JAKARTA - Masjid Bir Ali Madinah menjadi lokasi utama miqat bagi jamaah haji dan umrah dari arah Madinah menuju Mekkah. Tempat ini bukan sekadar persinggahan, tetapi memiliki sejarah panjang, asal-usul nama yang menarik, serta fakta unik tentang keberadaan sumur yang hingga kini masih menjadi perbincangan.
Masjid Bir Ali Madinah dikenal sebagai titik awal ihram atau miqat makani bagi jamaah. Dalam praktiknya, jamaah melakukan salat sunnah ihram dua rakaat sebelum melanjutkan perjalanan ke Masjidil Haram. Lokasi ini berada di kawasan Zulhulaifah, sekitar 11 kilometer dari Masjid Nabawi dan menjadi salah satu tempat penting dalam rangkaian ibadah haji dan umrah.
Masjid Bir Ali Madinah selalu dipadati jamaah dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Keberadaannya yang strategis menjadikannya tempat wajib singgah sebelum memasuki fase ibadah berikutnya di Tanah Suci.
Asal Usul Nama Masjid Bir Ali Madinah
Nama Masjid Bir Ali Madinah ternyata memiliki beberapa versi penjelasan. Dalam bahasa Arab, “bir” berarti sumur, sementara “Ali” sering dikaitkan dengan sosok Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
Namun, sejumlah ulama menyebutkan bahwa penamaan tersebut tidak sepenuhnya merujuk pada sahabat Nabi tersebut. Ada pendapat lain yang menyatakan nama “Ali” dinisbatkan kepada Sultan Ali bin Dinar, seorang raja dari Darfur, Sudan.
Menurut catatan sejarah, Sultan Ali bin Dinar pernah menunaikan ibadah haji pada tahun 1898 M atau sekitar 1315 Hijriah. Saat tiba di Zulhulaifah, ia melihat kondisi tempat miqat yang kurang memadai.
“Beliau kemudian berinisiatif memperbaiki fasilitas dan membuat sumur agar jamaah memiliki akses air,” demikian disebutkan dalam penjelasan ulama mazhab Hambali.
Dari sinilah muncul sebutan “Abyar Ali” atau banyaknya sumur milik Ali. Bahkan, disebutkan terdapat sekitar 13 sumur di kawasan tersebut, meskipun sebagian kini sudah tidak lagi terlihat atau tidak aktif.
Fungsi Miqat dan Peran Penting bagi Jamaah
Masjid Bir Ali Madinah memiliki fungsi utama sebagai tempat miqat makani. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas, Rasulullah SAW menetapkan Zulhulaifah sebagai batas miqat bagi penduduk Madinah dan jamaah dari arah tersebut.
Artinya, setiap jamaah wajib memulai niat ihram dari titik ini sebelum melanjutkan perjalanan ke Mekkah. Prosesnya meliputi mandi sunnah, mengenakan pakaian ihram, serta melaksanakan salat sunnah dua rakaat.
Setelah itu, jamaah membaca niat ihram dan talbiyah sebagai tanda dimulainya ibadah umrah atau haji.
“Miqat ini menjadi batas sakral yang tidak boleh dilampaui tanpa niat ihram,” demikian penjelasan yang umum disampaikan para pembimbing ibadah haji.
Selain fungsi religius, Masjid Bir Ali juga dikenal dengan fasilitas yang sangat lengkap. Dalam beberapa laporan, masjid ini memiliki ratusan toilet dan kamar mandi untuk menunjang kebutuhan jamaah yang jumlahnya bisa mencapai ribuan orang setiap hari, terutama saat musim haji dan Ramadan.
Sejarah dan Perkembangan Masjid Bir Ali
Masjid Bir Ali Madinah tidak hanya penting secara fungsi, tetapi juga memiliki nilai sejarah yang kuat sejak masa Rasulullah SAW. Lokasi ini dahulu dikenal sebagai Lembah Aqiq.
Di tempat ini pula, Rasulullah SAW pernah berteduh di bawah pohon sebelum melanjutkan perjalanan untuk umrah dan haji, termasuk pada peristiwa Umrah Qadha dan Haji Wada.
Seiring waktu, masjid ini mengalami berbagai renovasi. Salah satu pembaruan tercatat dilakukan pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz sekitar tahun 87–93 Hijriah.
Renovasi juga berlanjut pada masa Dinasti Utsmaniyah hingga era modern di bawah pemerintahan Arab Saudi. Kini, Masjid Bir Ali telah berkembang menjadi bangunan megah dengan area luas mencapai puluhan ribu meter persegi.
Baca Juga: Masjid Al-Qurdi Brebes Berdiri Sejak 1917, Jadi Saksi Pondok Pesantren yang Dibakar Belanda
Lingkungan masjid pun ditata dengan taman dan area parkir luas untuk menampung jamaah dalam jumlah besar. Hal ini menunjukkan bagaimana tempat miqat ini terus dijaga dan dikembangkan untuk kenyamanan umat Islam dari seluruh dunia.
Masjid Bir Ali Madinah bukan hanya titik awal ihram, tetapi juga simbol sejarah, pelayanan, dan perjalanan spiritual jamaah haji dan umrah. Dengan berbagai versi asal-usul nama, keberadaan 13 sumur, serta peran pentingnya sebagai miqat, tempat ini tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan ibadah umat Islam.
“Miqat bukan sekadar lokasi, tetapi awal dari niat suci menuju ibadah,” menjadi makna yang terus hidup di setiap langkah jamaah yang memulai perjalanan dari Masjid Bir Ali.
Editor : Axsha Zazhika