POLEWALI MANDAR - Masjid Nur Taubah Imam Lapeo di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, menjadi salah satu masjid tertua sekaligus pusat wisata religi yang menyimpan jejak dakwah ulama besar abad ke-19, KH Muhammad Tahir. Masjid Nur Taubah Imam Lapeo tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga bukti sejarah penyebaran Islam di tanah Mandar.
Masjid Nur Taubah Imam Lapeo terletak di Kecamatan Campalagian, sekitar 20 kilometer dari pusat Kabupaten Polewali Mandar dan sekitar 275 kilometer dari Kota Makassar. Lokasinya yang strategis membuat masjid ini mudah diakses oleh para peziarah dari berbagai daerah.
Masjid Nur Taubah Imam Lapeo hingga kini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata religi paling ramai di Sulawesi Barat, terutama karena keterkaitannya dengan sosok Imam Lapeo yang dihormati masyarakat.
Jejak Dakwah Imam Lapeo di Tanah Mandar
Masjid Nur Taubah Imam Lapeo merupakan peninggalan langsung dari perjuangan KH Muhammad Tahir, atau yang dikenal sebagai Imam Lapeo, dalam menyebarkan ajaran Islam di Sulawesi Barat pada abad ke-19.
Masjid ini menjadi pusat kegiatan dakwah sekaligus simbol keberhasilan penyebaran Islam di wilayah pesisir Mandar. “Masjid ini adalah bukti otentik perjuangan Imam Lapeo,” demikian narasi yang berkembang dalam masyarakat setempat.
Selain sebagai tempat ibadah, kawasan masjid juga menjadi lokasi makam Imam Lapeo yang hingga kini sering diziarahi. Kehadiran makam tersebut menambah nilai spiritual dan historis bagi pengunjung.
Dalam catatan lokal, Imam Lapeo dikenal sebagai ulama kharismatik yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk kehidupan religius masyarakat Mandar.
Masjid ini juga menjadi salah satu dari 17 masjid yang dibangun di sepanjang pesisir Sulawesi Barat atas prakarsa Imam Lapeo, menunjukkan luasnya jangkauan dakwah beliau.
Proses Pembangunan Penuh Tantangan dan Dukungan
Pembangunan Masjid Nur Taubah Imam Lapeo tidak berlangsung mudah. Dalam sejumlah catatan, Imam Lapeo bahkan harus berutang untuk membiayai pembangunan masjid tersebut.
“Banyak lika-liku dan tantangan dalam proses pembangunannya,” menjadi gambaran kondisi saat itu.
Menariknya, pembangunan masjid ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk para pedagang asal Tiongkok yang turut membantu pendanaan.
Selain itu, material bangunan juga memanfaatkan sumber daya yang ada. Salah satunya adalah penggunaan sisa-sisa besi dari proyek pembangunan Jembatan Mapilli untuk memperkuat struktur menara masjid.
Data ini menunjukkan adanya kolaborasi lintas komunitas dalam pembangunan masjid, yang mencerminkan semangat gotong royong masyarakat pada masa itu.
Masjid ini kemudian berdiri sebagai simbol perjuangan, tidak hanya dalam aspek spiritual tetapi juga sosial dan ekonomi.
Destinasi Wisata Religi dan Pusat Ziarah
Hingga kini, Masjid Nur Taubah Imam Lapeo tetap aktif digunakan sebagai tempat ibadah sekaligus destinasi wisata religi di Sulawesi Barat.
Setiap tahunnya, ribuan peziarah datang untuk berkunjung, terutama untuk berdoa di makam Imam Lapeo yang berada di area masjid.
“Masjid ini menjadi salah satu lokasi ziarah paling ramai di Sulawesi Barat,” menjadi fakta yang memperkuat posisinya sebagai pusat spiritual.
Selain nilai religius, masjid ini juga dikenal memiliki kisah-kisah karamah yang melekat pada sosok Imam Lapeo. Cerita-cerita tersebut menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat setempat.
Keberadaan masjid ini juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar, terutama melalui aktivitas wisata religi yang terus berkembang.
Masjid Nur Taubah Imam Lapeo kini tidak hanya menjadi simbol sejarah, tetapi juga pusat kegiatan keagamaan dan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat.
Sebagai penutup, Masjid Nur Taubah Imam Lapeo merupakan warisan berharga dari perjuangan dakwah Islam di tanah Mandar. Dengan sejarah panjang sejak abad ke-19, masjid ini tetap menjadi pusat ibadah, ziarah, dan pengingat akan peran penting ulama dalam membangun kehidupan spiritual masyarakat.
Editor : Axsha Zazhika