TRENGGALEK NJENGGALEK - Masjid Ghamamah di Madinah menjadi salah satu masjid bersejarah yang banyak dikunjungi jemaah umrah karena diyakini sebagai lokasi Rasulullah SAW melaksanakan salat Idul Fitri, Idul Adha, hingga salat istisqa atau salat meminta hujan. Masjid yang berada dekat Masjid Nabawi itu disebut dibangun pada masa Kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz dari Dinasti Bani Umayyah.
Keberadaan Masjid Ghamamah tidak hanya menjadi simbol sejarah Islam di Madinah, tetapi juga bagian penting dari jejak dakwah Rasulullah SAW. Lokasi masjid ini berada di kawasan Manakhah, area lapang yang pada masa Nabi Muhammad SAW digunakan untuk kegiatan ibadah bersama para sahabat.
Dalam video dokumentasi perjalanan umrah yang diunggah di YouTube, dijelaskan bahwa Masjid Ghamamah menjadi salah satu situs napak tilas penting bagi umat Islam yang datang ke Madinah.
Masjid Ghamamah Jadi Tempat Rasulullah SAW Salat Id dan Istisqa
Pemandu dalam video tersebut menjelaskan bahwa Masjid Ghamamah berkaitan erat dengan pelaksanaan salat Id dan salat istisqa yang dipimpin langsung Rasulullah SAW.
“Rasulullah SAW mengerjakan salat Idul Fitri, Idul Adha, dan salat istisqa di area Manakhah ini,” ujar narator dalam video.
Nama Ghamamah sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti awan atau mendung. Penamaan itu dikaitkan dengan peristiwa saat Rasulullah SAW memimpin salat istisqa dan kemudian awan datang menaungi kawasan tersebut sebelum hujan turun di Madinah.
Area Manakhah pada masa Rasulullah SAW dikenal sebagai lapangan terbuka di luar kawasan utama Masjid Nabawi. Di lokasi inilah kemudian dibangun beberapa masjid bersejarah oleh Dinasti Bani Umayyah pada masa Umar bin Abdul Aziz sebagai penanda jejak ibadah Rasulullah SAW.
Selain Masjid Ghamamah, kawasan tersebut juga memiliki Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Masjid Ali yang sama-sama berkaitan dengan sejarah perjalanan dakwah Islam di Madinah.
Baca Juga: Lama Rusak, Fasilitas Terminal Mulai Diperbaiki
Dibangun Dinasti Umayyah untuk Napak Tilas Sejarah Islam
Masjid Ghamamah disebut mulai dibangun pada era Kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz. Pembangunan itu bertujuan menjaga jejak sejarah lokasi-lokasi yang pernah digunakan Rasulullah SAW untuk beribadah.
“Kalau di Madinah, tempat-tempat yang pernah digunakan Rasulullah biasanya dibuatkan masjid sebagai pengingat sejarah,” jelas pemandu dalam tayangan tersebut.
Masjid ini memiliki ciri khas berupa satu menara dan lima kubah. Bentuk tersebut menjadi simbol bahwa bangunan itu dulunya merupakan musala atau tempat salat terbuka yang digunakan masyarakat pada masa Rasulullah SAW.
Sementara itu, Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq yang berada tidak jauh dari Masjid Ghamamah juga dibangun untuk mengenang lokasi Abu Bakar melaksanakan salat Id setelah wafatnya Rasulullah SAW.
Sedangkan Masjid Ali saat ini disebut sedang mengalami pembatasan akses. Dalam video dijelaskan bahwa area tersebut diperketat demi alasan keamanan dan menghindari penyalahgunaan oleh kelompok tertentu yang mengkultuskan Sayyidina Ali secara berlebihan.
Baca Juga: Rekomendasi HP Flagship Terbaik 2026, Xiaomi 15 hingga Galaxy S25 Ultra Jadi Pilihan Paling Worth It
Jadi Destinasi Favorit Jemaah Umrah di Madinah
Masjid Ghamamah kini menjadi salah satu destinasi wisata religi favorit bagi jemaah umrah dan haji. Lokasinya yang dekat dengan Masjid Nabawi membuat banyak jemaah menyempatkan diri mengunjungi kawasan tersebut selepas salat berjamaah.
Suasana di sekitar masjid terlihat ramai oleh jemaah dari berbagai negara yang melakukan ziarah sejarah Islam. Banyak di antaranya datang untuk mendengarkan kisah perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam menyebarkan Islam di Madinah.
Selain nilai sejarahnya, Masjid Ghamamah juga menjadi simbol penting tentang tradisi menjaga jejak peradaban Islam melalui bangunan-bangunan bersejarah. Keberadaan masjid ini menunjukkan bagaimana Madinah tetap mempertahankan situs-situs penting yang berkaitan langsung dengan perjalanan hidup Rasulullah SAW.
Bagi jemaah, mengunjungi Masjid Ghamamah bukan hanya perjalanan wisata religi, tetapi juga sarana memperdalam pemahaman sejarah Islam dan mengenang perjuangan dakwah Rasulullah SAW di Kota Madinah.
Editor : Gita Dwi Nuraini