Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Salat Tarawih Berapa Rakaat yang Benar? Ini Penjelasan Soal 11, 13, hingga 40 Rakaat dan Keutamaannya

Ichaa Melinda Putri • Rabu, 18 Februari 2026 | 18:07 WIB
Salat Tarawih Berapa Rakaat yang Benar? Ini Penjelasan Soal 11, 13, hingga 40 Rakaat dan Keutamaannya
Salat Tarawih Berapa Rakaat yang Benar? Ini Penjelasan Soal 11, 13, hingga 40 Rakaat dan Keutamaannya

TRENGGALEK NJENGGELEK-Perdebatan tentang salat tarawih berapa rakaat yang benar kembali menjadi pembahasan hangat menjelang dan selama bulan Ramadan. Sebagian masyarakat meyakini 8 rakaat, sebagian lainnya 20 rakaat, bahkan ada yang melaksanakan hingga 40 rakaat. Lalu, sebenarnya berapa rakaat salat tarawih yang sesuai sunah?

Dalam sebuah ceramah yang beredar luas di YouTube, dijelaskan bahwa istilah “tarawih” sendiri sebenarnya tidak dikenal pada zaman Nabi Muhammad SAW. Pada masa Rasulullah, ibadah tersebut lebih dikenal dengan istilah qiyamullail atau tahajud.

Tarawih Hanya Istilah, Hakikatnya Qiyamullail

Penceramah menjelaskan, salat malam yang dikerjakan berjamaah secara rutin selama sebulan penuh hanya terjadi di bulan Ramadan. Di luar Ramadan, salat malam berjamaah boleh dilakukan sesekali, tetapi tidak menjadi rutinitas.

Istilah “tarawih” muncul belakangan. Kata itu berasal dari bahasa Arab “raaha” yang berarti istirahat. Dahulu, para sahabat melaksanakan salat malam dengan rakaat yang panjang. Setelah dua rakaat, mereka beristirahat cukup lama, lalu melanjutkan kembali. Karena seringnya jeda istirahat itulah muncul istilah tarawih, bentuk jamak dari “tarwihah” (istirahat).

Berbeda dengan praktik sebagian masyarakat saat ini yang cenderung menyelesaikan seluruh rakaat tanpa jeda panjang, bahkan terkadang dilakukan dengan tempo cepat.

Tidak Ada Jumlah Rakaat Tertentu

Terkait jumlah rakaat, ditegaskan bahwa tidak ada batasan pasti yang ditetapkan secara tegas oleh Nabi Muhammad SAW untuk salat tarawih. Jika ingin mengikuti kebiasaan Rasulullah, maka 11 rakaat atau 13 rakaat dengan bacaan panjang adalah yang paling mendekati.

Namun, jika seseorang melaksanakan lebih dari itu, seperti 20 rakaat bahkan 40 rakaat sebagaimana pernah terjadi di Madinah pada masa Imam Malik, hal tersebut juga tidak dilarang.

Poin terpenting bukanlah angka rakaat, melainkan kualitas salat itu sendiri. Bacaan yang tartil, rukuk dan sujud yang tenang, serta kekhusyukan menjadi ukuran utama.

“Jangan hanya mengejar jumlah rakaat tetapi dilakukan dengan cepat tanpa penghayatan,” demikian pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut.

Pilih Imam yang Menambah Iman

Salat tarawih seharusnya menjadi momentum menambah kualitas iman. Karena itu, jamaah dianjurkan memilih masjid dan imam yang membuat hati semakin tenang dan iman bertambah setelah salat.

Bukan sekadar mencari imam yang membaca Al-Fatihah dalam satu napas atau menyelesaikan salat secepat mungkin. Sebaliknya, pilihlah imam yang membaca dengan baik, tidak tergesa-gesa, dan memberi ruang untuk menikmati setiap ayat yang dibaca.

Ramadan adalah bulan peningkatan spiritual. Salat tarawih bukan ajang kompetisi cepat-cepat selesai, melainkan kesempatan memperbanyak pahala dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Keutamaan Salat Bersama Imam

Dalam hadis sahih, Nabi Muhammad SAW menyampaikan bahwa siapa saja yang melaksanakan salat bersama imam hingga selesai, maka akan dicatat baginya pahala seperti salat semalam penuh.

Hadis ini menjadi dalil penting tentang keutamaan mengikuti imam hingga tuntas. Artinya, meskipun seseorang tidak salat sepanjang malam secara individu, ia tetap mendapat pahala besar jika mengikuti imam sampai selesai.

Bagaimana jika setelah tarawih masih ingin menambah salat malam? Hal tersebut diperbolehkan. Seseorang bisa melanjutkan salat dua rakaat-dua rakaat di rumah. Namun ada satu catatan penting: tidak boleh melakukan witir dua kali dalam satu malam.

Nabi SAW bersabda bahwa tidak ada dua witir dalam satu malam. Jika sudah witir bersama imam, maka salat tambahan dilakukan tanpa mengulang witir.

Ramadan Momentum Tambah Iman

Perdebatan soal jumlah rakaat seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan. Baik 11, 13, 20, atau lebih, semuanya memiliki dasar praktik dalam sejarah Islam.

Yang lebih utama adalah menjadikan Ramadan sebagai momentum memperbaiki kualitas ibadah. Salat tarawih yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan, ketenangan, dan penghayatan akan jauh lebih bermakna dibanding sekadar menyelesaikan rakaat demi angka.

Pada akhirnya, tujuan utama salat tarawih adalah meningkatkan iman dan ketakwaan. Bukan sekadar mempertahankan tradisi atau memenangkan perdebatan.

Editor : Ichaa Melinda Putri
#salat malam berjamaah #jumlah rakaat tarawih #salat tarawih #qiyamullail Ramadan #witir dan tarawih