KUDUS – Makam Sunan Muria kembali menjadi tujuan utama para peziarah yang ingin menelusuri jejak dakwah Wali Songo di lereng Gunung Muria. Terletak di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Makam Sunan Muria menawarkan pengalaman spiritual yang berpadu dengan panorama alam pegunungan.
Perjalanan menuju Makam Sunan Muria dapat dimulai dari kawasan Masjid Menara Kudus. Jarak antara Makam Sunan Kudus dan Makam Sunan Muria sekitar 22 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 40 menit menggunakan kendaraan bermotor. Rute ini menjadi jalur favorit para peziarah yang ingin mengunjungi dua makam wali dalam satu perjalanan.
Dalam tiga paragraf awal, Makam Sunan Muria tidak hanya dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir Raden Umar Said, tetapi juga sebagai destinasi wisata religi yang selalu ramai sepanjang tahun. Akses yang relatif mudah dan fasilitas yang tertata membuat kawasan ini nyaman untuk dikunjungi berbagai kalangan.
Rute Perjalanan Menuju Kawasan Makam Sunan Muria
Dari pusat Kota Kudus, peziarah dapat mengambil arah ke utara menuju Jalan Kudus–Colo. Di beberapa persimpangan, pengunjung perlu mengikuti petunjuk arah menuju Desa Colo dan kawasan makam.
Setelah memasuki gerbang “Selamat Datang di Kawasan Makam Sunan Muria”, pengunjung dapat memilih melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki atau menggunakan jasa ojek. Bagi yang naik ojek, perjalanan akan berakhir di pangkalan, kemudian dilanjutkan berjalan sekitar 80 meter menuju area utama.
Di sepanjang jalan menuju Makam Sunan Muria, berjajar toko-toko yang menjual busana muslim, suvenir, makanan, dan minuman khas Gunung Muria. Suasana ini menambah semarak kawasan ziarah, terutama saat akhir pekan dan hari libur.
Tata Tertib dan Suasana di Area Makam
Sebelum memasuki kompleks makam, peziarah diwajibkan melepas alas kaki. Sandal dan sepatu dibawa sendiri atau dititipkan di tempat yang telah disediakan.
Bagi rombongan besar, panitia ziarah diwajibkan mendaftar terlebih dahulu. Aturan ini diterapkan untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan seluruh pengunjung.
Suasana di sekitar makam terasa khusyuk dan tenang. Pengelolaan kawasan yang rapi membuat peziarah dapat berdoa tanpa terganggu oleh pedagang atau pengemis.
Profil Sunan Muria dan Jejak Sejarahnya
Sunan Muria memiliki nama asli Raden Umar Said. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi dan dikenal sebagai putra Sunan Kalijaga dari istrinya, Dewi Saroh, putri Syekh Maulana Ishak.
Sejak kecil, Raden Umar Said telah menunjukkan ketertarikan pada ilmu agama. Ia kemudian berguru kepada Ki Ageng Ngerang bersama Sunan Kudus dan sejumlah tokoh lainnya.
Dalam berdakwah, Sunan Muria menggunakan pendekatan budaya. Ia memanfaatkan kesenian tradisional seperti gamelan, wayang, dan tembang Jawa sebagai media penyebaran Islam.
Beberapa tembang peninggalannya yang masih dikenal hingga kini antara lain Kinanthi dan Sinom. Tembang Kinanthi berisi pesan tentang kasih sayang orang tua kepada anak, sementara Sinom mengajarkan nilai moral dan kehidupan.
Sunan Muria wafat pada tahun 1551 Masehi dan dimakamkan di Desa Colo. Hingga kini, makamnya menjadi salah satu pusat ziarah terbesar di Jawa Tengah.
Metode Dakwah yang Membumi
Keistimewaan Sunan Muria terletak pada pendekatan dakwahnya yang dekat dengan masyarakat kecil. Ia lebih banyak berdakwah kepada petani, nelayan, dan pedagang dibanding kalangan bangsawan.
Ajaran yang disampaikan meliputi ketaatan kepada Allah SWT, kesederhanaan, wirid, kedermawanan, dan kebijaksanaan dalam menghadapi budaya lokal. Metode ini membuat ajaran Islam mudah diterima tanpa menimbulkan konflik.
Pendekatan tersebut menjadikan dakwah Sunan Muria sangat efektif dan meninggalkan pengaruh besar hingga kini.
Wisata Religi dan Ekonomi Warga
Setelah berziarah, pengunjung biasanya beristirahat atau berbelanja oleh-oleh di sekitar kawasan makam. Aktivitas ini turut menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat.
Pedagang makanan, suvenir, hingga jasa ojek menggantungkan hidup dari ramainya wisata religi Makam Sunan Muria. Kehadiran peziarah menjadi sumber penghasilan utama bagi warga Desa Colo.
Bagi banyak orang, kunjungan ke Makam Sunan Muria bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga perjalanan sejarah dan budaya. Melalui ziarah ini, nilai-nilai keteladanan Sunan Muria terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Editor : Dyah Wulandari