TRENGGALEK NJENGGELEK-Shalat Tarawih sering kali hanya ramai di awal Ramadan. Memasuki pekan kedua hingga 10 hari terakhir, saf masjid mulai longgar. Fenomena ini menjadi sorotan dalam sebuah tausiah yang menyinggung pentingnya menjaga konsistensi ibadah, khususnya shalat Tarawih dan qiyamul lail di penghujung bulan suci.
Dalam ceramah tersebut ditegaskan bahwa shalat Tarawih adalah bagian dari qiyamul lail atau salat malam yang memiliki keutamaan besar. Ironisnya, ketika Ramadan memasuki 10 hari terakhir—yang justru menyimpan malam Lailatul Qadar—sebagian umat Islam malah sibuk dengan mudik, belanja baju Lebaran, hingga persiapan hari raya.
Padahal, malam Lailatul Qadar disebut lebih baik dari seribu bulan, setara dengan 83 tahun 4 bulan ibadah. Artinya, satu tasbih, satu ayat Al-Qur’an, atau satu rakaat salat di malam tersebut memiliki nilai pahala yang berlipat ganda.
Tarawih: Kesempatan Emas yang Datang Setahun Sekali
Penceramah menjelaskan bahwa shalat Tarawih hanya hadir di bulan Ramadan. Inilah momentum bagi mereka yang sepanjang tahun jarang melaksanakan salat malam agar setidaknya tercatat sekali dalam setahun menghidupkan qiyamul lail.
Secara istilah, Tarawih berarti “istirahat”, karena pelaksanaannya dilakukan santai selepas salat Isya. Berbeda dengan tahajud di luar Ramadan yang dianjurkan pada sepertiga malam terakhir setelah tidur terlebih dahulu.
“Kalau Ramadan saja tidak mau shalat malam, lalu kapan lagi?” demikian pesan yang ditekankan dalam tausiah tersebut.
Hadis riwayat Bukhari dan Muslim juga menegaskan, siapa yang mendirikan malam Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Syaratnya adalah niat yang tulus karena Allah, bukan sekadar ikut-ikutan atau karena tekanan lingkungan.
Jangan Tinggalkan Imam Sebelum Selesai
Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah anjuran menyempurnakan shalat Tarawih bersama imam hingga selesai, termasuk witir. Dalam hadis disebutkan, siapa yang salat bersama imam sampai imam selesai, maka dicatat baginya pahala seperti salat semalam suntuk.
Artinya, meskipun secara fisik hanya melaksanakan 8, 11, atau 23 rakaat, ganjarannya seperti menghidupkan malam penuh.
Perbedaan jumlah rakaat, baik 11 maupun 23, disebut sebagai bagian dari ijtihad ulama dan tidak perlu diperdebatkan. Di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, misalnya, salat Tarawih dilaksanakan 23 rakaat. Bahkan pada 10 hari terakhir, dilanjutkan lagi dengan salat malam tambahan sehingga totalnya bisa lebih dari 30 rakaat dalam semalam.
Tidak ada larangan untuk kembali bangun di sepertiga malam setelah Tarawih. Mayoritas ulama membolehkan selama masih ada kemampuan dan niat untuk beribadah.
10 Hari Terakhir: Momentum Lailatul Qadar
Sorotan utama tausiah tersebut adalah fenomena menurunnya jamaah di 10 hari terakhir Ramadan. Padahal di fase inilah Rasulullah SAW justru meningkatkan ibadah, mengencangkan ikat pinggang, dan menghidupkan malam-malamnya.
Lailatul Qadar menjadi rahasia terbesar di penghujung Ramadan. Satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan tentu tidak layak dilewatkan hanya karena kesibukan duniawi.
Penceramah juga mengingatkan bahwa Ramadan adalah “training camp” keimanan. Jika selama satu bulan setan-setan dibelenggu, maka sejatinya umat Islam berada dalam kondisi paling ringan untuk beribadah. Ibarat perlombaan lari, lawan dalam keadaan terikat—tinggal bagaimana manusianya mau berjalan atau tidak.
Jangan Kendur Setelah Idulfitri
Pesan lain yang tak kalah penting adalah menjaga konsistensi setelah Ramadan berakhir. Jangan sampai Idulfitri menjadi momen “lepas dari penjara ibadah”. Justru kebiasaan baik selama Ramadan seharusnya diteruskan.
Rasulullah SAW menganjurkan puasa enam hari di bulan Syawal agar pahala puasa setahun penuh diraih. Begitu pula kebiasaan bangun sahur yang bisa dilanjutkan menjadi rutinitas tahajud di sepertiga malam.
Waktu sahur disebut sebagai waktu mustajab doa. Dalam hadis disebutkan bahwa Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan bertanya, adakah hamba yang memohon ampun, meminta pertolongan, atau memiliki hajat.
Momentum ini menjadi peluang luar biasa yang sayang untuk diabaikan.
Shalat Tarawih bukan sekadar ritual musiman, melainkan gerbang membentuk kebiasaan qiyamul lail sepanjang tahun. Ramadan adalah pembeda iman. Mereka yang menjaga konsistensi hingga akhir akan merasakan dampak spiritual yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar euforia awal bulan.
Editor : Ichaa Melinda Putri