RADAR TRENGGALEK - Hasil rukyatul hilal NU memastikan hilal tidak terlihat di wilayah Indonesia sehingga 1 Ramadan 1447 H belum dimulai besok.
Keputusan ini diambil setelah tim falakiyah PWNU DKI bersama para kiai melakukan pemantauan langsung menggunakan metode rukyat dan teleskop canggih.
Dengan hasil rukyatul hilal NU tersebut, bulan Syakban 1447 H digenapkan menjadi 30 hari dan awal puasa Ramadan ditetapkan lusa.
Dalam keterangan yang disampaikan usai pemantauan, perwakilan NU menjelaskan bahwa upaya melihat hilal telah dilakukan baik secara kasat mata maupun menggunakan alat optik modern.
Namun hingga batas waktu pengamatan, tidak ada tanda-tanda kemunculan bulan sabit muda yang menandai awal Ramadan.
“Walaupun dengan upaya kasat mata maupun menggunakan teleskop canggih, belum terlihat adanya bulan baru,” ujar perwakilan NU dalam pernyataannya.
Hilal Belum Tampak di Wilayah NKRI
Tim falakiyah menegaskan bahwa rukyatul hilal dilakukan secara serius dan presisi.
Pengamatan dilakukan di sejumlah titik strategis untuk memastikan akurasi data astronomi dan visual.
Namun berdasarkan hasil di lapangan, hilal belum memenuhi kriteria imkan rukyat atau belum bisa terlihat di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Karena itu, sesuai kaidah fikih dan hadis Nabi tentang penyempurnaan bulan, Syakban digenapkan menjadi 30 hari.
Artinya, 1 Ramadan 1447 H versi NU dan pemerintah akan jatuh lusa, bukan besok.
Keputusan ini juga menjadi pegangan bagi warga Nahdlatul Ulama dalam memulai ibadah puasa Ramadan.
Metode Rukyatul Hilal Jadi Pegangan NU
NU secara konsisten menggunakan metode rukyatul hilal sebagai dasar utama penentuan awal bulan hijriah.
Dalam praktiknya, hisab atau perhitungan astronomi tetap digunakan sebagai pendukung.
Namun keputusan final tetap bergantung pada hasil pengamatan langsung hilal di wilayah Indonesia.
“Sampai ada penampakan bulan baru di wilayah NKRI, itu yang menjadi pegangan bagi kami,” tegasnya.
Meski demikian, NU tetap menghargai perbedaan metode yang digunakan ormas Islam lain.
Sebagaimana diketahui, sebagian pihak telah lebih dahulu menetapkan 1 Ramadan berdasarkan metode hisab.
Perbedaan ini dinilai sebagai bagian dari dinamika ijtihad dalam memahami dalil dan perkembangan ilmu falak.
Perbedaan Disikapi dengan Bijak
NU menekankan bahwa perbedaan awal puasa tidak boleh menjadi sumber perpecahan.
Indonesia memiliki tradisi panjang hidup berdampingan dalam keberagaman.
Perbedaan metode penetapan awal Ramadan dipandang sebagai kekayaan khazanah keilmuan Islam.
“Kita tetap menghargai saudara yang mungkin sudah memulai puasa esok hari,” ungkapnya.
Yang terpenting, menurut NU, adalah kesiapan hati dalam menyambut bulan suci.
Ramadan bukan sekadar soal tanggal, melainkan momentum memperbaiki niat, memperkuat keikhlasan, dan meningkatkan solidaritas sosial.
NU juga berharap seluruh proses penentuan awal Ramadan diridai Allah SWT.
Upaya ilmiah melalui rukyatul hilal dan hisab dinilai sebagai bentuk ikhtiar maksimal umat Islam dalam memastikan ketepatan kalender hijriah.
Fokus pada Spiritualitas Ramadan
Dengan ditetapkannya 1 Ramadan 1447 H lusa, umat Islam yang mengikuti keputusan ini memiliki tambahan waktu mempersiapkan diri.
Persiapan tersebut meliputi kesiapan fisik, mental, hingga spiritual dalam menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh.
NU mengajak masyarakat untuk tidak terjebak dalam perdebatan teknis.
Sebaliknya, masyarakat diimbau fokus pada substansi Ramadan sebagai bulan penuh ampunan dan rahmat.
Momentum ini seharusnya memperkuat persaudaraan antarumat Islam meski terdapat perbedaan dalam metode penetapan awal puasa.
Dengan hasil rukyatul hilal NU yang menyatakan hilal belum terlihat, maka secara resmi Syakban disempurnakan menjadi 30 hari.
Keputusan ini sekaligus menegaskan bahwa awal puasa Ramadan 1447 H dimulai lusa bagi warga NU dan yang mengikuti keputusan pemerintah.
Masyarakat pun diharapkan menyambut bulan suci dengan hati bersih, niat tulus, serta komitmen menjaga persatuan di tengah keberagaman.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina