Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Sejarah Masjid Istiqlal: Dari Ide Soekarno hingga Jadi Masjid Terbesar Asia Tenggara, Ini Fakta Uniknya

Axsha Zazhika • Selasa, 26 Mei 2026 | 17:00 WIB
Sejarah Masjid Istiqlal: Dari Ide Soekarno hingga Jadi Masjid Terbesar Asia Tenggara, Ini Fakta Uniknya (Pinterest)
Sejarah Masjid Istiqlal: Dari Ide Soekarno hingga Jadi Masjid Terbesar Asia Tenggara, Ini Fakta Uniknya (Pinterest)

 

JAKARTA - Sejarah Masjid Istiqlal menjadi bukti kuat simbol kemerdekaan Indonesia yang diwujudkan dalam bangunan megah berkapasitas hingga 200.000 jemaah. Masjid terbesar di Asia Tenggara ini lahir dari gagasan para tokoh bangsa sejak awal 1950-an dan melalui perjalanan panjang penuh tantangan sebelum akhirnya diresmikan pada 1978.

Masjid Istiqlal bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga simbol nasionalisme dan persatuan. Sejak awal, pembangunan Masjid Istiqlal dirancang untuk merepresentasikan semangat kemerdekaan Indonesia yang baru saja diraih pada 1945. Nama “Istiqlal” sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti kemerdekaan.

Gagasan pembangunan Masjid Istiqlal muncul dalam pertemuan tokoh-tokoh Muslim di Jakarta pada awal 1950-an. Pertemuan tersebut dihadiri lebih dari 200 tokoh, termasuk K.H. Wahid Hasyim dan Haji Agus Salim, yang sepakat membangun masjid nasional di ibu kota.

Baca Juga: Masjid Ghamamah di Madinah, Saksi Rasulullah SAW Salat Id dan Istisqa yang Dibangun Era Umar bin Abdul Aziz

Awal Mula Pembangunan Masjid Istiqlal dan Peran Soekarno

Sejarah Masjid Istiqlal dimulai secara resmi pada 7 Desember 1954 dengan berdirinya Yayasan Masjid Istiqlal. Haji Anwar Tjokroaminoto ditunjuk sebagai ketua yayasan, sementara Presiden Soekarno berperan langsung sebagai pengarah pembangunan.

Pada 24 Agustus 1961, Soekarno melakukan peletakan batu pertama pembangunan masjid. Menariknya, lokasi pembangunan sempat menjadi perdebatan antara Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Hatta mengusulkan kawasan Thamrin, sementara Soekarno memilih bekas Benteng Frederik Hendrik di dekat Gereja Katedral.

“Soekarno ingin menunjukkan simbol toleransi antarumat beragama dengan membangun masjid berdampingan dengan gereja,” demikian catatan sejarah yang berkembang.

Baca Juga: Sejarah Masjid Gomamah di Madinah, Tempat Rasulullah Salat Id dan Salat Minta Hujan yang Penuh Jejak Bersejarah

Keputusan tersebut akhirnya diambil Soekarno, sekaligus menegaskan pesan kuat tentang kerukunan di Indonesia. Lokasi itu hingga kini menjadi salah satu simbol harmoni lintas agama di ibu kota.

Proses Panjang dan Tantangan Pembangunan

Perjalanan pembangunan Masjid Istiqlal tidak berjalan mulus. Setelah dimulai pada 1961, proyek ini sempat terhenti akibat krisis ekonomi dan situasi politik nasional, termasuk peristiwa G30S tahun 1965.

Pada 1966, pembangunan berhenti total sebelum akhirnya dilanjutkan kembali pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Proyek ini memakan waktu sekitar 17 tahun hingga rampung.

Baca Juga: Masjid Ghamamah Madinah, Tempat Rasulullah Salat Istisqa hingga Turun Hujan di Dekat Masjid Nabawi

Masjid Istiqlal akhirnya diresmikan pada 22 Februari 1978. Total biaya pembangunan mencapai sekitar Rp7 miliar dan 12 juta dolar AS, angka yang sangat besar pada masa itu.

Secara fisik, masjid ini berdiri di atas lahan sekitar 9,3 hektare. Bangunan utamanya memiliki lima lantai yang melambangkan rukun Islam. Selain itu, terdapat 12 pilar utama yang merepresentasikan tanggal kelahiran Nabi Muhammad pada 12 Rabiul Awal.

Menara masjid setinggi 6.666 cm juga memiliki makna simbolis, yakni jumlah ayat dalam Al-Qur’an. Detail arsitektur ini menunjukkan bahwa setiap elemen Masjid Istiqlal dirancang penuh filosofi.

Baca Juga: Masjid Almustahal Ponorogo Jadi Saksi Perjuangan Kemerdekaan, Basis Gerilya Pejuang hingga Kiai Sholihin Gugur Ditembak Belanda

Simbol Kemerdekaan dan Ikon Nasional Indonesia

Sejarah Masjid Istiqlal tidak bisa dilepaskan dari makna simboliknya sebagai ikon nasional. Selain menjadi masjid terbesar di Asia Tenggara, kapasitasnya yang mencapai 200.000 jemaah menjadikannya salah satu yang terbesar di dunia.

Masjid ini juga menjadi pusat kegiatan keagamaan nasional, terutama saat Ramadan dan Idulfitri. Ribuan hingga ratusan ribu jemaah memadati area masjid setiap tahunnya.

Selain fungsi religius, Masjid Istiqlal juga berperan sebagai destinasi wisata religi. Banyak pengunjung dari luar daerah hingga mancanegara datang untuk melihat langsung kemegahan dan nilai sejarahnya.

Baca Juga: Masjid Pangeran Jayakarta, Jejak Penguasa Terakhir Jayakarta yang Masih Berdiri di Tengah Hiruk Pikuk Jakarta

“Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tapi simbol kebangkitan bangsa,” menjadi salah satu narasi kuat yang melekat dalam sejarahnya.

Keberadaan Masjid Istiqlal di pusat Jakarta juga mempertegas identitas Indonesia sebagai negara dengan mayoritas Muslim yang menjunjung tinggi toleransi.

Sejarah Masjid Istiqlal mencerminkan perjalanan panjang bangsa Indonesia dalam membangun identitas nasional berbasis kemerdekaan, keimanan, dan toleransi. Dari ide pada 1950 hingga diresmikan pada 1978, masjid ini menjadi bukti nyata bahwa bangunan bisa menjadi simbol kuat persatuan.

Dengan luas mencapai 9,3 hektare dan kapasitas hingga 200.000 jemaah, Masjid Istiqlal bukan hanya kebanggaan Indonesia, tetapi juga warisan sejarah yang terus hidup hingga kini.

Editor : Axsha Zazhika
#Sejarah Masjid Istiqlal #Masjid terbesar Asia Tenggara #simbol kemerdekaan Indonesia #arsitektur Masjid Istiqlal #masjid istiqlal jakarta