POLEWALI MANDAR - Kisah karomah Imam Lapeo kembali menjadi sorotan setelah berbagai cerita luar biasa tentang ulama besar asal Sulawesi Barat ini beredar luas, mulai dari kebal api hingga menolong kapal di tengah badai. Sosok KH Muhammad Thahir ini dikenal sebagai penyebar Islam sekaligus tokoh spiritual yang dihormati hingga kini.
Kisah karomah Imam Lapeo tidak hanya menjadi bagian dari sejarah lisan masyarakat Mandar, tetapi juga tertulis dalam berbagai sumber, termasuk catatan keluarga dan muridnya. Ulama yang lahir sekitar tahun 1838–1839 di Pambusuang ini dikenal sebagai pendiri Masjid Nuruttaubah di Lapeo dan wafat pada 17 Juni 1952 dalam usia sekitar 114 tahun.
Sebanyak puluhan kisah karomah Imam Lapeo disebutkan dalam berbagai literatur, bahkan salah satunya mencatat hingga 74 karomah sepanjang hidupnya. Cerita-cerita ini menjadi bukti kuat pengaruh spiritualnya di tengah masyarakat.
Baca Juga: Potensi PAD Bocor Akibat Reklame Liar
Perjalanan Hidup dan Peran Besar Imam Lapeo dalam Syiar Islam
Kisah karomah Imam Lapeo tidak bisa dilepaskan dari perjalanan hidupnya yang panjang dalam menuntut ilmu dan berdakwah. KH Muhammad Thahir diketahui pernah belajar agama hingga ke Istanbul, Turki, selain ke berbagai daerah di Nusantara seperti Jawa, Sumatera, dan Madura.
Karena pengalaman itu, masyarakat menjulukinya “Kannei Tambul” atau “kakek dari Istanbul”. Ia dikenal sebagai ulama sufi yang mengedepankan nilai kemanusiaan, keberanian, dan keteguhan dalam berdakwah.
“Perjalanan hidupnya sepenuhnya diabadikan untuk ilmu dan umat,” demikian disebut dalam salah satu sumber tertulis tentang biografinya.
Baca Juga: Longsor Susulan Mengancam KM 16, Kondisi Tebing Belum Stabil Terapkan Sistem Buka Tutup
Ia juga disebut berhasil melahirkan banyak ulama di wilayah Mandar. Perannya dalam bidang sosial-keagamaan menjadikannya sosok yang dihormati dan bahkan dianggap sebagai wali oleh sebagian masyarakat.
Masjid Nuruttaubah yang ia dirikan menjadi pusat dakwah sekaligus simbol perjuangannya dalam menyebarkan Islam di Sulawesi Barat. Hingga kini, masjid tersebut masih aktif dan menjadi tujuan ziarah.
Deretan Kisah Karomah Imam Lapeo yang Sulit Dinalar
Kisah karomah Imam Lapeo yang paling dikenal adalah kemampuannya menghadapi berbagai kejadian di luar nalar manusia. Salah satu cerita menyebutkan tangannya tidak terbakar saat ditekan api oleh gurunya saat belajar di Timur Tengah.
Dalam kisah lain, ia disebut mampu menghalau bola api yang hampir mengenainya hanya dengan tatapan mata. Bahkan, dinding masjid disebut hancur akibat benturan bola api tersebut.
Ada pula cerita tentang ular yang muncul di atas makanan saat ia hendak makan di sebuah acara. Dengan isyarat sederhana, ular-ular tersebut menghilang tanpa jejak.
Kisah lain yang cukup populer adalah ketika ia membantu kapal yang hampir tenggelam di tengah badai. Beberapa hari setelah kejadian, seorang tamu datang mengucapkan terima kasih karena merasa ditolong oleh sosok Imam Lapeo di tengah laut.
Tak hanya itu, ada juga cerita tentang suara teriakannya yang terdengar hingga jauh untuk mengusir pencuri, serta kemampuannya mengembalikan hewan ternak yang hilang hanya melalui doa.
“Orang yang hendak mencuri itu akhirnya datang meminta maaf karena terus mendengar suara Imam Lapeo,” ungkap salah satu cerita yang beredar di masyarakat.
Pengaruh Karomah terhadap Kepercayaan dan Tradisi Masyarakat
Kisah karomah Imam Lapeo hingga kini masih berpengaruh kuat terhadap kehidupan masyarakat Mandar. Makamnya yang berada di kompleks Masjid Nuruttaubah tidak pernah sepi peziarah, terutama pada waktu-waktu tertentu seperti menjelang keberangkatan haji.
Fenomena ini sejalan dengan keyakinan dalam tradisi tasawuf yang menyebut bahwa karomah seorang wali akan terus terasa bahkan setelah wafat.
Selain itu, kisah-kisah tersebut juga menjadi sarana dakwah tidak langsung yang memperkuat keimanan masyarakat. Banyak pesan moral yang terkandung, seperti pentingnya kejujuran, ibadah, dan menjauhi perbuatan maksiat.
Salah satu pesan utama Imam Lapeo yang terus dikenang adalah ajakan untuk selalu berkata jujur dan menjaga salat. “Pesan yang paling diutamakan adalah berkata benar dan menjalankan ibadah,” demikian disebut dalam salah satu riwayat.
Cerita-cerita tersebut juga memperkuat identitas budaya dan religius masyarakat Mandar yang hingga kini masih menjaga tradisi ziarah dan penghormatan terhadap ulama.
Kisah karomah Imam Lapeo bukan sekadar cerita spiritual, tetapi juga bagian dari sejarah penyebaran Islam di Sulawesi Barat. Dengan puluhan kisah yang terus hidup di tengah masyarakat, sosok KH Muhammad Thahir tetap dikenang sebagai ulama besar yang memberikan pengaruh nyata, baik secara spiritual maupun sosial hingga saat ini.
Editor : Axsha Zazhika