Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Sejarah Imlek dan Tradisi Perayaannya di Indonesia, Dari Legenda Nian hingga Resmi Jadi Hari Libur Nasional

Axsha Zazhika • Selasa, 17 Februari 2026 | 14:15 WIB
Sejarah Imlek dan Tradisi Perayaannya di Indonesia, Dari Legenda Nian hingga Resmi Jadi Hari Libur Nasional
Sejarah Imlek dan Tradisi Perayaannya di Indonesia, Dari Legenda Nian hingga Resmi Jadi Hari Libur Nasional

TRENGGALEK NJENGGELEK - Sejarah Imlek dan tradisi perayaannya selalu menarik untuk dikulik setiap memasuki Tahun Baru China. Perayaan yang identik dengan lampion merah, barongsai, dan angpau ini ternyata memiliki perjalanan panjang, baik di Tiongkok maupun di Indonesia.

Sejarah Imlek dan tradisi perayaannya berawal dari sistem penanggalan Cina atau kalender lunar. Berbeda dengan kalender Masehi, kalender lunar mengikuti siklus bulan dan matahari, sehingga tanggal perayaan Imlek berubah setiap tahunnya.

Sejarah Imlek dan tradisi perayaannya juga tidak bisa dilepaskan dari legenda dan mitos yang berkembang di masyarakat Tionghoa. Salah satunya adalah kisah tentang monster bernama Nian yang menjadi cikal bakal berbagai simbol khas Imlek.

Baca Juga: Jejak Kerajaan Kanjuruhan di Malang: Sejarah Kerajaan Kanjuruhan, Raja Dewa Simha hingga Ratu Utejana yang Jarang Diketahui

Asal Usul Imlek dan Legenda Nian

Melansir sejumlah referensi akademik, Imlek atau Sin Cia sudah dikenal sejak zaman dinasti di Tiongkok. Awalnya, perayaan ini merupakan tradisi para petani untuk menyambut musim semi sebagai simbol awal kehidupan baru.

Dalam legenda Tiongkok, diceritakan bahwa dahulu kala terdapat monster buas bernama Nian yang muncul setiap akhir musim dingin. Nian konon memakan hasil panen, ternak, bahkan menyerang penduduk desa.

Suatu hari, warga melihat Nian lari ketakutan setelah bertemu seorang anak yang mengenakan pakaian merah. Sejak saat itu, warna merah dipercaya mampu mengusir makhluk jahat. Masyarakat pun mulai mengenakan baju merah, memasang lentera, dan menempelkan kertas merah di pintu rumah saat pergantian tahun.

Tradisi menyalakan petasan dan kembang api juga berasal dari upaya mengusir Nian dengan suara keras. Hingga kini, simbol warna merah dan petasan masih menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Tahun Baru Imlek.

Sejarah Imlek di Indonesia

Sejarah Imlek dan tradisi perayaannya di Indonesia berkaitan erat dengan kedatangan orang Cina ke Asia Tenggara untuk berdagang. Bersamaan dengan aktivitas perdagangan, mereka membawa budaya dan tradisi, termasuk perayaan Imlek.

Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, masyarakat Tionghoa diberikan ruang untuk mengekspresikan identitas budaya, termasuk menggunakan bahasa Mandarin dan merayakan tradisi mereka.

Baca Juga: Pala Banda Naira: Rempah Surga Bernilai Lebih dari Emas yang Picu Genosida dan Bentuk Peradaban Multikultur

Namun, pada era Presiden Soeharto, perayaan budaya dan upacara keagamaan Tionghoa dibatasi dan hanya diperbolehkan dilakukan di lingkungan tertutup atau keluarga.

Perubahan besar terjadi saat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjabat sebagai presiden. Ia membuka kembali ruang kebebasan bagi masyarakat Tionghoa untuk merayakan Imlek secara terbuka.

Kemudian, melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2002 yang dikeluarkan Megawati Soekarnoputri, Imlek resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional mulai tahun 2003. Sejak saat itu, Imlek dirayakan secara luas di seluruh Indonesia.

Baca Juga: Eksotisme Pantai Telodo Tulungagung, Dijuluki Hawaii-nya Selatan Jawa Timur dengan Pasir Luas dan Ikan Bakar Menggoda

Ragam Tradisi Perayaan Imlek

Setiap perayaan tentu memiliki tradisi khas, termasuk Imlek. Berikut beberapa tradisi yang selalu mewarnai Tahun Baru Imlek:

Bersih-Bersih dan Dekorasi Rumah

Sehari sebelum Imlek, masyarakat Tionghoa membersihkan rumah sebagai simbol membuang kesialan tahun lalu. Namun saat hari H Imlek, mereka tidak diperbolehkan menyapu karena dipercaya dapat “mengusir” keberuntungan.

Rumah juga dihias dengan ornamen merah, lampion, dan kertas bertuliskan doa atau harapan baik untuk mendatangkan keberuntungan dan kesejahteraan.

Baca Juga: Pantai Kelayar Pacitan Ramai Diserbu Wisatawan, Pesona Pasir Putih, Seruling Laut, hingga Homestay Murah Jadi Daya Tarik

Hidangan Khas Penuh Makna

Makanan khas Imlek bukan sekadar santapan, tetapi sarat simbol. Hidangan biasanya terdiri dari 12 jenis makanan yang melambangkan 12 shio.

Ayam utuh melambangkan kemakmuran keluarga, mie panjang melambangkan umur panjang dan tidak boleh dipotong, sementara kue lapis legit diartikan sebagai rezeki berlapis-lapis. Kue keranjang dan jeruk juga wajib hadir sebagai simbol keberuntungan.

Angpau dan Silaturahmi

Tradisi berbagi angpau menjadi momen yang paling dinantikan, terutama anak-anak. Angpau diberikan oleh mereka yang sudah menikah kepada anak-anak dan orang tua. Nominal uang di dalamnya biasanya tidak mengandung angka empat karena dianggap membawa sial, serta tidak berjumlah ganjil.

Selain itu, masyarakat Tionghoa juga melakukan kunjungan ke sanak saudara. Momen ini menjadi ajang mempererat tali persaudaraan, makan bersama, dan saling mendoakan.

Sembahyang Leluhur dan Barongsai

Sembahyang leluhur dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga yang telah meninggal. Dupa, lilin, serta aneka makanan dipersembahkan dalam ritual ini.

Sementara itu, pertunjukan barongsai menjadi simbol kebahagiaan dan diyakini membawa keberuntungan serta mengusir roh jahat. Atraksi ini juga menambah kemeriahan suasana Imlek di berbagai daerah.

Sejarah Imlek dan tradisi perayaannya menunjukkan bahwa perayaan ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia merupakan perpaduan antara sejarah, legenda, budaya, dan nilai kekeluargaan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Editor : Axsha Zazhika
#sejarah imlek #tradisi imlek #tahun baru imlek #Legenda Nian #Hari Libur Nasional Imlek