Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Makna Imlek di Indonesia: Inayah Wahid Tegaskan Peran Gus Dur Kembalikan Identitas Tionghoa, Bukan Sekadar Izinkan Perayaan

Axsha Zazhika • Selasa, 17 Februari 2026 | 14:00 WIB
Makna Imlek di Indonesia: Inayah Wahid Tegaskan Peran Gus Dur Kembalikan Identitas Tionghoa, Bukan Sekadar Izinkan Perayaan
Makna Imlek di Indonesia: Inayah Wahid Tegaskan Peran Gus Dur Kembalikan Identitas Tionghoa, Bukan Sekadar Izinkan Perayaan

TRENGGALEK NJENGGELEK - Makna Imlek di Indonesia kembali menjadi perbincangan hangat menjelang perayaan Tahun Baru Imlek. Tidak hanya soal lampion merah dan angpau, Imlek menyimpan sejarah panjang perjuangan identitas dan keberagaman di Tanah Air.

Dalam program Talk IS Fan bersama Raitama, Inayah Wahid, putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, menegaskan bahwa makna Imlek di Indonesia jauh melampaui seremoni tahunan. Menurutnya, perayaan ini adalah simbol pengakuan identitas yang sempat terpinggirkan selama puluhan tahun.

Imlek sendiri merupakan perayaan tahun baru dalam tradisi Tionghoa yang mengikuti kalender lunar. Secara kultural, Imlek menandai pergantian musim dan siklus kehidupan, khususnya datangnya musim semi di Tiongkok. Namun di Indonesia, makna Imlek berkembang menjadi refleksi perjalanan sejarah, politik, dan sosial bangsa.

Baca Juga: Jejak Kerajaan Kanjuruhan di Malang: Sejarah Kerajaan Kanjuruhan, Raja Dewa Simha hingga Ratu Utejana yang Jarang Diketahui

Dari Tradisi Leluhur hingga Simbol Kebersamaan

Dalam tradisi Tionghoa, Imlek identik dengan sembahyang leluhur dan makan malam keluarga saat malam pergantian tahun. Ritual tersebut melambangkan penghormatan kepada leluhur sekaligus mempererat kebersamaan keluarga.

Namun perjalanan Imlek di Indonesia tidak selalu mudah. Pada masa Orde Baru, ekspresi budaya Tionghoa dibatasi. Perayaan Imlek dilakukan secara tertutup dan penuh keterbatasan. Titik balik terjadi pada era reformasi, ketika Gus Dur mencabut berbagai pembatasan dan mengembalikan hak warga Tionghoa untuk merayakan identitasnya secara terbuka.

“Inilah yang sering disalahpahami. Bukan Gus Dur membolehkan, tapi mengembalikan hak yang memang sudah seharusnya ada,” ujar Inayah Wahid.

Menurutnya, Indonesia memang sejak awal terdiri dari identitas yang beragam, termasuk etnis Tionghoa. Karena itu, pengakuan terhadap Imlek bukanlah bentuk pemberian izin, melainkan pengembalian hak dasar warga negara.

Imlek dan Peran Gus Dur dalam Sejarah

Penetapan Imlek sebagai hari libur nasional menjadi tonggak penting dalam sejarah keberagaman Indonesia. Tak heran jika banyak orang menyebut Gus Dur sebagai “Bapak Tionghoa Indonesia”.

Inayah menekankan bahwa langkah ayahnya bukan semata soal Imlek, melainkan konsistensi dalam membela kemanusiaan. Bahkan jauh sebelum menjadi presiden, Gus Dur telah memperjuangkan hak-hak warga keturunan Tionghoa, termasuk dalam persoalan legalitas pernikahan umat Konghucu di masa lalu.

“Identitas manusia itu tidak bisa dihapus atau direndahkan. Itu prinsip yang selalu dipegang Gus Dur,” jelasnya.

Kini, suasana Imlek terasa jauh lebih terbuka. Perayaan tak hanya berlangsung di rumah ibadah atau lingkungan keluarga, tetapi juga di pusat perbelanjaan, hotel, hingga ruang publik. Diskon, dekorasi merah, hingga pertunjukan barongsai menjadi pemandangan umum.

Fenomena ini menunjukkan bahwa Imlek telah bertransformasi menjadi bagian dari budaya nasional yang dirayakan lintas kelompok.

Akulturasi Budaya dan Wajah Indonesia

Makna Imlek di Indonesia juga tercermin dalam akulturasi budaya di berbagai daerah. Perayaan Imlek di Jakarta berbeda nuansanya dengan di Semarang, Surabaya, Lasem, atau wilayah Jawa lainnya.

Tradisi Tionghoa berdialog dengan budaya lokal, menghasilkan kekayaan ekspresi yang unik di tiap daerah. Hal ini memperkuat posisi Imlek sebagai simbol keberagaman yang hidup dan berkembang.

Namun, Inayah mengingatkan bahwa kemeriahan hari ini tidak terjadi begitu saja. Ada perjuangan panjang di balik kebebasan yang kini dinikmati.

“Kita rayakan Imlek hari ini dengan meriah, tapi jangan lupa ada masa ketika orang tidak punya hak untuk merayakannya,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk memastikan bahwa kebebasan merayakan identitas tidak hanya dinikmati satu kelompok saja. Semua warga negara, apa pun latar belakangnya, berhak mendapatkan ruang yang sama.

Refleksi Demokrasi dan Tantangan Kekinian

Dalam perbincangan tersebut, Inayah juga menyinggung tantangan demokrasi hari ini. Ia menilai bahwa nilai-nilai yang dulu diperjuangkan Gus Dur tetap relevan untuk membaca kondisi Indonesia saat ini.

Menurutnya, konsistensi pada nilai dan visi jauh lebih penting dibanding sekadar kebijakan yang berubah-ubah. Prinsip penghormatan terhadap identitas dan keberagaman harus terus dijaga agar Indonesia tidak mundur dari semangat reformasi.

Baca Juga: Surga Tersembunyi Indonesia: Dari Pantai Pink Pulau Komodo hingga Danau Kelimutu yang Warnanya Bisa Berubah

Di akhir perbincangan, Inayah menyampaikan ucapan selamat Imlek bagi yang merayakan. Namun ia menegaskan kembali bahwa Imlek bukan hanya tentang perayaan, melainkan tentang perjalanan panjang merawat keberagaman.

Makna Imlek di Indonesia hari ini menjadi pengingat bahwa perbedaan bukan untuk dipisahkan, melainkan dirayakan bersama sebagai kekuatan bangsa.

Editor : Axsha Zazhika
#gus dur #keberagaman indonesia #Makna Imlek di Indonesia #perayaan imlek #inayah wahid