Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Perbedaan Awal Ramadan antara Salafi dan Muhammadiyah, Ini Penjelasan Lengkap Metode Rukyat dan Hisab yang Sering Disalahpahami

Edo Trianto • Kamis, 19 Februari 2026 | 16:55 WIB

Perbedaan Awal Ramadan antara Salafi dan Muhammadiyah, Ini Penjelasan Lengkap Metode Rukyat dan Hisab yang Sering Disalahpahami
Perbedaan Awal Ramadan antara Salafi dan Muhammadiyah, Ini Penjelasan Lengkap Metode Rukyat dan Hisab yang Sering Disalahpahami

TRENGGALEK NJENGGELEK - Perbedaan awal Ramadan antara Salafi dan Muhammadiyah kembali menjadi perbincangan setiap menjelang bulan suci. Di satu kota, bahkan dalam satu masjid dengan arah kiblat yang sama, sebagian umat Islam sudah melaksanakan tarawih, sementara sebagian lainnya masih menunggu kepastian. Perbedaan awal Ramadan antara Salafi dan Muhammadiyah ini kerap dianggap sebagai bentuk perpecahan, padahal sejatinya berakar dari perbedaan ijtihad dalam memahami dalil.

Perbedaan awal Ramadan antara Salafi dan Muhammadiyah muncul dari cara memahami hadis Nabi tentang penentuan awal puasa. Keduanya sama-sama merujuk pada sabda Rasulullah SAW: “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Jika tertutup awan, maka sempurnakanlah bulan Syakban menjadi 30 hari.” Hadis riwayat Bukhari dan Muslim ini menjadi landasan utama dalam menentukan awal Ramadan.

Namun, tafsir atas frasa “melihat hilal” itulah yang melahirkan dua pendekatan berbeda: rukyat dan hisab. Meski berbeda metode, keduanya lahir dari semangat yang sama, yakni mengikuti sunah Nabi sebaik mungkin.

Baca Juga: Wisata Dieng Murah dan Lengkap, Jelajah Candi Arjuna hingga Kawah Sikidang Cuma Rp30 Ribu

Metode Salafi: Rukyat sebagai Sunah Tekstual

Kelompok Salafi cenderung memahami hadis tersebut secara tekstual. Bagi mereka, perintah melihat hilal berarti menyaksikan secara langsung dengan mata. Artinya, hilal harus benar-benar terlihat sebagai tanda masuknya bulan Ramadan.

Dalam pandangan ini, penetapan awal puasa tidak boleh hanya berdasarkan perhitungan astronomi. Rukyat atau pengamatan langsung menjadi metode utama. Jika hilal tidak terlihat karena cuaca atau faktor lain, maka bulan Syakban disempurnakan menjadi 30 hari.

Sejumlah ulama yang menjadi rujukan manhaj Salafi menegaskan posisi ini. Mereka berpandangan bahwa ibadah bersifat taukifiah, yakni harus mengikuti dalil sebagaimana adanya tanpa penambahan atau perubahan metode yang tidak dicontohkan secara eksplisit oleh Nabi dan para sahabat.

Karena pada masa Rasulullah SAW belum dikenal perhitungan astronomi modern untuk menentukan awal bulan, maka rukyat dianggap sebagai metode yang paling sesuai dengan sunah. Pendekatan ini menekankan kehati-hatian dalam menjaga kemurnian praktik ibadah.

Baca Juga: Tol Kayangan Dieng, Jalan Setapak 3 Meter dengan Panorama Negeri di Atas Awan

Metode Muhammadiyah: Hisab sebagai Ilmu Pengetahuan

Di sisi lain, Muhammadiyah menggunakan metode hisab atau perhitungan astronomi modern untuk menentukan posisi hilal. Bagi Muhammadiyah, melihat hilal tidak selalu harus dimaknai secara harfiah sebagai melihat dengan mata kepala, tetapi dapat dipahami sebagai mengetahui keberadaan hilal melalui ilmu.

Pendekatan ini didasarkan pada pemahaman bahwa pada masa Nabi, umat Islam masih dalam kondisi terbatas dalam hal literasi dan perhitungan. Hadis yang menyebut umat Islam sebagai umat yang “ummi” dipahami sebagai gambaran kondisi saat itu, bukan larangan menggunakan ilmu di masa depan.

Dengan perkembangan teknologi dan ilmu falak, posisi bulan kini dapat dihitung secara akurat. Muhammadiyah memandang hisab sebagai bentuk pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk mendukung pelaksanaan syariat, bukan sebagai penyimpangan dari sunah.

Metode ini juga dinilai memberikan kepastian kalender hijriah jauh hari sebelumnya, sehingga umat bisa mempersiapkan diri lebih matang menyambut Ramadan, Idul Fitri, maupun Idul Adha.

Baca Juga: Wisata Dieng Lewat Jalur Wonosobo–Kejajar, Ini Potret Perjalanan Menuju Negeri di Atas Awan

Perbedaan Ijtihad Sejak Zaman Sahabat

Perbedaan dalam menentukan awal bulan bukanlah fenomena baru. Dalam sejarah Islam, perbedaan rukyat antarwilayah sudah terjadi sejak masa sahabat. Terdapat riwayat bahwa Ibnu Abbas dan Muawiyah pernah berbeda dalam penentuan awal Ramadan karena perbedaan lokasi pengamatan hilal.

Di wilayah Syam, hilal terlihat lebih dulu. Namun di Madinah, hilal belum tampak. Ibnu Abbas tetap berpegang pada rukyat di wilayahnya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan metode dan wilayah sudah dikenal sejak generasi awal Islam.

Sebagian ulama klasik juga membahas posisi hisab dalam penentuan awal bulan. Mayoritas memang tidak menjadikan hisab sebagai dasar hukum utama. Namun ada pula ulama yang membolehkan penggunaan hisab oleh ahli yang terpercaya dalam kondisi tertentu.

Artinya, perbedaan ini merupakan bagian dari khazanah ijtihad dalam tradisi Islam, bukan sekadar perdebatan modern.

Baca Juga: Pantangan Weton Kliwon Menurut Primbon Jawa: Jangan Sepelekan, Bisa Berbalik Jadi Ujian Hidup

Bukan Soal Benar atau Salah

Baik Salafi maupun Muhammadiyah memiliki landasan dalil, ulama rujukan, serta argumentasi ilmiah masing-masing. Keduanya sama-sama ingin menyambut Ramadan dengan cara yang paling sesuai dengan keyakinan mereka terhadap sunah Nabi.

Perbedaan awal Ramadan antara Salafi dan Muhammadiyah seharusnya tidak dipahami sebagai perpecahan. Di bawah langit yang sama, umat Islam menanti hilal yang sama dengan harapan yang sama: mendapatkan ampunan, meningkatkan ketakwaan, dan mempererat persaudaraan.

Pada akhirnya, Ramadan bukan semata tentang tanggal mulai puasa, tetapi tentang kesiapan hati dalam menjalankan ibadah. Yang dinilai bukanlah siapa yang memulai lebih dulu atau lebih lambat, melainkan keikhlasan dan kesungguhan dalam menjalankannya.

Perbedaan metode hanyalah cara. Tujuannya tetap satu: mendekatkan diri kepada Allah SWT di bulan suci Ramadan.

Editor : Edo Trianto
#ramadan #muhammadiyah #salafi #hilal #puasa