TRENGGALEK NJENGGELEK - Setiap menjelang Ramadan atau Lebaran, masyarakat selalu menanti kabar tentang hilal. Pencarian hilal dilakukan di pantai, puncak gunung, hingga gedung-gedung tinggi dengan bantuan teleskop dan teropong modern. Lalu sebenarnya apa itu hilal dan mengapa hilal begitu penting dalam penentuan awal Ramadan?
Pertanyaan tentang apa itu hilal tak lepas dari sistem kalender Hijriyah yang digunakan umat Islam. Berbeda dengan kalender Masehi yang berbasis revolusi bumi mengelilingi matahari, kalender Hijriyah berpatokan pada peredaran bulan mengelilingi bumi. Karena itulah kalender Hijriyah disebut juga kalender Komariah atau lunar calendar.
Dalam konteks inilah hilal menjadi penentu awal bulan baru, termasuk awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. Tanpa kemunculan hilal, pergantian bulan dalam kalender Hijriyah tidak bisa ditetapkan secara syar’i.
Kalender Hijriyah dan Fase Bulan
Kalender Hijriyah terdiri dari 12 bulan, sama seperti kalender Masehi. Namun jumlah hari dalam setiap bulan Hijriyah hanya 29 atau 30 hari. Hal ini berbeda dengan kalender Masehi yang umumnya berjumlah 30 atau 31 hari.
Perbedaan ini terjadi karena waktu yang dibutuhkan bulan untuk mengelilingi bumi sekitar 27,3 hari. Namun untuk satu siklus fase bulan yang terlihat dari bumi, dibutuhkan waktu sekitar 29,5 hari. Itulah sebabnya dalam setahun kalender Hijriyah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding kalender Masehi. Dampaknya, Ramadan selalu bergeser lebih awal setiap tahunnya jika dilihat dari kalender Masehi.
Penentuan awal bulan Hijriyah sangat erat kaitannya dengan fase bulan. Dalam satu siklus revolusi bulan terhadap bumi, terdapat beberapa fase, mulai dari bulan baru (bulan mati), sabit awal, kuartal pertama, cembung awal, purnama, cembung akhir, kuartal ketiga, sabit akhir, hingga kembali ke fase bulan mati.
Hilal muncul setelah fase bulan mati, ketika bulan mulai tampak sebagai sabit tipis pertama setelah ijtimak (konjungsi).
Baca Juga: Ramalan Tahun Kuda Api 2026: Tahun Kesempatan Cari Cuan, Tapi Waspada Selingkuh dan Kerja Sia-Sia!
Apa Itu Hilal?
Secara bahasa, hilal berasal dari bahasa Arab yang berarti bulan sabit. Dalam istilah astronomi dan syariat Islam, hilal adalah bulan sabit muda pertama yang terlihat setelah fase bulan mati dan menjadi penanda masuknya bulan baru dalam kalender Hijriyah.
Hilal biasanya tampak sangat tipis, hanya seperti garis lengkung bercahaya di ufuk barat setelah matahari terbenam. Karena penampakannya yang samar, pencarian hilal tidaklah mudah.
Mengamati hilal secara langsung dikenal dengan metode rukyatul hilal. Pengamatan ini dilakukan setiap tanggal 29 bulan Hijriyah. Jika hilal terlihat saat magrib, maka setelah matahari terbenam sudah masuk tanggal 1 bulan baru. Namun jika tidak terlihat, bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari.
Kriteria Hilal Bisa Terlihat
Dalam praktiknya, hilal tidak bisa diamati sembarangan. Ada kriteria minimal agar hilal berpotensi terlihat.
Salah satunya adalah tinggi bulan minimal sekitar 3 derajat di atas horizon saat matahari terbenam. Selain itu, jarak sudut antara bulan dan matahari (elongasi) minimal sekitar 6,4 derajat. Jika belum memenuhi kriteria tersebut, kemungkinan besar hilal sulit teramati.
Hilal juga tidak bisa diamati sebelum matahari terbenam karena cahaya matahari akan mengalahkan cahaya tipis hilal. Sebaliknya, jika terlalu malam, bulan sudah terbenam sehingga tak bisa lagi dilihat. Karena itu, waktu terbaik mengamati hilal adalah saat magrib atau sesaat setelah matahari terbenam.
Lokasi Terbaik Pengamatan Hilal
Pengamatan hilal memerlukan lokasi dengan pandangan luas ke arah barat dan minim gangguan. Tempat seperti pantai, puncak bukit, atau gedung tinggi sering dipilih karena garis horizon terlihat jelas tanpa terhalang bangunan, pepohonan, atau polusi cahaya berlebihan.
Polusi cahaya dari lampu kota juga dapat mengurangi kontras cahaya hilal yang sangat tipis. Karena itu, lokasi dengan tingkat cahaya rendah menjadi pilihan utama.
Meski sering dianggap sulit ditemukan, hilal memegang peran sangat penting dalam sistem penanggalan Islam. Tanpa hilal, awal Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha tidak dapat ditetapkan secara resmi.
Dengan memahami apa itu hilal, masyarakat dapat mengerti bahwa pencarian bulan sabit ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bagian dari sistem ilmiah dan syariat yang menjadi dasar kalender Hijriyah dan pelaksanaan ibadah umat Islam.
Editor : Axsha Zazhika