JAKARTA - Sejarah Masjid Istiqlal mencerminkan perjalanan panjang bangsa Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga menjadi simbol nasionalisme dan religiusitas. Masjid ini mulai dirancang pada 1950, sempat terhenti akibat krisis politik, dan akhirnya diresmikan pada 22 Februari 1978 sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara.
Sejarah Masjid Istiqlal tidak lepas dari peran tokoh-tokoh nasional seperti K.H. Wahid Hasyim dan Haji Anwar Cokroaminoto yang menggagas pembangunannya lima tahun setelah Indonesia merdeka. Nama “Istiqlal” yang berarti kemerdekaan menjadi penegasan bahwa masjid ini adalah simbol kebangkitan bangsa.
Sejarah Masjid Istiqlal juga menunjukkan bagaimana pembangunan sebuah rumah ibadah dapat menjadi representasi identitas negara. Dengan lokasi strategis di pusat Jakarta, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ikon nasional yang sarat makna.
Baca Juga: Masjid Ghamamah Madinah, Tempat Rasulullah Salat Istisqa hingga Turun Hujan di Dekat Masjid Nabawi
Gagasan Awal hingga Sayembara Desain
Gagasan pembangunan Masjid Istiqlal muncul pada tahun 1950, tepat lima tahun setelah Indonesia merdeka. Ide tersebut dicetuskan oleh K.H. Wahid Hasyim bersama sejumlah tokoh Islam lainnya sebagai upaya menghadirkan masjid negara.
Pada tahun 1955, pemerintah menggelar sayembara desain masjid. Sayembara ini diikuti banyak arsitek, dan akhirnya dimenangkan oleh Friedrich Silaban dengan karya berjudul “Ketuhanan”.
Menariknya, Silaban bukan seorang Muslim. Namun, kemampuannya dalam merancang bangunan monumental membuatnya dipercaya untuk mendesain masjid negara. Keputusan ini sekaligus menunjukkan semangat inklusivitas yang menjadi fondasi bangsa Indonesia.
“Masjid ini adalah lambang kemerdekaan,” menjadi konsep utama yang diusung dalam desain tersebut. Hal ini selaras dengan nama Istiqlal yang berarti merdeka.
Proses Pembangunan yang Penuh Tantangan
Pembangunan Masjid Istiqlal dimulai secara resmi pada tahun 1961 dengan penanaman tiang pancang pertama oleh Presiden Soekarno. Namun, proses pembangunan tidak berjalan mulus.
Pada pertengahan 1960-an, Indonesia mengalami krisis ekonomi dan gejolak politik, termasuk peristiwa Gerakan 30 September 1965. Kondisi tersebut menyebabkan pembangunan masjid sempat terhenti.
Proyek ini kemudian dilanjutkan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Setelah melalui proses panjang selama hampir dua dekade, Masjid Istiqlal akhirnya diresmikan pada 22 Februari 1978.
Total biaya pembangunan masjid ini mencapai sekitar Rp7 miliar dan 12 juta dolar Amerika Serikat. Angka tersebut tergolong besar pada masanya, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menghadirkan masjid negara yang monumental.
Arsitektur Megah dan Simbolik
Sejarah Masjid Istiqlal juga tercermin dari desain arsitekturnya yang sarat simbol. Masjid ini memiliki lima lantai yang melambangkan jumlah salat fardu dalam Islam.
Bangunan utama ditopang oleh 12 pilar besar yang merepresentasikan tanggal kelahiran Nabi Muhammad, yaitu 12 Rabiul Awal. Sementara itu, kubah utama menjadi ciri khas masjid yang dikenal dengan sebutan “Silaban Dome”.
Kubah ini bahkan diakui sebagai karya khas arsitek Friedrich Silaban. Selain itu, masjid juga dilengkapi dengan menara setinggi sekitar 66,6 meter dengan diameter 5 meter, yang menjadi elemen penting dalam tipologi masjid.
Secara keseluruhan, luas area Masjid Istiqlal mencapai sekitar 2,5 hektare. Terdiri dari bangunan utama, taman, area parkir, hingga teras raksasa seluas 19.800 meter persegi.
Dengan kapasitas besar dan desain terbuka, masjid ini mampu menampung puluhan ribu jemaah. Pada awal abad ke-21, Masjid Istiqlal bahkan tercatat sebagai masjid terbesar di kawasan Asia Tenggara.
“Masjid ini menjadi representasi nasionalisme Indonesia,” demikian disebutkan dalam narasi video tersebut.
Sebagai penutup, sejarah Masjid Istiqlal bukan sekadar kisah pembangunan sebuah tempat ibadah. Lebih dari itu, masjid ini menjadi simbol perjalanan bangsa Indonesia dalam menjaga persatuan, menghadapi tantangan, dan menegaskan identitas sebagai negara yang merdeka. Dengan segala nilai historis dan arsitekturalnya, Masjid Istiqlal tetap menjadi kebanggaan nasional hingga saat ini.
Editor : Axsha Zazhika