TRENGGALEK NJENGGELEK-Qiam Ramadan dan salat Tarawih menjadi ibadah istimewa yang sangat dianjurkan selama bulan suci. Qiam Ramadan dan salat Tarawih bahkan disebut sebagai sunah muakkadah, yakni sunah yang sangat ditekankan pelaksanaannya oleh Rasulullah SAW.
Dalam sebuah tausiah yang beredar, dijelaskan bahwa Qiam Ramadan dan salat Tarawih memiliki keutamaan besar, terutama dalam hal penghapusan dosa. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang menunaikan qiam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka Allah akan menghapus dosa-dosanya yang telah lalu.”
Hadis tersebut menjadi dasar kuat bahwa Qiam Ramadan dan salat Tarawih bukan sekadar ibadah tambahan, tetapi momentum pembersihan diri dari kesalahan masa lalu.
Pengertian Qiam Ramadan dan Salat Tarawih
Secara istilah, qiam Ramadan adalah berdiri atau menghidupkan malam-malam bulan Ramadan dengan ibadah. Para ulama kemudian mengistilahkannya sebagai salat Tarawih.
Tarawih sendiri berasal dari kata “raha” yang berarti istirahat. Disebut demikian karena pelaksanaannya diselingi jeda istirahat setiap dua rakaat. Umat Islam menunaikan dua rakaat, salam, lalu beristirahat sejenak sebelum melanjutkan rakaat berikutnya.
Dasar hukum pelaksanaan Tarawih adalah sunah muakkadah. Hampir seluruh ulama sepakat bahwa ibadah ini sangat dianjurkan dan menjadi syiar khas Ramadan.
Keutamaan Menghapus Dosa
Keutamaan Qiam Ramadan dan salat Tarawih ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Dalam riwayat yang dikenal luas, Rasulullah menyatakan bahwa siapa saja yang melaksanakan qiam Ramadan dengan iman dan penuh harapan kepada Allah SWT, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
Keimanan di sini bermakna keyakinan bahwa ibadah tersebut adalah perintah Allah. Sementara mengharap pahala berarti dilakukan dengan ikhlas, bukan karena paksaan atau sekadar rutinitas tahunan.
Dengan dua syarat itu, Tarawih menjadi sarana taubat dan pembersihan jiwa selama Ramadan.
Pahala Seperti Salat Semalam Suntuk
Selain penghapusan dosa, ada keutamaan lain yang tidak kalah besar. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa siapa yang melaksanakan qiam bersama imam hingga selesai, maka dicatat baginya pahala seperti melaksanakan salat semalam suntuk.
Artinya, umat Islam yang mengikuti Tarawih berjamaah dari awal hingga witir terakhir akan mendapatkan pahala setara dengan ibadah sepanjang malam.
Keutamaan ini menjadi motivasi agar jamaah tidak terburu-buru meninggalkan masjid sebelum imam menyelesaikan seluruh rangkaian salat.
Menghidupkan Sunah Rasul
Qiam Ramadan dan salat Tarawih juga menjadi wujud nyata mengikuti sunah Rasulullah SAW. Walaupun pada awalnya beliau tidak terus-menerus melaksanakan Tarawih berjamaah karena khawatir diwajibkan, para sahabat kemudian meneruskannya sebagai tradisi ibadah di bulan Ramadan.
Sejak saat itu, Tarawih menjadi bagian tak terpisahkan dari syiar Ramadan di seluruh dunia.
Melalui ibadah ini, umat Islam tidak hanya mengejar pahala, tetapi juga memperkuat ukhuwah dan kebersamaan di masjid.
Momentum Perbaikan Diri
Ramadan merupakan bulan pendidikan spiritual. Siang hari diisi dengan puasa, malam hari dengan qiam Ramadan dan salat Tarawih.
Karena itu, para ulama menganjurkan agar umat Islam tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Tarawih bukan sekadar rutinitas, melainkan latihan konsistensi dalam ibadah malam yang kelak bisa diteruskan setelah Ramadan.
Dengan melaksanakan Qiam Ramadan dan salat Tarawih secara istiqamah, seorang muslim diharapkan keluar dari bulan suci dalam keadaan lebih bersih, lebih taat, dan lebih dekat dengan Allah SWT.
Ibadah yang hanya datang setahun sekali ini sepatutnya dimanfaatkan semaksimal mungkin. Sebab, belum tentu Ramadan berikutnya masih bisa dijumpai.
Editor : Ichaa Melinda Putri