TRENGGALEK NJENGGELEK-Sejarah dan keutamaan salat Tarawih di bulan Ramadan menjadi pembahasan penting setiap memasuki bulan suci. Ibadah sunnah yang dikerjakan khusus pada malam-malam Ramadan ini bukan hanya tradisi tahunan, tetapi memiliki dasar kuat dari sunah Rasulullah SAW serta ganjaran pahala yang besar.
Salat Tarawih berasal dari kata “tarwihah” yang berarti istirahat. Penamaan ini merujuk pada kebiasaan beristirahat sejenak di antara rakaat-rakaatnya. Dalam praktiknya, salat Tarawih dilaksanakan setelah salat Isya dan biasanya ditutup dengan Witir.
Sejarah dan keutamaan salat Tarawih di bulan Ramadan juga tidak lepas dari perjalanan praktiknya sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga masa para khalifah.
Sejarah Salat Tarawih di Masa Rasulullah
Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dijelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah melaksanakan salat Tarawih secara berjamaah di masjid. Pada malam pertama, hanya beberapa sahabat yang ikut. Malam berikutnya jumlah jamaah bertambah banyak, hingga masjid penuh pada malam ketiga atau keempat.
Namun, Rasulullah tidak keluar lagi untuk memimpin salat berjamaah. Beliau bersabda bahwa dirinya khawatir salat tersebut akan diwajibkan kepada umat Islam. Dari sini dipahami bahwa Tarawih adalah ibadah sunnah yang sangat dianjurkan, tetapi tidak sampai menjadi kewajiban.
Setelah Rasulullah wafat, praktik Tarawih tetap dilakukan. Pada masa Khalifah Abu Bakar, umat Islam melaksanakannya sendiri-sendiri atau dalam kelompok kecil.
Penyatuan Jamaah di Masa Umar bin Khattab
Perubahan besar terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Melihat umat Islam melaksanakan Tarawih dalam kelompok-kelompok kecil yang terpisah, beliau berinisiatif menyatukan mereka dalam satu jamaah besar.
Umar kemudian menunjuk Ubay bin Ka'ab sebagai imam. Sejak saat itu, salat Tarawih berjamaah menjadi praktik yang berlangsung secara konsisten hingga kini.
Langkah Umar ini dipandang sebagai upaya menata pelaksanaan sunah agar lebih tertib dan mempererat ukhuwah umat Islam.
Keutamaan Salat Tarawih Menurut Hadis
Sejarah dan keutamaan salat Tarawih di bulan Ramadan juga ditegaskan dalam berbagai hadis shahih. Salah satunya menyebutkan:
“Barang siapa mendirikan Ramadan (salat malam di bulan Ramadan) dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim).
Keutamaan pertama adalah pengampunan dosa. Ibadah Tarawih yang dilakukan dengan keimanan dan keikhlasan menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa yang lalu.
Keutamaan kedua, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang salat bersama imam hingga selesai, maka dicatat baginya pahala seperti salat semalam penuh (HR Tirmidzi). Ini menunjukkan besarnya ganjaran bagi jamaah yang mengikuti Tarawih hingga Witir.
Selain itu, orang yang rutin melaksanakan salat malam, termasuk Tarawih, dijanjikan kedudukan mulia di sisi Allah SWT. Ibadah ini juga menjadi bentuk menghidupkan sunah Rasulullah dan wujud kecintaan kepada beliau.
Keutamaan Setiap Malam Ramadan
Dalam beberapa kitab klasik disebutkan bahwa setiap malam Ramadan memiliki keutamaan khusus bagi yang melaksanakan Tarawih. Meski sebagian riwayatnya berderajat lemah, para ulama tetap menyebutkannya sebagai motivasi beribadah.
Disebutkan, malam pertama Tarawih menjadi sebab bersihnya dosa seperti bayi yang baru lahir. Malam kedua diampuni dosa diri dan kedua orang tua yang beriman. Malam ketiga malaikat memohonkan ampunan dari bawah Arasy.
Malam keempat digambarkan berpahala seperti membaca Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an. Malam kelima disebut mendapat pahala seperti salat di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa.
Malam-malam berikutnya dikaitkan dengan berbagai ganjaran, seperti keselamatan dari siksa kubur, diangkat derajatnya di akhirat, hingga pahala seperti ibadah puluhan tahun dan haji mabrur.
Momentum Menghidupkan Ramadan
Sejarah dan keutamaan salat Tarawih di bulan Ramadan menunjukkan bahwa ibadah ini memiliki nilai spiritual dan historis yang kuat. Dari praktik Nabi, penataan di masa Umar, hingga tradisi umat Islam saat ini, Tarawih menjadi simbol syiar Ramadan.
Meski terdapat perbedaan jumlah rakaat di kalangan ulama, esensi Tarawih tetap sama: menghidupkan malam Ramadan dengan ibadah, memperbanyak doa, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dengan memahami sejarah dan keutamaan salat Tarawih di bulan Ramadan, umat Islam diharapkan semakin semangat mengisi malam-malam Ramadan dengan ibadah yang penuh keikhlasan.
Editor : Ichaa Melinda Putri