KOTA, Radar Trenggalek - Salah satu kepribadian mulia yang mesti dilatih dan dibiasakan oleh setiap orang Islam adalah sifat dermawan. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat ditemui Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al-Qur’an. Bahkan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi dermawannya angin yang berhembus.” (HR. Bukhori dan Muslim).
Coba kita lihat bagaimana tingginya posisi kemuliaan orang yang dermawan.“Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 274).
Sebagaimana juga disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam salah satu hadits yang artinya; Dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Orang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang yang bakhil (pelit) itu jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka. Sesungguhnya orang bodoh yang dermawan lebih Allah cintai dari pada seorang alim yang bakhil.” (HR Tirmidzi).
Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menyebutkan bahwa dermawan terbagi ke dalam beberapa tingkatan. Tingkatan pertama: Memberi dari kelebihan. Ini adalah tingkatan dasar dalam kedermawanan. Seorang Muslim memberi dari apa yang berlebih setelah kebutuhan dirinya tercukupi. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt.: “Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, ‘Yang lebih dari keperluan. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu berpikir’” (QS. Al-Baqarah: 219)
Tingkatan kedua: Memberi dari kebutuhan. Tingkat yang lebih tinggi adalah ketika seseorang tetap memberi meski dirinya sendiri masih membutuhkannya. Inilah dermawan yang benar-benar mengutamakan pahala dan keridhaan Allah swt. di atas kesenangan pribadinya. Firman Allah swt: “Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS. Al-Hasyr: 9).
Ayat ini turun mengenai kaum Anshar yang tetap berbagi harta dengan Muhajirin meskipun mereka sendiri hidup dalam keterbatasan. Sifat ini menunjukkan derajat kedermawanan yang tinggi karena lahir dari iman yang kuat dan keyakinan akan janji Allah swt.
Tingkatan ketiga: Memberi dari sesuatu yang dicintai. Ini adalah tingkatan yang lebih mulia, yaitu seseorang menginfakkan apa yang paling ia cintai, bukan hanya sekadar harta atau barang yang berlebih. Allah swt berfirman, “Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya. Āli ‘Imrān [3]:92. Asbabun nuzul ayat ini diriwayatkan dari sahabat Abu Thalhah ra.
Yang segera mewakafkan kebun yang paling ia cintai setelah mendengar ayat ini. Hal itu menunjukkan kesungguhan iman, sebab ia rela melepaskan sesuatu yang paling berharga demi mencari ridha Allah swt.
Tingkatan keempat: Itsar (mengutamakan orang lain). Inilah tingkatan tertinggi dari kedermawanan. Seorang hamba tidak hanya memberi dari kelebihan atau sesuatu yang ia cintai, tetapi ia rela mengutamakan orang lain meskipun dirinya sendiri sangat membutuhkannya
Dimanakah posisi kedermawanan kita? Semoga kita bisa memiliki ketakwaan dan akhlak yang mulia berupa pribadi dermawan yang akan memudahkan kita ke surgaNya. (mall)
Editor : Adinda Putri Sefiana