RADAR TRENGGALEK - Sidang Isbat 1 Ramadan 1447 H kembali menjadi perhatian publik setelah Menteri Agama Prof. KH Nasaruddin Umar mengungkap potensi perbedaan awal puasa antara pemerintah dan Muhammadiyah.
Sidang Isbat 1 Ramadan 1447 H dijadwalkan digelar Kementerian Agama dengan melibatkan para ulama, kiai, dan perwakilan organisasi Islam.
Momentum Sidang Isbat 1 Ramadan 1447 H ini dinilai krusial karena posisi hilal berdasarkan hisab masih berada di bawah ufuk, sehingga membuka kemungkinan perbedaan penetapan awal puasa.
Dalam keterangannya sebelum sidang dimulai, Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa secara objektif kondisi hilal saat ini belum memenuhi kriteria wujudul hilal dalam kalender lokal.
Data hisab menunjukkan posisi hilal masih minus 2 derajat 24 menit 42 detik di bawah ufuk.
Bahkan di wilayah paling barat Indonesia seperti Aceh, ketinggian hilal masih minus 0 derajat 58 menit 47 detik dengan elongasi yang relatif rendah.
“Kita menggunakan kalender lokal, sesungguhnya ini belum wujudul hilal karena masih di bawah ufuk,” ujar Nasaruddin Umar.
Perbedaan Metode Hisab dan Rukyat
Menag menegaskan bahwa perbedaan metode antara pemerintah dan Muhammadiyah bukanlah hal baru.
Pemerintah melalui Kementerian Agama menggunakan metode rukyat sebagai informasi utama dan hisab sebagai konfirmasi.
Sementara Muhammadiyah menjadikan hisab sebagai informasi dan rukyat sebagai konfirmasi.
Perbedaan penafsiran terhadap hadis “sumu li ru’yatihi wa aftiru li ru’yatihi” menjadi salah satu dasar metodologis yang melatarbelakangi perbedaan tersebut.
Rukyat dapat dimaknai sebagai melihat secara langsung maupun melalui perhitungan astronomis.
Dalam beberapa tahun terakhir, Muhammadiyah juga mengadopsi kalender hijriah global tunggal.
Artinya, jika di belahan bumi lain seperti Alaska atau wilayah tertentu sudah memenuhi kriteria hilal, maka awal bulan hijriah bisa dimulai meski di Indonesia belum terlihat.
Jika Muhammadiyah menggunakan kalender globalnya sekarang, maka potensi perbedaan awal Ramadan sangat mungkin terjadi.
Namun jika ada penyesuaian dan menunggu tahun depan untuk implementasi penuh kalender global, peluang keseragaman masih terbuka.
Sidang Isbat Jadi Penentu Resmi
Sidang Isbat 1 Ramadan 1447 H akan diawali dengan seminar posisi hilal yang terbuka untuk umum.
Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama akan memaparkan data astronomi terkait posisi bulan di seluruh Indonesia.
Setelah itu, sidang isbat digelar secara tertutup untuk mengambil keputusan final.
Menag menegaskan bahwa keputusan pemerintah akan didasarkan pada hasil musyawarah bersama para ulama dan data ilmiah yang ada.
“Yang menentukan adalah sidang isbat,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa kehadiran Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia dalam sidang kali ini menjadi momen istimewa.
Biasanya MUI hanya mengirim perwakilan, namun kali ini hadir langsung sebagai bentuk dukungan dan kebersamaan.
Perbedaan Bukan Sumber Konflik
Nasaruddin Umar mengajak masyarakat untuk memaknai kemungkinan perbedaan dengan bijak.
Menurutnya, Indonesia memiliki pengalaman panjang hidup dalam keberagaman namun tetap kompak dan bersatu.
“Bhinneka Tunggal Ika itu modal besar kita. Perbedaan itu indah. Tapi tentu lebih indah lagi kalau bisa kompak,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa perbedaan awal Ramadan tidak seharusnya menjadi sumber konflik.
Sebaliknya, hal tersebut merupakan bagian dari dinamika ijtihad dalam memahami dalil agama dan perkembangan ilmu astronomi.
Dalam dekade terakhir, perbedaan memang lebih sering terjadi karena masing-masing pihak memiliki metode dan kriteria yang diyakini.
Namun pada prinsipnya, semua pihak tetap menghormati keputusan satu sama lain.
Masyarakat kini tinggal menunggu hasil resmi Sidang Isbat 1 Ramadan 1447 H yang akan diumumkan pemerintah.
Apakah awal puasa akan serentak atau berbeda dengan Muhammadiyah, semuanya akan ditentukan berdasarkan musyawarah dan data hilal terkini.
Yang jelas, pesan utama dari Menteri Agama adalah menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Ramadan bukan hanya momentum ibadah, tetapi juga kesempatan memperkuat ukhuwah dan kebersamaan sebagai bangsa.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina