TRENGGALEK NJENGGELEK - Menjelang Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah, pertanyaan tentang apa itu hilal selalu mengemuka di tengah masyarakat. Penentuan awal bulan hijriah tak lepas dari kemunculan hilal yang menjadi penanda dimulainya ibadah puasa, Idulfitri, hingga Iduladha.
Apa itu hilal sebenarnya? Dalam tradisi Islam, hilal memiliki makna penting sebagai dasar penetapan waktu ibadah. Sementara dalam perspektif sains dan astronomi modern, hilal juga dipahami sebagai fenomena astronomis yang bisa dihitung dan diobservasi secara ilmiah.
Pembahasan tentang apa itu hilal tak hanya berkaitan dengan dalil keagamaan, tetapi juga menyentuh kajian tafsir Al-Qur’an dan ilmu falak. Berikut penjelasan lengkapnya berdasarkan pandangan Islam dan sains.
Pengertian Hilal dalam Islam
Dikutip dari jurnal berjudul Memahami Makna Hilal Menurut Tafsir Al-Qur’an dan Sains karya Qamaruzzaman, hilal dipahami sebagai penentu perbedaan waktu dan alat ukur guna mengetahui kapan dimulainya ibadah kepada Allah SWT.
Menurut Imam Syaukani, hilal adalah nama bagi bulan pada setiap awal dan akhir bulan. Sementara Imam Asma’i menjelaskan, hilal merupakan bulan sabit yang tampak tipis di awal kemunculannya hingga berkembang menjadi bulan purnama.
Dari berbagai pendapat mufasir dan fuqaha tersebut, dapat disimpulkan bahwa hilal adalah penampakan bulan muda atau bulan sabit setelah terjadi ijtimak (konjungsi). Hilal terlihat pada malam pertama, kedua, atau ketiga dalam sistem kalender hijriah.
Secara tradisional, ketika seseorang melihat hilal, ia akan mengabarkan kepada masyarakat sebagai tanda dimulainya bulan baru. Dalam konteks inilah hilal menjadi dasar penting dalam sistem kalender Islam.
Hilal dalam Perspektif Sains dan Astronomi
Jika dalam Islam hilal menjadi simbol penentu awal bulan, dalam sains hilal dipahami sebagai bagian dari sistem penanggalan berbasis peredaran bulan. Sistem ini membentuk kalender yang digunakan umat manusia untuk berbagai kepentingan, seperti puasa, haji, waktu salat, masa iddah, hingga perjanjian muamalah.
Dalam pandangan astronomi modern, hilal baru bisa terlihat jika memenuhi parameter tertentu. Salah satu pendapat menyebutkan bahwa hilal dapat terlihat apabila posisi bulan berada minimal 8 derajat dari matahari.
Pendapat ini pernah dikukuhkan dalam Konferensi Islam Internasional di Istanbul, Turki, tahun 1978. Dalam forum tersebut disebutkan bahwa bulan dapat terlihat jika memiliki jarak sudut (elongasi) sekitar 8 derajat dan ketinggian minimal 5 derajat di atas ufuk.
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa sangat kecil kemungkinan hilal terlihat jika ketinggiannya berada di bawah 5 derajat di atas ufuk. Artinya, secara ilmiah ada batas minimal visibilitas hilal yang dapat diterima secara astronomis.
Perbedaan Kriteria Hilal: Istanbul dan MABIMS
Dalam praktiknya, terdapat beberapa kriteria penentuan visibilitas hilal. Selain kriteria Istanbul, ada pula kriteria yang disepakati oleh negara-negara anggota MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
Kriteria MABIMS menyebutkan bahwa hilal dapat terlihat apabila memenuhi tinggi minimal 2 derajat, elongasi 3 derajat, serta jarak waktu antara ijtimak dan matahari terbenam minimal 8 jam.
Kriteria ini lebih rendah dibandingkan standar Istanbul. Malaysia, Singapura, dan Brunei diketahui menggunakan pendekatan yang lebih dekat dengan kriteria Istanbul. Sementara di Indonesia, diskursus mengenai kriteria hilal masih berkembang dan belum sepenuhnya seragam dalam praktiknya.
Perbedaan kriteria inilah yang terkadang memunculkan dinamika dalam penetapan awal Ramadan, Syawal, maupun Dzulhijjah.
Hilal sebagai Penanda Waktu Umat Islam
Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa hilal bukan sekadar bulan sabit tipis di langit senja. Hilal adalah penanda waktu yang memiliki dimensi teologis sekaligus ilmiah.
Dalam Islam, hilal menjadi dasar syariat untuk menentukan waktu ibadah. Dalam sains, hilal dipelajari melalui perhitungan astronomi dan observasi langit yang akurat. Keduanya saling melengkapi dalam upaya memastikan awal bulan hijriah.
Karena itu, setiap menjelang Ramadan dan hari besar Islam lainnya, pertanyaan “apa itu hilal” kembali relevan. Jawabannya bukan hanya tentang melihat bulan sabit, tetapi juga tentang bagaimana agama dan sains bertemu dalam satu sistem penanggalan yang teratur dan terukur.
Editor : Axsha Zazhika