CIREBON - Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon tidak hanya dikenal sebagai situs bersejarah peninggalan Wali Sanga, tetapi juga menyimpan sejumlah kisah tragis yang berkaitan dengan perjalanan Islam di tanah Jawa. Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon bahkan disebut menjadi lokasi peristiwa penting, mulai dari konflik politik hingga perdebatan keagamaan.
Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon yang berada di kawasan Keraton Kasepuhan selama ini dikenal sebagai pusat penyebaran Islam sejak abad ke-15. Namun di balik nilai religiusnya, tersimpan cerita-cerita kelam yang menjadi bagian dari dinamika sejarah.
Sejumlah peristiwa yang dikaitkan dengan Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon melibatkan tokoh penting, mulai dari sultan hingga ulama besar, yang memperlihatkan bahwa masjid juga menjadi ruang perjuangan, bukan sekadar tempat ibadah.
Baca Juga: Polytron Fox Air Makin Menarik, Tiga Warna Baru Jadi Sorotan, Simak Fitur dan Kenyamanannya
Pembunuhan Sultan Sepuh V di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon
Salah satu kisah yang paling banyak dibicarakan adalah dugaan pembunuhan Sultan Sepuh V, Pangeran Syafiuddin atau Pangeran Matangaji, yang disebut terjadi di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon.
Dalam salah satu versi, peristiwa ini terjadi saat sang sultan memenuhi undangan perundingan dengan pihak Belanda. Ia datang ke masjid untuk melaksanakan salat sebelum pertemuan penting tersebut.
Namun, situasi berubah tragis ketika ia diduga diserang oleh kerabat dekatnya sendiri. “Pangeran Matangaji dikenal gigih melawan Belanda, sehingga sulit dikalahkan secara langsung,” demikian narasi yang berkembang dalam cerita lisan.
Dikisahkan, senjata keris miliknya digunakan untuk menghabisinya saat ia sedang tidak bersenjata. Peristiwa ini diperkirakan terjadi pada masa kolonial ketika konflik antara Keraton Cirebon dan Belanda memuncak.
Meski begitu, terdapat versi lain yang menyebut pembunuhan terjadi di area keraton, bukan di dalam masjid. Hingga kini, kebenaran lokasi pastinya masih menjadi perdebatan sejarah.
Sidang dan Eksekusi Syekh Siti Jenar
Peristiwa lain yang dikaitkan dengan Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon adalah sidang terhadap Syekh Siti Jenar, seorang tokoh penyebar Islam yang dikenal dengan ajaran kontroversial Manunggaling Kawula Gusti.
Sidang tersebut dilakukan oleh Dewan Wali Sanga di dalam masjid. Dalam forum itu, Syekh Siti Jenar menyampaikan pembelaannya terkait ajaran yang dianggap berpotensi menimbulkan salah tafsir di masyarakat.
“Ajarnya dinilai berbahaya jika disampaikan secara terbuka,” menjadi salah satu alasan utama digelarnya sidang tersebut.
Setelah melalui beberapa kali perdebatan, Wali Sanga disebut memutuskan bahwa Syekh Siti Jenar bersalah. Eksekusi kemudian dilakukan di luar area masjid pada hari berikutnya.
Dalam versi yang berkembang di Cirebon, eksekusi dilakukan oleh Sunan Kudus menggunakan keris khusus. Namun, ada pula versi lain yang menyebut bahwa yang “dihukum” adalah ajarannya, bukan sosoknya secara fisik.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa masjid pada masa itu juga berfungsi sebagai pusat pengambilan keputusan penting dalam penyebaran agama.
Legenda Azan Pitu dan Ledakan Kubah Masjid
Kisah lain yang tak kalah menarik adalah peristiwa yang berkaitan dengan tradisi Azan Pitu di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon. Tradisi ini dilakukan oleh tujuh muazin secara bersamaan sebagai upaya spiritual mengatasi wabah.
Menurut cerita, peristiwa ini terjadi saat Cirebon dilanda wabah penyakit besar yang menyebabkan banyak korban jiwa dalam waktu singkat. Dalam satu hari, banyak warga dilaporkan meninggal.
Sebagai ikhtiar, Sunan Gunung Jati disebut memerintahkan pelaksanaan azan oleh tujuh orang muazin terpilih pada waktu Subuh.
“Setelah azan dilakukan, terjadi ledakan di bagian atas masjid,” demikian cerita yang berkembang di masyarakat.
Ledakan tersebut diyakini menghancurkan kubah masjid yang konon sebelumnya ada. Sejak saat itu, Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon dikenal tidak memiliki kubah.
Beberapa versi bahkan mengaitkan peristiwa tersebut dengan unsur mistis, meski tidak memiliki bukti sejarah yang kuat.
Hingga kini, tradisi Azan Pitu masih dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya dan spiritual masyarakat Cirebon.
Sebagai penutup, Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon tidak hanya menjadi simbol penyebaran Islam, tetapi juga saksi berbagai peristiwa penting yang membentuk sejarah daerah tersebut. Terlepas dari perbedaan versi cerita, masjid ini tetap menjadi pusat spiritual sekaligus warisan budaya yang terus dijaga hingga kini.
Editor : Axsha Zazhika