Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Masjid Gede Kauman Yogyakarta, Saksi Sejarah Islam Jawa Sejak 1773 yang Masih Berdiri Kokoh di Tengah Kota

Gita Dwi Nuraini • Selasa, 26 Mei 2026 | 15:04 WIB
Masjid Gede Kauman Yogyakarta jadi saksi sejarah Islam Jawa sejak 1773 dan masih menjadi pusat budaya serta wisata religi hingga kini.(Gemini AI)
Masjid Gede Kauman Yogyakarta jadi saksi sejarah Islam Jawa sejak 1773 dan masih menjadi pusat budaya serta wisata religi hingga kini.(Gemini AI)

 

TRENGGALEK NJENGGALEK - Masjid Gede Kauman menjadi salah satu masjid bersejarah paling penting di Pulau Jawa. Dibangun pada 29 Mei 1773 atas prakarsa Sri Sultan Hamengkubuwono I, masjid ini bukan hanya pusat ibadah umat Islam, tetapi juga simbol perpaduan budaya Jawa dan nilai-nilai Islam yang masih terjaga hingga sekarang.

Keberadaan Masjid Gede Kauman yang terletak di sebelah barat Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta membuatnya dikenal sebagai pusat kegiatan religius sekaligus bagian penting dari tata ruang Kesultanan Yogyakarta. Hingga kini, masjid tersebut tetap ramai digunakan untuk ibadah, pengajian, hingga tradisi budaya Islam Jawa seperti Sekaten dan Garebeg.

Sebagai salah satu ikon wisata religi di Yogyakarta, Masjid Gede Kauman juga menyimpan sejarah panjang perkembangan Islam di tanah Jawa yang terus menarik perhatian wisatawan dan peziarah dari berbagai daerah.

Baca Juga: Potensi PAD Bocor Akibat Reklame Liar

Arsitektur Masjid Gede Kauman Jadi Simbol Perpaduan Islam dan Budaya Jawa

Masjid Gede Kauman memiliki ciri khas arsitektur Jawa klasik yang berbeda dari masjid modern berkubah. Bangunan utama menggunakan atap bertumpang tiga atau tajuk lambang teplok yang sarat makna filosofis.

Tiga tingkatan atap tersebut melambangkan tahapan spiritual dalam Islam, yakni syariat, tarekat, dan makrifat. Selain itu, bentuk atap yang menyatu pada satu titik juga dimaknai sebagai simbol keesaan Allah SWT.

Bangunan masjid dirancang oleh Kiai Wiroyo Kusumo, sementara penghulu pertama yang memimpin kegiatan ibadah adalah Kiai Fakih Ibrahim Diponingrat. Struktur utama masjid menggunakan kayu jati berkualitas tinggi atau saka guru yang terkenal kuat dan tahan lama.

Keunikan arsitektur tradisional inilah yang membuat Masjid Gede Kauman tetap menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan religi paling terkenal di Yogyakarta. Hingga lebih dari dua abad berdiri, karakter asli bangunan masih dipertahankan meski telah beberapa kali mengalami renovasi.

Baca Juga: Longsor Susulan Mengancam KM 16, Kondisi Tebing Belum Stabil Terapkan Sistem Buka Tutup

Masjid Gede Kauman Pernah Jadi Pusat Pengadilan Agama dan Dakwah Islam

Pada masa awal Kesultanan Yogyakarta, fungsi Masjid Gede Kauman tidak hanya sebagai tempat salat. Masjid ini juga menjadi pusat pengadilan agama, tempat musyawarah ulama, hingga lokasi penyelenggaraan dakwah Islam dan kegiatan sosial masyarakat.

Serambi masjid yang dibangun dua tahun setelah pendirian awal difungsikan sebagai almukamah alkabirah atau pengadilan besar urusan agama dan masyarakat. Di area kompleks masjid juga terdapat pagongan, bangunan penyimpanan gamelan yang digunakan saat tradisi Sekaten berlangsung.

Tradisi Sekaten sendiri menjadi salah satu warisan budaya Islam Jawa yang masih bertahan hingga kini. Dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut, Masjid Gede Kauman menjadi pusat berkumpulnya masyarakat dan jemaah dari berbagai daerah.

Pada akhir abad ke-19, bangunan masjid sempat mengalami kerusakan akibat gempa bumi yang menghancurkan sebagian serambi dan gapura depan. Namun, Sri Sultan Hamengkubuwono VI kemudian memerintahkan pembangunan kembali dengan tetap mempertahankan bentuk arsitektur aslinya.

Baca Juga: Terminal Surondakan Jalani Perbaikan Fasilitas

Masjid Gede Kauman Tetap Jadi Ikon Wisata Religi dan Budaya Yogyakarta

Posisi Masjid Gede Kauman yang berada dekat Keraton Yogyakarta menunjukkan filosofi tata kota Jawa yang menempatkan agama, pemerintahan, dan ekonomi sebagai tiga unsur utama kehidupan masyarakat.

Hingga saat ini, masjid tersebut masih menjadi pusat kegiatan keagamaan besar seperti Syawalan, Garebeg, dan Sekaten. Ribuan masyarakat rutin memadati kawasan masjid saat perayaan berlangsung.

Masjid Gede Kauman juga menjadi bukti bagaimana Islam dapat berkembang harmonis dengan budaya lokal Jawa tanpa kehilangan nilai-nilai utamanya. Hal itu terlihat dari bentuk bangunan, tradisi, hingga aktivitas sosial yang tetap berjalan selama ratusan tahun.

Selain menjadi tempat ibadah, kawasan Kauman kini berkembang sebagai destinasi wisata religi dan edukasi sejarah yang banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Keberadaan masjid ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga warisan budaya Islam Nusantara untuk generasi mendatang.

Lebih dari sekadar bangunan tua, Masjid Gede Kauman adalah simbol perjalanan panjang Islam di Yogyakarta yang tetap hidup di tengah perkembangan zaman modern.

Editor : Gita Dwi Nuraini
#sejarah Islam Jawa #Masjid Gede Kauman #Masjid Kauman Yogyakarta #wisata religi Yogyakarta #keraton yogyakarta