TRENGGALEK NJENGGELEK - Proses munculnya bulan baru dalam kalender Islam selalu menjadi perhatian menjelang Ramadan dan hari besar keagamaan lainnya. Penentuan awal bulan Hijriyah, termasuk 1 Ramadan, tidak lepas dari fenomena astronomi yang dikenal dengan ijtima dan kemunculan hilal.
Proses munculnya bulan baru dalam kalender Islam didasarkan pada keteraturan peredaran bulan mengelilingi bumi, serta pergerakan bumi bersama bulan mengelilingi matahari. Kombinasi gerak astronomis inilah yang menjadi dasar sistem penanggalan Hijriyah atau kalender Komariah.
Lalu, seperti apa sebenarnya proses munculnya bulan baru dalam kalender Islam? Mengapa hilal hanya bisa terlihat dalam waktu tertentu dan di lokasi tertentu?
Ijtima Jadi Awal Bulan Baru
Masuknya tanggal satu dalam kalender Islam terjadi ketika matahari lebih dulu terbenam dibanding bulan. Dalam istilah astronomi Islam, momen ketika matahari, bulan, dan bumi berada dalam satu garis bujur disebut ijtima atau konjungsi.
Pada saat ijtima, posisi bulan berada di antara bumi dan matahari dalam satu garis lurus. Namun pada fase ini, bulan belum bisa terlihat karena sisi yang menghadap bumi belum mendapatkan cahaya matahari secara optimal.
Ijtima menjadi penanda awal bulan baru secara astronomis. Namun secara syar’i, awal bulan Hijriyah baru ditetapkan ketika hilal berhasil terlihat setelah matahari terbenam.
Hilal Muncul Setelah Matahari Terbenam
Hilal adalah bulan sabit tipis pertama yang terlihat setelah ijtima. Hilal dapat terlihat ketika matahari telah terbenam dan posisi bulan berada sedikit lebih tinggi dari matahari, sekitar 3 derajat di atas ufuk barat.
Pada posisi inilah bulan tampak sangat tipis dan samar. Cahaya yang terlihat hanyalah lengkungan tipis di langit barat saat senja. Karena bentuknya yang nyaris tak kasat mata, pengamatan hilal memerlukan keahlian khusus dan sering kali dibantu alat optik seperti teleskop atau teropong.
Waktu terbaik untuk melihat hilal adalah sesaat setelah matahari terbenam. Jika terlalu cepat, cahaya matahari masih terlalu terang. Jika terlalu lambat, bulan sudah ikut terbenam dan tidak bisa diamati lagi.
Inilah mengapa proses munculnya bulan baru dalam kalender Islam tidak bisa dilepaskan dari observasi langsung di lapangan.
Penampakan Hilal Secara Global
Penampakan hilal tidak selalu seragam di seluruh dunia. Faktor posisi geografis, cuaca, dan ketinggian bulan sangat memengaruhi visibilitasnya.
Sebagai contoh, berdasarkan data astronomi dari situs moonsighting.com, pergantian bulan baru secara astronomis pernah terjadi pada pukul 06.24 waktu universal atau 13.24 WIB. Pada waktu tersebut, bulan baru hanya dapat terlihat menggunakan alat canggih seperti teleskop di wilayah tertentu, seperti Kepulauan Hawaii dan Polinesia.
Keesokan harinya, hilal mulai dapat terlihat dengan mata telanjang di hampir seluruh negara di dunia. Bahkan pada hari berikutnya, bulan baru sudah dapat diamati secara luas tanpa bantuan alat optik.
Hal ini menunjukkan bahwa meski ijtima terjadi pada waktu yang sama secara global, kemampuan melihat hilal bisa berbeda-beda tergantung lokasi dan kondisi langit.
Dasar Penentuan Awal Ramadan
Dalam praktiknya, penentuan 1 Ramadan di Indonesia menggabungkan data hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan langsung). Data astronomi memastikan kapan ijtima terjadi dan berapa tinggi hilal saat matahari terbenam.
Jika hilal terlihat dan memenuhi kriteria, maka malam itu ditetapkan sebagai awal bulan baru. Namun jika tidak terlihat, bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari.
Proses munculnya bulan baru dalam kalender Islam menjadi bukti bahwa sistem penanggalan Hijriyah memiliki dasar ilmiah sekaligus religius. Keteraturan peredaran bulan dan bumi menjadi fondasi perhitungan waktu ibadah umat Islam.
Dengan memahami proses ini, masyarakat dapat mengetahui bahwa penentuan awal Ramadan bukan sekadar menunggu pengumuman, tetapi melalui tahapan astronomi yang terukur, mulai dari ijtima hingga kemunculan hilal di ufuk barat.
Editor : Axsha Zazhika