Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Keutamaan Puasa Ramadhan Dibongkar Tuntas: Hadits Qudsi Ungkap Amalan Paling Besar Pahalanya

Auliya Nur'Aini Khafadzoh • Kamis, 19 Februari 2026 | 15:00 WIB

Keutamaan puasa Ramadhan dijelaskan lewat Hadits Qudsi. Puasa jadi ibadah paling istimewa dengan pahala yang Allah balas langsung. Pinterest
Keutamaan puasa Ramadhan dijelaskan lewat Hadits Qudsi. Puasa jadi ibadah paling istimewa dengan pahala yang Allah balas langsung. Pinterest

Trenggalek Jenggelek - Keutamaan puasa Ramadhan kembali menjadi sorotan umat Islam. Dalam sebuah kajian yang viral di YouTube, dijelaskan bahwa keutamaan puasa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan ibadah paling istimewa yang pahalanya langsung dibalas oleh Allah SWT. Penjelasan ini merujuk pada Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Di awal kajian, pemateri menegaskan bahwa keutamaan puasa Ramadhan melampaui ibadah-ibadah lain. Semua amal anak Adam telah ditentukan kadar pahalanya, mulai dari sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, bergantung pada keikhlasan. Namun, puasa menjadi pengecualian. Allah SWT berfirman, “Puasa itu milik-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Penekanan tentang keutamaan puasa Ramadhan ini membuat banyak jamaah tersadar bahwa puasa bukan ibadah biasa. Ia adalah amalan yang kedudukannya sangat khusus di sisi Allah karena dilakukan semata-mata demi ketaatan, bukan untuk dilihat manusia.

Hadits Qudsi Tentang Puasa yang Istimewa

Hadits Qudsi tersebut disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam riwayat itu, Allah SWT menyebutkan bahwa orang yang berpuasa telah meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Allah semata. Inilah yang menjadikan puasa memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi.

Berbeda dengan ibadah lain yang tampak secara lahiriah, puasa bersifat tersembunyi. Hanya Allah dan hamba-Nya yang benar-benar mengetahui kejujuran puasa tersebut. Faktor inilah yang membuat pahala puasa tidak dibatasi angka tertentu, karena Allah sendiri yang menilai dan membalasnya.

Menahan yang Halal Demi Ketaatan

Salah satu poin penting dalam kajian tersebut adalah makna menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya halal. Saat puasa Ramadhan, umat Islam dilarang makan, minum, dan berhubungan suami istri sejak azan Subuh hingga azan Maghrib. Semua itu halal di luar waktu puasa, namun ditinggalkan demi menjalankan perintah Allah.

Di sinilah letak keagungan puasa. Jika yang halal saja mampu ditinggalkan karena Allah, maka seharusnya yang haram lebih mudah untuk dijauhi. Puasa menjadi sarana pendidikan jiwa agar lebih bertakwa dan disiplin dalam menjalankan syariat.

Dua Kebahagiaan Orang yang Berpuasa

Dalam Hadits Qudsi tersebut juga dijelaskan bahwa orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan. Pertama, kebahagiaan saat berbuka puasa. Momen ini bukan sekadar pelepas lapar, tetapi juga bentuk syukur atas nikmat Allah setelah seharian menahan diri.

Kedua, kebahagiaan yang jauh lebih besar adalah saat bertemu dengan Allah SWT kelak. Inilah puncak keutamaan puasa Ramadhan yang sering terlupakan. Puasa bukan hanya tentang pahala dunia, tetapi investasi kebahagiaan akhirat.

Bau Mulut Lebih Harum dari Kasturi

Keistimewaan lain yang disampaikan dalam kajian tersebut adalah tentang bau mulut orang yang berpuasa. Dalam hadits disebutkan bahwa bau mulut orang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kasturi. Ini menunjukkan bahwa apa yang mungkin dianggap kurang menyenangkan oleh manusia, justru bernilai ibadah tinggi di hadapan Allah.

Pesan ini mengajarkan bahwa standar penilaian Allah sangat berbeda dengan penilaian manusia. Keikhlasan dan ketaatan menjadi ukuran utama, bukan penampilan lahiriah semata.

Puasa sebagai Ibadah Paling Mulia

Pemateri menegaskan, bahkan jika hanya hadits ini saja yang membahas puasa Ramadhan, itu sudah cukup untuk menunjukkan betapa mulianya ibadah puasa. Allah SWT menyebut puasa secara langsung sebagai milik-Nya, sebuah kehormatan yang tidak diberikan pada ibadah lain.

Karena itu, Ramadhan seharusnya dimanfaatkan sebaik mungkin. Menjaga puasa tidak hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari perbuatan sia-sia dan maksiat, agar keutamaan puasa Ramadhan benar-benar diraih secara maksimal.

Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh
#pahala puasa #keutamaan pada bulan Ramadhan #ibadah puasa