JAKARTA – Ritual seks Gunung Kemukus kembali menjadi perbincangan publik setelah beredar ulang sejumlah dokumentasi dan cerita lama tentang praktik menyimpang yang pernah terjadi di kawasan wisata religi tersebut. Meski kini telah direvitalisasi, sejarah kelam Gunung Kemukus tetap menjadi bagian dari perjalanan panjang destinasi ziarah di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
Dalam berbagai laporan dan video dokumenter, Ritual seks Gunung Kemukus disebut pernah menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian peziarah yang datang dengan tujuan “ngalap berkah”. Mereka meyakini bahwa permohonan akan terkabul jika melakukan serangkaian ritual tertentu, termasuk hubungan intim dengan pasangan yang bukan suami atau istri sah.
Fenomena ini bahkan pernah diulas oleh Majalah Intisari pada tahun 2002. Dalam laporan tersebut, digambarkan bagaimana kawasan Gunung Kemukus dipenuhi peziarah dengan beragam tujuan, mulai dari spiritual hingga kepentingan duniawi.
Bahasa Isyarat dan Pola Perkenalan Peziarah
Dalam praktiknya, para peziarah memiliki cara tersendiri untuk saling mengenali. Salah satu istilah yang populer adalah “mawon” atau “piyambak mawon”, yang berarti datang sendirian.
Jika dua orang lawan jenis sama-sama mengaku datang sendiri, perkenalan biasanya berlanjut dengan percakapan santai di sekitar pepohonan atau area makam. Dari situ, komunikasi bisa berkembang hingga kesepakatan melakukan ritual bersama.
Namun, tidak semua peziarah memahami medan Gunung Kemukus. Banyak pendatang baru yang tertipu oleh oknum tidak bertanggung jawab, termasuk pekerja seks komersial atau pengunjung yang hanya mencari kepuasan sesaat.
Proses Ritual Versi Mitos Lama
Dalam kepercayaan yang berkembang, ritual diawali dengan mandi di Sendang Ontrowulan, mata air yang berada di sebelah timur makam Pangeran Samudro. Setelah itu, peziarah melakukan nyekar atau tabur bunga di makam utama.
Tahapan berikutnya adalah bermeditasi atau berdiam diri sepanjang malam di sekitar kawasan makam. Pada masa lalu, tahapan ini kemudian disertai dengan hubungan intim sebagai bagian dari ritual.
Pada puncaknya, lereng Gunung Kemukus pernah dipenuhi ratusan pasangan yang tidur bersama di bawah sarung atau selimut tipis. Kondisi tersebut membuat kawasan ini dikenal luas sebagai lokasi ritual seks terselubung.
Akar Mitos Pangeran Samudro
Ritual seks Gunung Kemukus tidak terlepas dari mitos tentang Pangeran Samudro dan Dewi Ontrowulan. Salah satu versi cerita menyebutkan adanya hubungan terlarang antara ibu dan anak yang berujung tragedi.
Baca Juga: Menguak Taman Bermain Terbengkalai di Semarang, Wisata Angker Penuh Misteri dan Fenomena Metafisik
Versi lain menyebutkan bahwa keduanya wafat dalam keadaan mengenaskan setelah dipergoki. Sebelum meninggal, Pangeran Samudro dikisahkan berpesan bahwa siapa pun yang melanjutkan “hubungan” tersebut akan dikabulkan permintaannya.
Cerita inilah yang kemudian berkembang dan ditafsirkan secara keliru oleh sebagian masyarakat. Mitos tersebut menyebar dari mulut ke mulut hingga menjadi legitimasi praktik menyimpang.
Disamakan dengan Tempat Ziarah Lain
Secara umum, Gunung Kemukus tidak jauh berbeda dengan sejumlah lokasi ziarah lain di Pulau Jawa, seperti Gunung Kawi, Gunung Jati, dan Gunung Muria. Semua berpusat pada makam tokoh yang dianggap memiliki kesaktian.
Perbedaannya terletak pada penafsiran ritual. Jika di tempat lain fokus pada doa dan tapa, di Gunung Kemukus muncul tafsir ekstrem yang mengaitkan spiritualitas dengan hubungan fisik.
Para sejarawan dan tokoh agama menilai penafsiran tersebut tidak memiliki dasar ajaran yang kuat dan cenderung menyimpang dari nilai-nilai keislaman.
Penertiban dan Perubahan Total
Maraknya pemberitaan media nasional dan internasional akhirnya mendorong pemerintah bertindak. Aparat gabungan melakukan penertiban terhadap penginapan liar, karaoke, dan praktik prostitusi.
Kawasan Gunung Kemukus kemudian direvitalisasi dengan anggaran besar. Area makam, sendang, dan taman dibenahi. Pengawasan diperketat, dan aktivitas menyimpang ditekan secara sistematis.
Kini, kawasan ini diarahkan kembali menjadi wisata religi dan budaya yang sehat.
Pelurusan Makna Ziarah
Pengelola dan tokoh masyarakat menegaskan bahwa inti ziarah di Gunung Kemukus adalah kesungguhan, keikhlasan, dan doa kepada Tuhan. Tidak ada ajaran yang membenarkan ritual seks sebagai sarana mencari keberuntungan.
Makna “ngalap berkah” sejatinya merujuk pada usaha spiritual melalui ibadah, sedekah, dan introspeksi diri.
Upaya edukasi terus dilakukan agar generasi muda tidak lagi terjebak pada mitos lama yang menyesatkan.
Menuju Wisata Religi Bermartabat
Saat ini, Gunung Kemukus mulai dikenal sebagai destinasi ziarah yang lebih tertib dan ramah keluarga. Tradisi malam Jumat Pon tetap berjalan, namun dalam bingkai religius.
Baca Juga: Wisata Gunung Bromo Tak Lengkap Jika Belum ke 8 Spot Terbaik Ini, Nomor 1 Jadi Rebutan Sunrise
Transformasi ini diharapkan mampu menghapus stigma lama tentang ritual seks Gunung Kemukus dan menggantinya dengan citra positif sebagai pusat wisata religi di Jawa Tengah
Editor : Dyah Wulandari