BLORA - Tirto Wening Paseban Kahuripan Blora kini menjadi salah satu destinasi wisata religi yang semakin ramai dikunjungi peziarah maupun wisatawan umum. Berada di kompleks Gereja Santo Petrus Tasin, Desa Jepang, kawasan ini dikenal karena sumber airnya yang dipercaya membawa ketenangan batin, kejernihan pikiran, serta kesegaran alami yang berbeda dari air minum biasa.
Keberadaan Tirto Wening Paseban Kahuripan Blora tidak hanya menjadi sarana ibadah umat Katolik, tetapi juga ruang spiritual terbuka bagi siapa saja yang ingin mencari ketenangan. Air dari sumur Tirto Wening bahkan dapat langsung diminum karena telah melalui proses penyaringan menggunakan teknologi reverse osmosis (RO).
Banyak pengunjung mengaku merasakan sensasi berbeda saat meminum air dari Tirto Wening Paseban Kahuripan Blora. Airnya disebut terasa “tebal”, segar, adem, dan memiliki cita rasa khas yang sulit ditemukan pada air mineral biasa.
Makna Tirto Wening dan Filosofi Spiritual
Nama Tirto Wening berasal dari bahasa Jawa. Tirto berarti air, sementara wening berarti jernih. Secara filosofis, Tirto Wening dimaknai sebagai air yang mampu menjernihkan pikiran dan membersihkan hati.
Pengelola kawasan menyebut, filosofi tersebut menjadi harapan utama dibangunnya sumur ini. Setiap orang yang meminum air Tirto Wening diharapkan dapat berpikir lebih positif, memiliki ketenangan batin, dan mampu menghadapi kehidupan dengan sikap yang lebih bijaksana.
Sejumlah rohaniwan dan suster yang hadir di lokasi turut menyampaikan bahwa air Tirto Wening tidak hanya menyegarkan tubuh, tetapi juga membantu menenangkan emosi dan pikiran. Banyak peziarah memanfaatkannya sebagai sarana refleksi diri dan doa.
Proses Penemuan Sumber Air yang Dianggap Istimewa
Keberadaan sumber air Tirto Wening berawal dari proses pencarian air yang tidak mudah. Menurut pengelola, sebelumnya telah dilakukan pengeboran di beberapa titik hingga kedalaman 15 hingga 20 meter, namun tidak ditemukan sumber air.
Namun, Romo Made disebut mendapat petunjuk untuk menggali di satu titik tertentu. Saat dilakukan penggalian, air justru keluar pada kedalaman sekitar dua meter. Hal ini sempat menimbulkan keraguan karena dianggap tidak lazim.
Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, kualitas air tersebut dinyatakan jernih dan layak minum. Meski demikian, pengelola tetap meningkatkan kualitasnya dengan memasang sistem filter RO agar lebih higienis dan aman dikonsumsi pengunjung.
Dari hasil pengujian, air Tirto Wening memenuhi standar kelayakan air minum. Hal inilah yang membuat pengunjung diperbolehkan langsung meminum air dari kran yang tersedia di lokasi.
Paseban Kahuripan, Ruang Ibadah Terbuka untuk Semua
Paseban Kahuripan dibangun sebagai tempat doa dan perenungan yang menyatu dengan alam. Berbeda dengan gua Maria pada umumnya, kawasan ini mengusung konsep ruang terbuka yang dapat diakses siapa saja.
Pengelola menegaskan bahwa Bunda Maria bukan hanya milik umat Katolik, melainkan ibu bagi semua manusia yang mengimaninya. Karena itu, Paseban Kahuripan terbuka bagi masyarakat lintas agama yang ingin mencari ketenangan.
Banyak pengunjung non-Katolik datang untuk bermeditasi, menenangkan pikiran, atau sekadar menikmati suasana damai. Lingkungan yang asri, bersih, dan tertata rapi menjadi daya tarik tersendiri.
Potensi Destinasi Wisata Religi Blora
Dengan hadirnya Tirto Wening dan Paseban Kahuripan, kawasan ini dinilai memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata religi unggulan di Blora. Peziarah datang tidak hanya dari Paroki Cepu, tetapi juga dari Rembang, Tuban, Bojonegoro, hingga wilayah lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Pengelola berharap kawasan ini dapat terus berkembang tanpa kehilangan nilai spiritualnya. Selain sebagai tempat ibadah, lokasi ini juga diharapkan mampu menggerakkan ekonomi warga sekitar melalui sektor pariwisata.
Pesan utama yang ingin disampaikan pengelola kepada pengunjung adalah pentingnya menjaga pikiran jernih, hati yang bersih, serta hidup berdampingan dengan alam. Melalui Tirto Wening Paseban Kahuripan Blora, nilai-nilai spiritual tersebut terus diwariskan kepada generasi mendatang.
Editor : Dyah Wulandari