TRENGGALEK NJENGGALEK - Masjid Almustahal di Dusun Tawangsari, Kelurahan Paju, Kecamatan Ponorogo, Jawa Timur, menjadi salah satu masjid bersejarah yang menyimpan kisah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Berdiri sejak tahun 1746, Masjid Almustahal Ponorogo pernah menjadi basis gerilya pejuang saat agresi militer Belanda dan saksi gugurnya tokoh pejuang Kiai Sholihin serta Nasrun.
Masjid tua yang berada di lingkungan pedesaan itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat dakwah, pendidikan Islam, dan markas perjuangan rakyat melawan penjajah. Hingga kini, sejarah panjang masjid tersebut masih terus dijaga oleh masyarakat setempat melalui berbagai kegiatan keagamaan dan tradisi mengenang para pahlawan.
Keberadaan Masjid Almustahal Ponorogo juga menjadi simbol kuat bagaimana masjid memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Islam dan perjuangan bangsa di Jawa Timur.
Baca Juga: Rekomendasi HP Compact Mantan Flagship Terbaik 2026, Performa Masih Buas Harga Kini Turun Drastis
Masjid Almustahal Ponorogo Berdiri Sejak 1746 dan Jadi Pusat Dakwah Islam
Masjid Almustahal didirikan oleh Kiai Mustahal, putra dari Mbah Kiai Muhammad Daim. Berdasarkan dokumen tulisan tangan tahun 1975 yang disampaikan narasumber dalam video, masjid tersebut pertama kali dibangun pada 1746 Masehi di kawasan Tawangsari, Paju, Ponorogo.
Awalnya, bangunan masjid hanya berupa konstruksi sederhana berbahan kayu dan beratap alang-alang. Seiring perkembangan zaman, masjid beberapa kali mengalami renovasi akibat kebakaran hingga akhirnya dibangun menggunakan kayu jati dan atap genting pada periode 1928 sampai 1942.
Selain menjadi pusat ibadah masyarakat, Masjid Almustahal juga berkembang sebagai pusat pendidikan agama Islam. Di kompleks masjid terdapat Madrasah Diniah Almustahal yang digunakan anak-anak dan santri untuk belajar ilmu agama setiap hari setelah salat magrib hingga isya.
Lingkungan masjid masih mempertahankan nuansa khas pedesaan Ponorogo. Di sekitar area masjid terdapat rumah kiai, lahan persawahan, serta makam para tokoh pendiri dan pejuang, termasuk makam Kiai Sholihin yang dikenal sebagai salah satu pejuang kemerdekaan dari wilayah tersebut.
Baca Juga: 8 HP Bekas Flagship Terbaik 2026, Performa Masih Gahar dan Kamera Kalahkan HP Mid Range Baru
Jadi Basis Gerilya Saat Agresi Militer Belanda, Kiai Sholihin Gugur di Area Masjid
Sejarah paling penting dari Masjid Almustahal Ponorogo terjadi saat agresi militer Belanda pada sekitar tahun 1950. Masjid ini menjadi basis perjuangan kelompok gerilya Kompi Seno yang dipimpin Kiai Sholihin dan Nasrun.
Kedua tokoh tersebut dikenal aktif melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda di wilayah Ponorogo. Keberadaan markas gerilya di Tawangsari membuat kawasan tersebut menjadi target operasi besar-besaran Belanda.
Dalam penyerangan itu, Belanda melakukan agresi darat dan udara untuk melumpuhkan basis perjuangan rakyat. Banyak korban berjatuhan dan wilayah Tawangsari mengalami kerusakan cukup parah akibat serangan tersebut.
Demi meminimalkan korban masyarakat sipil, Kiai Sholihin dan Nasrun akhirnya menyerahkan diri bersama lima rekannya. Namun nasib tragis menimpa keduanya.
Kiai Sholihin disebut ditembak saat hendak menabuh beduk salat Jumat sambil memegang Alquran. Setelah itu, ia kembali disiksa di serambi dan halaman masjid sebelum akhirnya dieksekusi hingga gugur sebagai pejuang kemerdekaan.
Sementara Nasrun dikisahkan meninggal setelah tangan dan kakinya diikat lalu dilempar ke sungai oleh pasukan Belanda. Kedua tokoh tersebut kini dimakamkan di belakang kompleks Masjid Almustahal Tawangsari.
Baca Juga: Jumlah Perangkat Pengaruhi Pelayanan Desa
Tradisi Mengenang Pahlawan dan Peran Generasi Muda Terus Dijaga
Hingga sekarang, masyarakat sekitar masih menjaga tradisi mengenang perjuangan para tokoh Masjid Almustahal Ponorogo. Setiap tanggal 18 Agustus, warga rutin menggelar upacara tabur bunga di makam para pejuang.
Kegiatan itu diikuti jemaah masjid, pelajar, remaja masjid, hingga masyarakat Kelurahan Paju. Selain itu, malam 17 Agustus juga diisi dengan kegiatan sujud syukur sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para pahlawan.
Aktivitas keagamaan di Masjid Almustahal juga tetap berjalan aktif. Mulai dari salat berjamaah lima waktu, zikir malam Jumat, kegiatan Remaja Islam Masjid Almustahal (Risma), hingga pengajian Al-Qur'an untuk anak-anak selama Ramadan.
Pengurus masjid berharap generasi muda tidak hanya mengenal masjid sebagai tempat ibadah, tetapi juga memahami sejarah perjuangan dan nilai dakwah yang diwariskan para pendahulu.
Masjid Almustahal Ponorogo kini tidak sekadar menjadi bangunan tua bersejarah. Lebih dari itu, masjid ini menjadi simbol perjuangan, pendidikan Islam, dan keteguhan masyarakat dalam menjaga warisan sejarah agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Editor : Gita Dwi Nuraini