TRENGGALEK NJENGGALEK - Masjid Agung Demak menjadi salah satu simbol paling penting dalam sejarah Islam di Indonesia. Berdiri sejak abad ke-15, masjid peninggalan Wali Songo ini bukan hanya dikenal sebagai pusat dakwah Islam di tanah Jawa, tetapi juga menyimpan legenda tiang tatal Sunan Kalijaga yang hingga kini masih menarik perhatian wisatawan dan peziarah.
Masjid Agung Demak dibangun sekitar tahun 1479 Masehi pada masa Kesultanan Demak di bawah kepemimpinan Sultan Raden Patah. Bangunan berarsitektur khas Jawa dengan atap tumpang tiga tersebut menjadi saksi peralihan besar dari era Hindu-Buddha menuju berkembangnya Islam di Nusantara.
Selain menjadi tempat ibadah, Masjid Agung Demak juga dikenal sebagai pusat penyebaran ajaran Islam yang dilakukan para Wali Songo dengan pendekatan budaya dan tradisi lokal.
Baca Juga: Rekomendasi HP Compact Mantan Flagship Terbaik 2026, Performa Masih Buas Harga Kini Turun Drastis
Sejarah Masjid Agung Demak dan Peran Besar Wali Songo
Masjid Agung Demak berdiri di pusat Kesultanan Demak yang kala itu berkembang sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Pembangunannya melibatkan para Wali Songo, tokoh ulama yang memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Nusantara.
Nama-nama besar seperti Sunan Ampel, Sunan Bonang, hingga Sunan Kalijaga disebut ikut terlibat dalam pembangunan masjid tersebut. Raden Patah sebagai pendiri Kesultanan Demak menjadikan masjid ini sebagai pusat pemerintahan, pendidikan agama, sekaligus tempat berkumpulnya para ulama.
Menurut berbagai catatan sejarah dan tradisi lisan masyarakat setempat, Masjid Agung Demak dibangun menggunakan kayu jati pilihan dari hutan Jawa. Salah satu ciri khas bangunannya adalah atap tumpang tiga yang melambangkan hubungan manusia, alam, dan Tuhan.
Tak hanya itu, masjid ini juga menjadi pusat dakwah Islam dengan pendekatan budaya lokal. Para wali memanfaatkan wayang kulit, gamelan, hingga tembang Jawa untuk menyampaikan ajaran agama kepada masyarakat.
“Islam bukan hanya ajaran, tetapi juga cara hidup yang diterima dengan kelembutan dan kebijaksanaan,” demikian narasi yang berkembang dalam sejarah dakwah Wali Songo di Demak.
Baca Juga: 8 HP Bekas Flagship Terbaik 2026, Performa Masih Gahar dan Kamera Kalahkan HP Mid Range Baru
Legenda Tiang Tatal Sunan Kalijaga yang Masih Dipercaya
Salah satu bagian paling terkenal dari Masjid Agung Demak adalah keberadaan saka tatal atau tiang tatal yang dikaitkan dengan Sunan Kalijaga. Tiang tersebut dipercaya dibuat dari potongan-potongan kayu kecil yang disusun menjadi satu penyangga utama masjid.
Legenda itu bermula ketika pembangunan empat saka guru atau tiang utama masjid mengalami kendala karena kekurangan kayu besar. Sunan Kalijaga kemudian mengumpulkan serpihan kayu sisa dan menyusunnya menjadi tiang kokoh.
Cerita tersebut hingga kini masih dipercaya masyarakat sebagai simbol persatuan dan kekuatan spiritual. Banyak peziarah yang datang ke Masjid Agung Demak untuk melihat langsung tiang tatal yang dianggap memiliki nilai historis dan filosofi mendalam.
Sunan Kalijaga disebut pernah mengatakan bahwa sesuatu yang kecil akan menjadi kuat apabila dipersatukan dengan niat yang tulus. Filosofi tersebut masih melekat kuat dalam tradisi masyarakat Jawa hingga sekarang.
Selain tiang tatal, Masjid Agung Demak juga memiliki pintu bledeg yang sarat cerita mistis. Pintu utama masjid itu dipercaya terbuat dari kayu yang pernah tersambar petir dan dianggap sebagai simbol perlindungan spiritual.
Di bagian dalam masjid terdapat mihrab tua yang masih dipertahankan keasliannya sejak masa awal Kesultanan Demak. Mihrab tersebut menjadi salah satu peninggalan penting yang menunjukkan sejarah panjang perkembangan Islam di Jawa.
Baca Juga: Jumlah Perangkat Pengaruhi Pelayanan Desa
Masjid Agung Demak Kini Jadi Wisata Religi dan Warisan Budaya
Hingga saat ini, Masjid Agung Demak tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan dan wisata religi di Jawa Tengah. Ribuan pengunjung datang setiap tahun untuk beribadah, mengikuti haul para wali, hingga mempelajari sejarah Islam Nusantara.
Tradisi seperti Maulid Nabi, pengajian, dan doa bersama masih rutin digelar di kawasan masjid. Aktivitas tersebut membuat Masjid Agung Demak tetap hidup sebagai warisan budaya Islam Jawa yang terus dijaga masyarakat.
Keunikan arsitektur dan nilai sejarahnya membuat masjid ini menjadi salah satu destinasi religi paling terkenal di Indonesia. Banyak wisatawan tertarik mempelajari perpaduan budaya Jawa dan Islam yang terlihat dari desain bangunan hingga tradisi yang masih berlangsung.
Di tengah perkembangan zaman modern, Masjid Agung Demak tetap menjadi simbol toleransi, dakwah damai, dan kekuatan budaya lokal. Warisan Wali Songo yang tertanam di masjid ini dinilai masih relevan sebagai pengingat pentingnya harmoni antara agama dan tradisi.
Masjid Agung Demak pun tidak sekadar menjadi bangunan tua bersejarah, tetapi juga lambang perjalanan panjang Islam di Nusantara yang terus hidup hingga generasi sekarang.
Editor : Gita Dwi Nuraini