CIREBON - Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon merupakan masjid tertua di kawasan Keraton Kasepuhan yang dibangun pada tahun 1480 Masehi oleh Sunan Gunung Jati. Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon tidak hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga filosofi unik, salah satunya pintu masuk rendah yang mengharuskan setiap pengunjung menunduk.
Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon terletak di sebelah barat Alun-Alun Kasepuhan dan menjadi salah satu destinasi religi yang ramai dikunjungi wisatawan. Bangunan ini menjadi bukti perkembangan Islam di Cirebon sejak abad ke-15.
Selain nilai sejarahnya, Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon juga dikenal memiliki arsitektur khas yang sarat makna, terutama pada bagian ruang utama dan pintu masuknya.
Baca Juga: Longsor Susulan Mengancam KM 16, Kondisi Tebing Belum Stabil Terapkan Sistem Buka Tutup
Dibangun Sunan Gunung Jati, Arsitek Sunan Kalijaga
Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon dibangun pada tahun 1480 M saat Cirebon dipimpin oleh Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Pembangunan masjid ini melibatkan tokoh penting Wali Sanga, termasuk Sunan Kalijaga yang berperan sebagai arsitek utama.
“Masjid ini dibangun pada masa awal penyebaran Islam di Cirebon,” menjadi penegasan penting dalam sejarah berdirinya.
Lokasinya yang berada di Kompleks Keraton Kasepuhan menunjukkan keterkaitan erat antara kekuasaan kerajaan dan penyebaran agama Islam. Masjid ini juga menjadi pusat aktivitas keagamaan pada masa itu.
Baca Juga: Terminal Surondakan Jalani Perbaikan Fasilitas
Secara fungsi, ruang utama masjid tidak digunakan setiap hari. Berdasarkan keterangan yang beredar, ruang tersebut lebih sering difungsikan untuk salat Jumat dan hari besar Islam.
Hal ini menunjukkan adanya pembagian fungsi ruang dalam masjid yang sudah diterapkan sejak masa awal pembangunannya.
Filosofi Pintu Rendah: Simbol Kerendahan Hati
Salah satu keunikan Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon terletak pada pintu masuk ruang utamanya yang berukuran lebih rendah dibandingkan ukuran tubuh orang dewasa pada umumnya.
Kondisi ini membuat setiap pengunjung harus menundukkan badan saat memasuki ruangan. Filosofi ini bukan tanpa makna.
“Setinggi apa pun jabatan seseorang, di hadapan Tuhan semua sama,” menjadi pesan utama dari desain tersebut.
Konsep ini mencerminkan ajaran Islam tentang kerendahan hati dan kesetaraan manusia di hadapan Allah. Elemen arsitektur ini sekaligus menjadi simbol spiritual yang masih relevan hingga sekarang.
Selain itu, desain pintu rendah juga menjadi ciri khas masjid-masjid kuno di Jawa yang mengedepankan nilai filosofi dalam setiap bagian bangunan.
Fungsi Masjid dan Aktivitas Hingga Kini
Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon hingga kini masih digunakan sebagai tempat ibadah. Namun, tidak semua bagian masjid digunakan setiap hari.
Ruang utama yang memiliki kapasitas terbatas lebih difokuskan untuk kegiatan tertentu seperti salat Jumat. Sementara aktivitas ibadah harian biasanya dilakukan di area lain yang lebih mudah diakses.
Dari segi kapasitas, ruang utama diperkirakan mampu menampung puluhan jamaah dalam satu waktu. Hal ini sesuai dengan ukuran ruang yang tidak terlalu luas dibandingkan masjid modern.
“Kalau sudah masuk, baru terasa kapasitasnya terbatas,” menjadi gambaran kondisi ruang utama masjid tersebut.
Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi objek wisata religi yang menarik minat pengunjung dari berbagai daerah.
Baca Juga: Vivo V50 Lite 5G Dibanderol Rp4,5 Juta, Baterai 6500 mAh dan Layar Borderless Jadi Senjata Utama
Keberadaannya di kawasan Keraton Kasepuhan membuat masjid ini menjadi bagian penting dalam paket wisata sejarah di Kota Cirebon.
Sebagai penutup, Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon tidak hanya menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di Jawa Barat sejak tahun 1480, tetapi juga menyimpan nilai filosofi mendalam dalam setiap detail arsitekturnya. Filosofi pintu rendah menjadi pengingat bahwa kerendahan hati adalah kunci utama dalam beribadah dan menjalani kehidupan.
Editor : Axsha Zazhika