TRENGGALEK NJENGGELEK - Bolehkah orang Kristen merayakan Imlek? Pertanyaan ini kerap muncul setiap kali Tahun Baru Imlek tiba. Di tengah tradisi, budaya, dan berbagai ritual yang melekat, sebagian umat Kristen masih ragu bagaimana menyikapinya.
Melalui tayangan rohani Galilea Network, pembahasan mengenai bolehkah orang Kristen merayakan Imlek dijelaskan secara terbuka berdasarkan perspektif iman Kristen dan prinsip Alkitab. Intinya, budaya dapat dirayakan selama tidak bertentangan dengan firman Tuhan.
Pertanyaan bolehkah orang Kristen merayakan Imlek tidak bisa dilepaskan dari sejarah dan tradisi Imlek itu sendiri. Imlek atau Tahun Baru China merupakan hari pertama dalam kalender lunar yang dirayakan masyarakat Tionghoa sebagai penanda pergantian musim, khususnya menyambut musim semi.
Asal Usul dan Tradisi Imlek
Secara historis, Imlek bermula dari tradisi para petani di Tiongkok yang merayakan datangnya musim semi. Dalam legenda, dikenal sosok Nian, binatang buas yang konon muncul di akhir musim dingin dan menyerang desa.
Masyarakat percaya Nian takut pada warna merah dan suara keras. Karena itu, muncullah tradisi menggantung lampion merah, menempel kertas merah di pintu, hingga menyalakan petasan dan kembang api. Tradisi tersebut terus berkembang hingga kini menjadi bagian identitas budaya Tionghoa.
Perayaan Imlek identik dengan membersihkan rumah, mengenakan pakaian baru, membagikan angpau, sembahyang Imlek, hingga perayaan Cap Go Meh. Selain itu, momen ini menjadi ajang silaturahmi dan berkumpul bersama keluarga besar.
Namun di balik kemeriahan tersebut, muncul pertanyaan teologis: apakah umat Kristen boleh ikut merayakannya?
Perspektif Iman Kristen terhadap Imlek
Dalam penjelasan yang disampaikan, ditegaskan bahwa Imlek telah menjadi bagian dari adat istiadat masyarakat Tionghoa. Mengikuti budaya yang baik tidaklah salah, selama tidak terlibat dalam ritual mistis yang bertentangan dengan prinsip Alkitab.
“Maknai budaya dengan baik dan santun tanpa melanggar firman Tuhan,” menjadi prinsip utama yang ditekankan.
Dijelaskan pula bahwa dalam iman Kristen, kuasa kejahatan tidak takut pada petasan atau warna merah sebagaimana legenda Nian. Namun, orang percaya meyakini bahwa kuasa kegelapan dikalahkan melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.
Dengan demikian, Imlek dapat dimaknai ulang sebagai momen keluarga (family event), bukan sebagai ritual spiritual yang menyimpang dari iman.
Imlek sebagai Momen Menghormati Orang Tua
Salah satu nilai utama dalam perayaan Imlek adalah penghormatan kepada orang tua dan leluhur. Pepatah Cina kuno berbunyi, “Sewaktu minum air, ingatlah sumbernya.” Nilai ini sejalan dengan ajaran Alkitab.
Dalam Amsal 23:22 tertulis, “Dengarkanlah ayahmu yang telah menyebabkan engkau lahir, dan jangan memandang rendah ibumu karena ia sudah tua.” Demikian pula dalam Efesus 6:2-3 ditegaskan perintah untuk menghormati orang tua sebagai perintah yang disertai janji.
Karena itu, menghormati orang tua dan berkumpul bersama keluarga dalam momen Imlek justru sejalan dengan nilai kekristenan.
Bagi umat Kristen Tionghoa, Imlek bisa menjadi kesempatan mempererat relasi keluarga, membangun silaturahmi, dan menjadi sarana kesaksian iman di tengah budaya.
Prinsip Utama: Budaya Ya, Sinkretisme Tidak
Penegasan penting dalam pembahasan ini adalah membedakan antara budaya dan ritual mistis. Budaya dapat dipelihara sebagai identitas dan warisan leluhur. Namun ketika berbenturan dengan prinsip Alkitab, maka iman harus tetap menjadi prioritas utama.
“Jangan sampai orang Tionghoa kehilangan identitasnya, tetapi tetap menjunjung tinggi firman Tuhan,” demikian pesan yang disampaikan.
Bagi mereka yang tidak merayakan Imlek, dianjurkan tetap menghormati saudara atau teman yang merayakannya. Sikap saling menghargai menjadi kunci hidup dalam masyarakat majemuk.
Pada akhirnya, bolehkah orang Kristen merayakan Imlek kembali pada bagaimana memaknainya. Jika dimaknai sebagai ajang kebersamaan keluarga, ungkapan syukur, dan penghormatan kepada orang tua tanpa praktik yang bertentangan dengan iman, maka hal tersebut tidak menjadi persoalan.
Imlek bukan sekadar tentang angpau, pakaian merah, atau petasan. Lebih dari itu, ia dapat menjadi momen refleksi, syukur, dan kesempatan memperkuat relasi keluarga serta kesaksian hidup di tengah keberagaman budaya.
Editor : Axsha Zazhika