Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Kisah Sunan Giri Sang Wali Songo Keturunan Kerajaan Blambangan, Pernah Dihanyutkan ke Laut hingga Jadi Penyebar Islam di Nusantara

Maylanni Diana Fitri • Senin, 18 Mei 2026 | 22:03 WIB
Kisah Sunan Giri, Wali Songo keturunan Blambangan yang dihanyutkan ke laut hingga jadi penyebar Islam Nusantara. (Pinterest)
Kisah Sunan Giri, Wali Songo keturunan Blambangan yang dihanyutkan ke laut hingga jadi penyebar Islam Nusantara. (Pinterest)

Trenggalek Njenggelek – Nama Sunan Giri dikenal sebagai salah satu tokoh penting Wali Songo yang memiliki pengaruh besar dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa dan Nusantara. Kisah hidup Sunan Giri yang penuh perjuangan kembali menjadi perhatian publik setelah diangkat dalam sebuah perjalanan ziarah religi ke makamnya di kawasan Kebomas, Gresik, Jawa Timur.

Dalam perjalanan tersebut, dijelaskan bahwa Sunan Giri memiliki nama kecil Joko Samudro. Saat dewasa, ia dikenal dengan nama Raden Paku. Selain itu, Sunan Giri juga memiliki sejumlah gelar lain seperti Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, dan Ainul Yaqin.

Nama Sunan Giri sendiri berasal dari tempat dakwahnya yang berada di sebuah bukit di Desa Giri, Kebomas, Gresik. Dalam bahasa Jawa, istilah “giri” memiliki arti gunung. Dari kawasan perbukitan inilah Sunan Giri membangun pusat dakwah Islam yang berkembang menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam terbesar di Jawa.

Baca Juga: Samsung Galaxy A07 Harga Rp1,3 Jutaan Bikin Kaget, Pakai Helio G99 dan UFS, Layak Jadi Raja HP Murah?

Putra Kerajaan Blambangan

Sunan Giri merupakan putra Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu, putri Raja Blambangan bernama Prabu Menak Sembuyu. Kisah kelahiran Sunan Giri disebut sarat dengan legenda yang hingga kini masih dipercaya sebagian masyarakat Jawa.

Kala itu, Maulana Ishaq harus meninggalkan Blambangan dan kembali ke Pasai karena situasi politik yang mengancam aktivitas dakwahnya. Tidak lama setelah kepergian Maulana Ishaq, Dewi Sekardadu melahirkan seorang bayi laki-laki yang kemudian dianggap masyarakat sebagai pembawa kutukan wabah penyakit.

Karena ketakutan terhadap wabah tersebut, Prabu Menak Sembuyu memerintahkan agar bayi itu dimasukkan ke dalam peti dan dihanyutkan ke laut. Dewi Sekardadu disebut terus mencari anaknya dengan menyusuri pantai siang dan malam hingga akhirnya meninggal dunia.

Beruntung, peti berisi bayi tersebut ditemukan oleh seorang nelayan dan dibawa ke Gresik. Bayi itu kemudian diasuh oleh Nyai Gede Pinatih dan diberi nama Joko Samudro.

Berguru kepada Sunan Ampel

Sejak kecil, Joko Samudro dikenal memiliki kecerdasan dan minat besar terhadap ilmu agama. Ia kemudian berguru kepada Raden Rahmat atau Sunan Ampel yang menjadi salah satu tokoh penting Wali Songo.

Dari Sunan Ampel, Joko Samudro mendapatkan julukan Ainul Yaqin. Setelah mengetahui asal-usul keluarganya, Sunan Ampel mengirim Joko Samudro bersama Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang ke Pasai untuk memperdalam ilmu agama Islam.

Di Pasai, Joko Samudro akhirnya bertemu kembali dengan ayah kandungnya, Maulana Ishaq. Selama sekitar tiga tahun, ia mempelajari ilmu tauhid dan tasawuf sebelum kembali ke Pulau Jawa untuk melanjutkan perjuangan dakwah Islam.

Mendirikan Pesantren dan Giri Kedaton

Sepulang dari Pasai, Sunan Giri berkelana mencari tempat yang cocok untuk menyebarkan agama Islam. Ia kemudian mendirikan pondok pesantren di kawasan Sidomukti, Kebomas, Gresik sekitar tahun 143 Saka.

Pesantren tersebut dikenal sebagai salah satu pondok pesantren pertama di wilayah Gresik. Dari tempat itu pula dakwah Sunan Giri berkembang luas hingga ke berbagai daerah di Nusantara seperti Madura, Lombok, Kalimantan, Sumbawa, Flores, Ternate, Sulawesi, hingga Maluku.

Besarnya pengaruh Sunan Giri membuat wilayah dakwahnya berkembang menjadi kerajaan kecil bernama Giri Kedaton. Kerajaan tersebut memiliki pengaruh besar di kawasan Gresik dan sekitarnya selama beberapa generasi sebelum akhirnya ditaklukkan Sultan Agung.

Dakwah Lewat Seni dan Permainan Anak

Salah satu hal menarik dari metode dakwah Sunan Giri adalah pendekatannya yang ramah terhadap budaya lokal. Ia menggunakan seni tradisional Jawa sebagai media penyebaran agama Islam agar lebih mudah diterima masyarakat.

Sunan Giri dikenal menciptakan lagu permainan anak atau tembang dolanan yang sarat pesan moral dan pendidikan agama. Lagu-lagu tersebut digunakan untuk menarik perhatian masyarakat sekaligus mendidik anak-anak tentang nilai kehidupan dan ajaran Islam.

Selain itu, Sunan Giri juga disebut menciptakan beberapa gending Jawa seperti Asmaradana dan Pucung. Pendekatan budaya ini menjadi salah satu alasan dakwah Islam berkembang pesat di Pulau Jawa pada masa itu.

Hingga kini, makam Sunan Giri di Kebomas, Gresik, masih ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Banyak masyarakat datang untuk mengenang jasa besar Sunan Giri sebagai tokoh Wali Songo yang memiliki peran penting dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara.

Editor : Maylanni Diana Fitri
#Giri Kedaton #Joko Samudro #Maulana Ishaq #sunan giri #wali songo