Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Bulan Suci Ramadan dan Momentumnya

Amalia Rizky Indah Permadani • Kamis, 12 Maret 2026 | 11:59 WIB

Ramadan menjadi bulan paling istimewa bagi umat Islam, penuh keberkahan, keutamaan, dan momentum terbaik untuk meningkatkan ibadah serta memperkuat kebersamaan dalam kebaikan.
Ramadan menjadi bulan paling istimewa bagi umat Islam, penuh keberkahan, keutamaan, dan momentum terbaik untuk meningkatkan ibadah serta memperkuat kebersamaan dalam kebaikan.

Radar Trenggalek - Ramadan adalah bulan istimewa bahkan paling istimewa dan paling utama, karena Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhususkannya dengan beragam keistimewaan dan bermacam-macam keutamaan serta kelebihan yang tidak terdapat di bulan-bulan yang lain.

Dan karenanya, Ramadan merupakan salah satu momentum paling istimewa dan paling utama, serta paling kondusif bagi kaum muslimin, secara individual maupun komunal, untuk melakukan upaya menanam, memperbaharui dan menguatkan diri mencapai  tingkat ruhiyah, tanggung jawab dan pengorbanan yang lebih tinggi.

Tingginya tingkat ruhiyah seseorang akan berindikasi pada kesolidan aqidahnya, disiplinya dalam beribadah dan kelurusan perilakunya. Orang yang aqidahnya solid selalu menggantungkan hidupnya kepada Allah.

Orang yang ibadahnya disiplin selalu memperhatikan kesesuaian  amaliyahnya dengan tuntunan Rasulullah. Sedangkan akhlak atau perilaku yang lurus itu buah dari kesolidan aqidah dan disiplinnya seseorang dalam ibadah. Jadi orang yang aqidah dan ibadahnya baik pasti akhlak atau perilakunya baik.

Sedangkan tingginya tanggung jawab akan berindikasi pada perbaikan diri untuk terlepas dari azab neraka, baik secara pribadi maupun kolektif. Memandang siapa saja dengan pandangan saling kasih sayang.

Memandang orang kafir atau non muslim, orang munafiq, orang musrik, ahli bid’ah, ahli maksiyat sekalipun tetap dengan pandangan kasih sayang. Dia merasa bertanggungjawab dan terus berusaha untuk mengajak kembali ke jalan yang benar sehingga terlepas dari api neraka.

Bertambahnya semangat untuk berkorban; baik diri, harta, pikiran dan waktu berindikasi pada kecerdasan spiritualnya. Berkorban terus sampai kaya, tanpa menunggu kaya baru berkorban. Berkorban terus sampai ikhlas, tanpa menunggu ikhlas baru berkorban.

Berdakwah terus sampai alim, tanpa menunggu alim baru berdakwah. Beribadah terus sampai tua, tanpa menunggu tua baru beribadah. (mall)

Editor : Adinda Putri Sefiana
#ramadan #Subadianto #bulan suci ramadan #kaum muslimin