Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Terungkap Sejarah Pangeran Samudro Gunung Kemukus, Kisah Putra Majapahit hingga Mitos Ziarah yang Selama Ini Disalahpahami

Dyah Wulandari • Sabtu, 7 Februari 2026 | 14:40 WIB

Sejarah Pangeran Samudro Gunung Kemukus, dari putra Majapahit hingga tradisi ziarah Jumat Pon. Simak kisah lengkap dan fakta di sini
Sejarah Pangeran Samudro Gunung Kemukus, dari putra Majapahit hingga tradisi ziarah Jumat Pon. Simak kisah lengkap dan fakta di sini

JAKARTA – Sejarah Pangeran Samudro Gunung Kemukus kembali menjadi perhatian publik setelah beredar video yang mengulas secara rinci asal-usul tokoh utama di balik destinasi wisata religi tersebut. Kisah perjalanan hidup Pangeran Samudro menyimpan nilai sejarah, spiritualitas, sekaligus pesan moral yang selama ini kerap disalahartikan oleh masyarakat.

Dalam penelusuran sejarah Pangeran Samudro Gunung Kemukus, diketahui bahwa tokoh ini merupakan putra angkat Raja Majapahit terakhir. Ia lahir dari Dewi Ontrowulan, putri Raden Damarwulan. Dengan garis keturunan tersebut, Pangeran Samudro merupakan sepupu Raja Majapahit terakhir sebelum runtuhnya kerajaan besar di Nusantara itu.

Saat Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran, Pangeran Samudro tidak ikut melarikan diri bersama keluarganya. Ia justru diboyong ke Demak Bintoro oleh Sultan Demak ketika berusia sekitar 18 tahun. Di sana, Pangeran Samudro mendapat bimbingan ilmu agama dari Sunan Kalijaga.

Baca Juga: Terungkap Wasiat Sunan Kudus Bagus Ngaji Dagang yang Dipercaya Bawa Kemuliaan, Ini Kisah Lengkap dari Makam Menara

Perjalanan Spiritual Menuju Lereng Lawu

Atas petunjuk Sultan Demak melalui Sunan Kalijaga, Pangeran Samudro diperintahkan untuk berguru kepada Kyai Ageng Gugur di lereng Gunung Lawu. Misi utamanya bukan hanya memperdalam ilmu Islam, tetapi juga menyatukan kembali saudara-saudaranya yang tercerai-berai.

Selama menimba ilmu, Pangeran Samudro tidak mengetahui bahwa Kyai Ageng Gugur merupakan kerabatnya sendiri. Setelah dianggap matang secara spiritual, identitas tersebut baru diungkapkan. Kyai Ageng Gugur pun bersedia mendukung misi penyatuan keluarga demi membangun kekuatan Kesultanan Demak.

Baca Juga: Sensasi Naik Ojek Gunung Hingga Rompi Rp277 Juta, Menyingkap Misteri Makam dan Masjid Sunan Muria di Kudus

Setelah tugasnya selesai, Pangeran Samudro kembali menuju Demak bersama dua abdinya. Namun, dalam perjalanan pulang, ia jatuh sakit di wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen.

Wafat dan Dimakamkan di Gunung Kemukus

Kondisi Pangeran Samudro terus memburuk hingga akhirnya wafat sebelum sempat kembali ke Demak. Atas petunjuk Sultan Demak, jasadnya dimakamkan di sebuah bukit di wilayah barat laut tempat ia meninggal.

Awalnya, lokasi makam tersebut berada di tengah hutan dan jarang dijamah manusia. Namun, seiring waktu, kawasan tersebut mulai dihuni warga. Muncul pula fenomena kabut tebal menyerupai asap yang kerap terlihat di bukit itu, terutama menjelang musim hujan dan kemarau.

Baca Juga: Terungkap! 8 Wisata Angker di Indonesia yang Dulunya Populer Kini Terbengkalai dan Penuh Kisah Mistis

Karena fenomena tersebut, masyarakat setempat menamai kawasan itu sebagai Gunung Kemukus, yang berasal dari kata “kukus” atau asap.

Kisah Dewi Ontrowulan dan Sendang Keramat

Setelah mendengar kabar wafatnya sang putra, Dewi Ontrowulan segera menyusul ke makam Pangeran Samudro. Ia memilih menetap di sekitar makam untuk merawat pusara anak semata wayangnya.

Dalam kisah yang berkembang, Dewi Ontrowulan dipercaya pernah bertemu secara gaib dengan putranya. Dalam pertemuan tersebut, Pangeran Samudro menyarankan sang ibu untuk bersuci di sebuah sendang di sekitar makam.

Baca Juga: Menyusuri Kampung Gajah Bandung yang Terbengkalai, Wisata Angker Penuh Cerita Horor dan Misteri

Sendang tersebut kemudian dikenal sebagai Sendang Ontrowulan. Konon, setelah melakukan ritual bersuci, Dewi Ontrowulan mencapai moksa dan menghilang tanpa jejak. Hingga kini, keberadaannya tetap menjadi misteri.

Tradisi Ziarah Malam Jumat Pon

Dalam tradisi masyarakat setempat, waktu utama berziarah ke Gunung Kemukus adalah malam Jumat Pon. Tradisi ini berakar dari kisah Sultan Demak yang menerima pusaka Kotang Ontokusumo pada hari Jumat Pon.

Baca Juga: Benteng Willem I Ambarawa Dibuka Gratis Usai Renovasi, Nuansa Eropa hingga Spot Foto ala Hogwarts Bikin Wisatawan Membludak

Sejak saat itu, malam Jumat Pon dijadikan momentum doa bersama dan tahlilan. Hingga kini, ribuan peziarah datang ke makam Pangeran Samudro pada waktu tersebut.

Meluruskan Mitos Ziarah Menyimpang

Salah satu bagian penting dari sejarah Pangeran Samudro Gunung Kemukus adalah pelurusan makna ritual ziarah. Dalam ajaran aslinya, inti ziarah adalah kesungguhan, kemantapan hati, dan niat yang suci dalam meraih cita-cita.

Baca Juga: Kampung Rawa Ambarawa Jadi Destinasi Wisata Favorit, Panorama Sawah & Gunung hingga Wahana Perahu Seru Buat Selfie

Namun, penafsiran keliru terhadap kata “demenan” memunculkan anggapan bahwa ziarah harus dilakukan bersama pasangan tidak sah. Padahal, makna sebenarnya adalah mendekatkan diri pada tujuan atau cita-cita dengan penuh kesungguhan.

Para tokoh masyarakat menegaskan bahwa ajaran Pangeran Samudro justru menekankan kejujuran, kesucian niat, dan ketekunan dalam menghadapi kehidupan.

Warisan Spiritual yang Terus Hidup

Hingga kini, sosok Pangeran Samudro masih menyimpan banyak misteri. Sebagian kalangan meyakini Gunung Kemukus hanyalah salah satu petilasan dalam perjalanan dakwahnya.

Baca Juga: Mengenal Objek Wisata Terbengkalai Indonesia: Dari Kampung Gajah Hingga Wonderia, Kini Sepi dan Angker

Meski demikian, nilai spiritual dan sejarah yang diwariskan tetap menjadi daya tarik utama. Gunung Kemukus tidak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga ruang refleksi bagi masyarakat untuk memahami makna perjuangan, keikhlasan, dan keteguhan iman

Editor : Dyah Wulandari
#gunung kemukus #Pangeran Samudro #Sendang Ontrowulan #sragen