Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Makna Toleransi Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta: Dibangun Berseberangan, Ini Alasan Soekarno yang Mengejutkan

Axsha Zazhika • Selasa, 26 Mei 2026 | 17:12 WIB
Makna Toleransi Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta: Dibangun Berseberangan, Ini Alasan Soekarno yang Mengejutkan (Pinterest)
Makna Toleransi Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta: Dibangun Berseberangan, Ini Alasan Soekarno yang Mengejutkan (Pinterest)

 

JAKARTA - Makna toleransi Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta menjadi simbol nyata kerukunan umat beragama di Indonesia. Dibangun berseberangan atas inisiatif Presiden Soekarno, kedua rumah ibadah ini tidak hanya menunjukkan kedekatan fisik, tetapi juga pesan kuat tentang persatuan dalam keberagaman.

Makna toleransi Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta semakin relevan di tengah masyarakat majemuk. Keputusan membangun masjid terbesar di Asia Tenggara tepat di depan gereja bersejarah bukanlah kebetulan, melainkan strategi simbolik yang dirancang sejak awal kemerdekaan Indonesia.

Masjid Istiqlal sendiri berdiri megah di Jakarta Pusat, berdekatan dengan Monumen Nasional (Monas) dan Istana Negara. Sementara itu, Katedral Jakarta tetap menjadi pusat ibadah umat Katolik yang bersejarah. Kedua bangunan ini menjadi representasi nyata nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Masjid Ghamamah di Madinah, Saksi Rasulullah SAW Salat Id dan Istisqa yang Dibangun Era Umar bin Abdul Aziz

Dibangun Berseberangan untuk Simbol Persatuan

Pembangunan Masjid Istiqlal tidak bisa dilepaskan dari visi besar Presiden Soekarno. Ia sengaja memilih lokasi masjid yang berhadapan langsung dengan Katedral Jakarta sebagai simbol toleransi dan persatuan bangsa.

“Semangat persatuan tidak hanya tertulis dalam Pancasila, tetapi harus terlihat dalam kehidupan nyata,” menjadi pesan yang ingin ditunjukkan Soekarno melalui proyek ini.

Masjid Istiqlal mulai dibangun pada awal 1960-an dan dirancang sebagai masjid negara. Nama “Istiqlal” sendiri berarti kemerdekaan, mencerminkan semangat bangsa Indonesia yang baru merdeka saat itu.

Baca Juga: Sejarah Masjid Gomamah di Madinah, Tempat Rasulullah Salat Id dan Salat Minta Hujan yang Penuh Jejak Bersejarah

Tidak hanya itu, lokasi masjid juga berada dekat dengan Monas, simbol perjuangan nasional. Dengan posisi strategis ini, terbentuk satu garis imajiner yang menghubungkan nilai religius dan nasionalisme dalam satu kawasan.

Fenomena serupa juga dapat ditemukan di beberapa daerah lain di Indonesia. Di Malang, misalnya, terdapat Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel yang berdampingan dengan Masjid Agung Jami. Sementara di Bali, kawasan Puja Mandala menjadi contoh miniatur kerukunan karena terdapat lima rumah ibadah dari agama berbeda dalam satu area.

Arsitek Non-Muslim dan Simbol Keberagaman

Makna toleransi Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta juga tercermin dari sosok arsiteknya. Masjid Istiqlal dirancang oleh Friedrich Silaban, seorang arsitek beragama Kristen asal Sumatera Utara.

Baca Juga: Masjid Almustahal Ponorogo Jadi Saksi Perjuangan Kemerdekaan, Basis Gerilya Pejuang hingga Kiai Sholihin Gugur Ditembak Belanda

Silaban merupakan anak dari seorang pendeta dan menempuh pendidikan arsitektur di Belanda. Ia memenangkan sayembara desain Masjid Istiqlal yang diadakan pemerintah saat itu.

Fakta ini menunjukkan bahwa pembangunan masjid negara tidak dibatasi oleh latar belakang agama, melainkan didasarkan pada kompetensi dan visi kebangsaan.

“Ini adalah bukti bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan penghalang,” ujar narasi dalam video tersebut.

Selain itu, desain Masjid Istiqlal juga mencerminkan semangat modernitas dan persatuan. Bangunan ini mengusung gaya arsitektur internasional yang netral, sehingga dapat mewakili seluruh kelompok masyarakat Indonesia yang beragam.

Baca Juga: Masjid Al-Qurdi Brebes Berdiri Sejak 1917, Jadi Saksi Pondok Pesantren yang Dibakar Belanda

Praktik Nyata Toleransi dalam Kehidupan Sehari-hari

Tidak hanya simbolik, makna toleransi Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta juga terlihat dalam praktik sehari-hari. Salah satu contohnya adalah kerja sama kedua pengelola rumah ibadah dalam menyediakan lahan parkir saat perayaan hari besar keagamaan.

Ketika umat Muslim merayakan Idul Fitri, area parkir Katedral sering digunakan untuk menampung kendaraan jemaah. Sebaliknya, saat perayaan Natal, kawasan Masjid Istiqlal turut membantu menyediakan fasilitas bagi umat Kristiani.

Langkah ini menjadi contoh konkret bagaimana toleransi tidak hanya menjadi wacana, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata.

Baca Juga: Pernah Ramai, Wisata Banyu Nget Terbengkalai

Menurut data, Masjid Istiqlal mampu menampung lebih dari 100 ribu jemaah, sehingga membutuhkan dukungan fasilitas tambahan saat momen besar. Kolaborasi ini menjadi solusi sekaligus simbol persaudaraan lintas agama.

Presiden Soekarno sendiri pernah mengingatkan bahwa perpecahan akibat intoleransi pernah membuat bangsa Indonesia tertinggal. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga semangat keberagaman sebagai kunci kemajuan bangsa.

Sebagai penutup, makna toleransi Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta bukan sekadar konsep, melainkan warisan nilai dari para pendiri bangsa. Kedua bangunan ini menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun di atas keberagaman yang harus dijaga. “Pilihan ada di tangan kita, apakah ingin melanjutkan semangat persatuan itu atau tidak,” demikian pesan yang tersirat dari sejarah tersebut.

Editor : Axsha Zazhika
#Katedral Jakarta #toleransi Masjid Istiqlal #Soekarno dan Istiqlal #kerukunan umat beragama #simbol keberagaman Indonesia