Palestina hingga menembus langit hanya dalam satu malam adalah bukti kekuasaan-Nya.

Kedua, umat Islam diajarkan untuk menghormati dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, sebagaimana para nabi terdahulu menyambut dan mendoakan beliau dalam perjalanan Mi’raj.

Ketiga, Isra Mikraj menegaskan betapa pentingnya salat lima waktu, satu-satunya ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT tanpa perantara. Salat menjadi penghubung utama antara hamba dengan Tuhannya dan pondasi kehidupan seorang muslim.

Editor : Ichaa Melinda Putri
#Kisah Nabi Muhammad #Sejarah Isra Mikraj #Isra Mikraj Nabi Muhammad #Peristiwa 27 Rajab #Perintah Salat Lima Waktu